Disini kami belajar bermain blog
Senin, 04 Juni 2012
Kamis, 23 Februari 2012
Selasa, 21 Februari 2012
Kamis, 16 Februari 2012
Rabu, 15 Februari 2012
certe rakyat Belitung
Hikayat Keramat Gadong
Buding adalah
desa terdekat wilayah Kecamatan Kelapa Kampit,berjarak sekitar 44 kilometer
dari Tanjungpandan,ibu kota Kabupaten Belitung.Penduduk
desa ini memiliki legenda “ kebanggaan “, Keramat Gadong.
Kisah
ini terjadi jauh sebelum datang penjajah.Di saat jalan raya yang menghubungkan
Tanjungpandan – Manggar ( seperti sekarang ini ) belum ada.Saat sebagian besar
penduduk memilih tinggal di pedalaman untuk menghindarkan gangguan lanun yang
suka merampok,serta menculik wanita dan anak-anak.
Di
antara penduduk Belitung yang tinggal dii pedalaman tersebut terdapatlah satu
keluarga bermukim di sekitar daerah Buding mengarah ke Pering.Keluarga
ini mengandalkan hidup dari hasil ladang,hingga
mereka selalu berpindah-pindah mengikuti ladang yang di buka.Kepala keluarga itu
bernama Kuman Manor.Ia memiliki seorang istri yang sedang mengandung anak
keduanya dan seorang anak perempuan bernama Taila.
Hatta.Suatu
hari,saat sedang musim mengetam padi,kubok ( kumpulan rumah di tengah
perladangan / ume,red.) Kuman Manor di datangi serombongan lanun di
bawah pimpinan Panglima Usup.Mereka datang melalui Pantai Pering,bermaksud
merampok dan berbuat aoa saja yang menurut mereka baik.
Tapi
kedatangan kelompok lanun ini ke kubok Kuman Manor nampaknya tak sesuai
harapan semula.Mereka tidak bisa berbuat sekehendak hati terhadap penduduk di kubok
itu,karena Kuman Manor adalah orang yang tidak gampang di taklukkan.Hingga
terjadilah perang tanding mengandalkan pedang,tombak,keris,petumang,dan
lain-lain senjata antara para lanun pimpinan Panglima Usup melawan penduduk kubok
Kuman Manor.
Dalam
perang tanding itu satu demi satu lanun tewas di tangan Kuman Manor.Sedang dia
sendiri jangankan luka,tergorespun tidak.Perang tanding ini di akhiri dengan
menyerahnya Panglima Usup dalam kondisi sangat kritis dengan luka parah di
sekujur tubuh.Oleh Kuman Manor,Panglima Usup yang sudah menyerah dengan luka
parah itu bukan nya di bunuh,malah di bawanya kerumah untuk di obati.
Berhari-hari
setelah diobati Panglima Usup dan kebetulan yang sehari-harinya tinggal di
rumah Kuman Manor berangsur sembuh.Kebaikan keluarga ini rupanya telah membuat
hati Panglima Usup tergugah.Hingga ia kemudian menganggap Kuman Manor sebagai
orang tua sendiri.Sementara Kuman Manor yang belum memiliki anak laki-laki juga
tak keberatan mengangkatnya sebagai anaknya.
Sesudah
berbulan-bulan berdiam di rumah Kuman Manor,timbul keinginan Panglima Usup
untuk berlayar.Keinginan itu ia utarakan kepada ayah dan ibu angkatnya yang
kemudian tidak keberatan mengabulkan permintaan tersebut.Oleh ibu angkatnya
dimasaklah berbagai macam makanan untuk sangu ( bekal,red ) selama dalam
pelayaran.Keesokan harinya,diantara kedua orang tua angkatnya,Panglima Usup
berangkat dari Pantai Pering,Ia menggunakan perahu yang dulu di gunakan untuk
merompak,berangkat ke laut lepas menuju pulau Daek.
Selang
beberapa kemudian,Panglima Usup yang sudah mempunyai anak buah para lanun
lagi,datang menemui Kuman Manor.Bukan untuk merampok,melainkan bersilaturahmi
kepada orang tua angkatnya.Untuk kedua orang tua dan adik angkatnya Panglima
Usup membawa banyak sekali oleh-oleh ,hingga ia di sambut dengan penuh suka
cita oleh Kuman Manor.Setelah kedatangan itu,berulangkali Panglima Usup datang
dan pergi menemui kerluarga Kuman Manor.Dan setiap kali Panglima Usup datang
selalu disambut dengan makanan kesukaannya,kukus.
Alkisah,pada
suatu hari yang seharusnya menjadi waktu kedatangan Panglima Usup,ia tidak
datang.Hingga ibu angkatnya khawatir dan gelisah ,kalau-kalau terjadi sesuatu
dengannya.Berbeda dengan istrinya,Kuman Manor tak khawatir sedikitpun.Ia malah
berfikir suatu waktu Panglima Usup pasti akan datang kembali bukan untuk
bersilaturahmi,tetapi membalas dendam.Pikiran it uterus menerus berkecamuk di
hati Kuman Manor.
Merasa
waktu kedatangan sudah dekat,istri Kuman Manor menyiapkan berbagai makanan
untuk menyambut kedatangan Panglima Usup.Sementara itu Kuman Manor tidak mau
menyambut Panglima usup.Hingga membuat istrinya ,yang sedang bersusah payah
menyiapkan makanan,marah.Karena itulah,setelah berfikir sejenak,Kuman Manor
memutuskan akan berangkat besok pagi-pagi sebelum terbang lalat bersama
isrinya.Ia juga minta istrinya memasak nasi ketan.
Esok
harinya,setelah subuh,mereka berangkat.Namun,sepanjang perjalanan perasaan yang
mengganjal fikiran Kuman Manor terus berkecamuk,sehingga ia mengurungkan niat
melanjutkan sisa perjalanan.Mengingat pula ketika itu istrinya sedang hamil
tua.Beliau khawatir akan terjadi sesuatu yang tak beres.Namun,atas desakan
istrinya,walau berat hati,mereka tetap meneruskan perjalanan.
Singkat
cerita begitu Kuman Manor sampai di pinggir Pantai Pering,tampak perahu lanun
tengah berlayar mengarah ke pantai.Dugaan bahwa Panglima Usup yang dulu mengaku
sebagai anak angkatnya akan melakukan balas dendam nampaknya akan segera
terbukti.Dan hal betul-betul terbukti,ketika setelah dekat pantai perahu-perahu
lanun mengepung Kuman Manor dari segala penjuru.
Melihat
Kuman Manor sudah terkepung,Panglima Usup tak mau menyiakan kesempatan yang
telah lama ia rencanakan itu.Begitu Kuman Manor telah betul-betul terpojok,ia
langsung menyerang dari segala penjuru.Kuman Manor berusaha mempertahankan diri
dari serangan ganas para lanun tersebut.Tapi,walau ia seorang yang tangkas dan
sakti atau mungkin ajal sudah dekat,akhirnya tertangkap dan di bawa masuk ke
perahu.
Di
atas perahu itulah kelompok lanun mengeroyok Kuman Manor habis-habisan.Nah,dalam
pengeroyokan itu Kuman Manor meminta agar istrinya dibebaskan karena sedang
hamil tua.Perimintaan itu di turuti Panglima Usup.
Setelah
menurunkan istri Kuman Manor,tanpa perikemanusiaan Panglima Usup memotong leher
Kuman Manor hingga hampir putus.Setelah itu ia berteriak,” Mulai sekarang
habislah panglima daratan Pulau Belitung.” Sekejap kemudian ia pun melemparkan
Kuman Manor yang telah diikat dengan leher hampir putus ke laut.
Tapi,sebuah
keajaiban terjadi.Tubuh Kuman Manor yang telah terikat dengan leher hampir
putus terlihat menggeliat dan berteriak,” aku ndak mati,naikan agik aku ke
perahu.” Terkejut dengan teriakan itu,segera anak buah Panglima Usup
menaikan kembali tubuh Kuman Manor ke atas perahu.Sesampai di atas perahu
Panglima Usup langsung menebas perut Kuman Manor hingga isi perutnya terburai
keluar.Setelah itu,kembali Panglima Usup melemparkan tubuh Kuman Manor ke laut.
Dan,untuk
yang kedua kalinya,keajaiban terjadi.Tubuh Kuman Manor kembali menggelepar dan
berteriak.” Aku ndak mati.Tapi mun benar mikak nak muno aku,naikan aku ke
perahu,lalu mikak cabut kuku induk jari kaki kanan aku.”
Oleh
para lanun,Kuman Manor segera dinaikan lagi ke perahu dan langsung mencabut
kuku induk jari kaki kanan nya.Setelah memastikan Kuman Manor betul-betul
tewas,mayatnya di lemparkan kembali ke laut.Setelah itulah baru mayat Kuman
Manor terkubur di laut.
Tak
lama berselang setelah Kuman Manor terbunuh,istrinya melahirkan anak
keduanya,seorang bayi laki-laki,yang kemudian hari di kenal sebagai Keramat Gadong.
Berselang
15 tahun,Keramat Gadong tumbuh besar dan mulai tahu tentang arti
ayah-ibu.Karena tak pernah bertemu,ia pun bertanya hal ihwal ayahnya.Oleh
ibunya ia selalu mendapatkan jawaban kurang jelas.Setelah dewasa,bahkan ibunya
tak juga memberikan jawaban pasti mengenai keberadaan ayahnya.
Penasaran
dengan keberadaan sang ayah,Keramat Gadong pun lalu bertanya kepada
Makciknya,Yak Linong.
“
Kemane la Bapak aku ne Cik,kiape bentuk badan belau to,” Tanya Keramat
Gadong.
Yak
Linong menjawab,” Bapak kau to gede badannye,tapi belau la mati debuno Panglima
Usup,urang Daek.”
“
Aku nak beliaten ken Bapak,” Lanjut Keramat Gadong.
“
Kiape kau nak beliaten ken belau,kaluk la mati,” Jawab Yak Linong.
“
Tapi,aku nak beliaten,suat munggak’e “ Desak Keramat Gadong lagi.
Di
desak demikian,Yak Linong pun menjawab seadanya,” Mun kau nak beliaten kan
Bapak kau,kau harus betarak antare Aik Buding kan Aik Linggang.Lalu kau harus
mawak sangu tujo ikok ketupat.”
Setelah
mendapat keterangan Yak Linong,esok harinya Keramat Gadong meminta ibunya
menyiapkan tujuh ketupat untuk sangu.
Di
malam pertama betarak, Keramat Gadong makan satu ketupat,tapi ia belum juga
bertemu ayahnya.Begitu juga dengan ketupat kedua,ketiga hingga keenam.
Pada
malam ketujuh,ketupat terakhir ia makan.Begitu ketupatnya habis,ia memohon
kepada yang Kuasa agar dapat bertemu roh ayahnya.Setelah beberapa waktu
tepekur,ia pun tertidur nyenyak.Dalam tidur itu lah ia bermimpi bertemu arwah
ayahnya sambil berujar , “ Kau ndak akan betemu ken aku,karene aku la de alam
lain.Tapi,ape kehendak kau akan ku kabulkan.”
Dalam
mimpi itu,Keramat Gadong tidak meminta apa-apa dari roh ayahnya,kecuali mau
menuntut balas atas kematiannya.Karena itu roh ayahnya langsung berujar,” Baikla
mun kitu se,karene aku di alam lain,kau de alam lain,mun kau nak ngelanggar
tana Daek,sape la aku.Sebab aku duluk e mati de tangan Panglima Usup urang Daek.”
Setelah
itu Keramat Gadong bersumpah,”Setiap keturunan Keramat Gadong dak kuang
bekawan kan urang Daek.Karene mun bekawan,kawan itu la nok kan ngembuno kamek.”
Keramat Gadong juga berpesan kepada anak cucu nya kelak,” Mun keturunan
aku ade ape-ape umpamenye kesusahan dan sebagainye,tunu kemenyan,panggil name
aku,pasti aku datang.”
Begitu
kisah pertemuan Keramat Gadong dengan roh ayahnya.Setelah pertemuan itu,
Keramat Gadong tinggal berpindah-pindah di hutan antara Buding –
Penirukan.Sehari-hari ia berladang sambil menyebarkan agama Islam.Dalam
syiarnya, Keramat Gadong memiliki bekal kesaktian di cincang tak mempan,di
rendam tidak mati dan di baker tidak di makan api serta berani menghadapi
tantangan selalu menggunakan senjata andalan.Di antaranya tombak,pedang,dan dua
buah petunangan.Sementara kakaknya,Taila berkeluarga dengan orang Langkang,yang
kemudian di temukan penginggalan Keramat Gadong.
Hingga
tahun 1986-an senjata penginggalan Keramat Gadong masih di pelihara keturunan
nya,Pak Kadir,berupa tirok dan sebuah pedang.Benda penginggalan tersebut,oleh
Belanda pernah di minta disimpan di Museum Tanjungpandan ( Belitung
).Tapi,benda-benda itu tak lama di simpan di Museum,sebab tak boleh di bawa
kemana-mana,ia harus dipelihara oleh keturunan nya.Benda warisan itu masih
mempunyai kekuatan magis,semisal untuk tangkal dan pengobatan.
Tentang
akhir riwayat Keramat Gadong,beliau menginggal dunia tidak terkubur dan raib
menjelang subuh.
Pada
malam beliau raib, Keramat Gadong mengumplkan semua anak cucunya di kubok
di tengah ume.Kira-kira menjelang Subuh,salah satu cucunya mengingatkan,” Be
kakik tek ngape lum debangunek,arine la siang,la kan subo.” Karena waktu
subuh sudah masuk,cucunya menyibakan kelambu tempat Keramat Gadong tidur
sendiri,tanpa di temani istrinya.Tapi apa yang di temukan kemudian,hanya sebuah
bantal guling yang di tutupi kain.Setelah kain penutup di buka,ternyata Keramat
Gadong tak ada di dalam.Ia raib,hingga yang di kuburkan oleh keluarganya
hanyalah bantal guling yang di temukan di dalam kelambu.
Kuburan
bantal guling itu sendiri terletak di Pering,yang kemudian menjadi tempat orang
bernazar.
Semasa
hidupnya,beliau pernah menanam racun di Aik Tembako,yang terletak kea rah
menuju Laut Sandong.Aik Tembako ini ketika sedang musim kemarau tidak boleh di
ambil,karena mengandung racun yang memabukan.Konon,racun itu di tanam beliau
sebagai salah satu strategi untuk mematikan para lanun yang suka mengambil air
di tempat tersebut.Hingga begitu para lanun itu meminum air tersebut,maka akan
matilah mereka.
**~~~**
**
Sebagaimana informasi pada cerita di atas,bahwa makam Keramat Gadong berada di
sekitar Pering. Dan menurut informasi dari salah satu sumber yang di temui crew
jelajahbelitung, keberadaan makam Keramat Gadong memang berada di sekitar Laut
Pering dan Desa Penirukan.Mungkin pada lain kesempatan kami akan menelusuri
lokasi tersebut,dan mengambil data gambar makam Keramat Gadong untuk menambah
bukti kan sejarah tersebut.
Sumber
Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib
Riwayat Putri Nurjanu / Nibong Belegong
Beberapa ratus tahun lalu,di kampong Aik Kelekak
Nangkak ( sekarang Dusun Dudat ),tinggalah seorang ibu tua bernama Dayang
Samak bersama anaknya-anaknya.Di rumah itu juga tinggal seorang gadis dari
seberang bernama Nurjanu.
Gadis ini konon dikabarkan berparas
sempurna.Berkulit bening,laksana kaca.Hingga dilukiskan jika ia minum,air yang
ia minum itu bisa terlihat ketika lewat di kerongkongan nya.Rambut panjangnya
di lukiskan : bila di bersihkan perlu tujuh ramunan ( bahasa local
berate kayu penjemur pakaian ,red ) untuk menjemur.Hebat nian
bunga Aik Kelekak Nangka ini.
Penduduk Aik Kelekak Nangkak sendiri hanya
berjumlah seratus bubungan rumah atau seratus kepala keluarga.Selain
berladang,kehidupan mereka sehari-hari bergantung pada mencari pekarangan untuk
di buat pekasam.Kendati jarak kelekak ini cukup jauh dari laut,tak menyurutkan
mereka untuk pergi dan pulang ke tempat kerjanya dengan teratur.
Begitulah kehidupan sehari-hari penduduk kelekak
ini.Begitu pula kehidupan Dayang Samak.Namun kerja Putri Nurjanu seharian hanya
bersolek.Hal tersebut merupakan kehendak Dayang Samak yang takut kalau kulit
dan kecantikan Nurjanu akan jadi rusak kalau ikut kerja.
Dalam keseharian Nurjanu memiliki teman bicara bernama Bujang
Dultalip.Dengan pemuda inilah seharian di bicara apa saja.Sementara penduduk
kelekak yang menyaksikan kelakuan Nurjanu dan Dultalip tak sedikit pun merasa
jengah.Mereka malah bangga,karena dengan adanya Nurjanu,kelekak mereka jadi
terkenal ke wilayah sekitar,hingga banyak orang yang singgah sekedar ingin
melihat.
Penduduk yang hidup mengandlkan pekarangan dari
hari ke hari kehidupan nya makin membaik.Sementara yang berladang pun panen
padinya makin melimpah.Hingga Dayang Samak merasa perlu untuk merayakan
nya.Dengan disponsori Dayang Samak,penduduk setempat sepakat patungan untuk
membeli alat becampak seperti : Tawak-tawak,Gendang dan gong
besar,sedang,kecil,serta sejumlah alat pukul lainnya seperti Kelinang.Setelah
terkumpul uang untuk membeli perlengkapan muasik itu,maka kehidupan di kelekak
itu pun jadi makin meriah.
Singakat cerita,Dayang Samak oleh penduduk
kelekak ini rupanya juga telah merubah corak rumah penduduk.Kalau sebelumnya
rumah mereka hanya berasal dari kulit kayu dan lantai gelegar saja,kini banyak
penduduk yang membuat lebih dari itu,malah ada yang mulai membuat rumah
berlantaikan tanah.begitupun dengan Dayang Samak,sebagai Bos ia berfikiran
harus lebih dari yang lain,hingga ia pun membangun rumah tinggi,dan menjadi
paling tinggi di Dudat saat itu.Dan ,kehidupan di rumah tinggi yang di lengkapi
Nurjanu pun berubah total.Dari hanya seorang gadis cantik saja berubah menjadi gadis
sombong dan angkuh.
Pokonya lengkaplah ia menjadi seorang gadis yang
cantik,sombong dan angkuh.Sebagai primadona kelekak kemana-mana ia tak pernah
lepas dari kawalan Bujang Dultalip.Setiap mentas campak ia selalau memilih
berpasangan dengan laki-laki paling ganteng di antara yang ikut campak.Hingga
membuat laki-laki yang tidak bisa becampak dengan nya menjadi rendah diri dan
tak mau ikut becampak.
Setiap sore,sambil menjuntai kedua kakinya yang
bagus itu,Nurjanu selalu duduk berangin-angin di bagian atas rumah
tinggalnya.Bila ada lelaki yang lewat,walau hanya sekedar melihat,kontan ia
akan meludahi orang tersebut.
Suatu ketika terjadi peristiwa ia meludahi
seorang pemuda yang konon dari daerah Belantu.Begitu Nurjanu meludah ia
langsung menatap dan memungut ludah Nurjanu yang jatuh dekat kakinya.Kemudian
ia meneruskan perjalanan di iringi derail tawa penuh penghinaan dari Nurjanu.” Wanita
cantik itu harus di beri pelajaran.Jangan karena cantik ia jadi sombong,”
gerutu pemuda itu dalam hati dengan penuh dendam.ia pun langsung pulang ke
Belantu,sambil merencanakan pembalasan atas penghinaan Nurjanu.
Suatu hari penduduk melihat pemuda itu kembali ke
Aik Kelekak Nangkak.Di tangan kirinya ia menjinjing sebuah keranjang
bambu.Matanya selalu mengawasi kemana perginya Nurjanu setiap pagi dan
sore.Rupanya pemuda Belantu ini mengawasi gerak-gerik Nurjanu untuk mengetahui
dimanakah si Jelita yang sombong itu mandi.
Akhirnya ia pun tahu,dikawal Bujang
Dultalip,Nurjanu selalu mandi di Air Magnum.Setelah di ketahui tempat dimana
Nurjanu mandi.suatu siang ia pergi ke bagian hulu air Magnum.Tak ada yang tahu
apa kegiatan pemuda itu di sana.
Beberapa waktu setelah pemuda itu pergi ke hulu
Air Magnum,di tempat tersebut tumbuh sebatang pohon bamboo aneh.Mengetahui ada
pohon bamboo aneh yang tumbuh di bagian hulu,Nurjanu pun dating untuk
melihat.Tapi,setelah sampai ke pohon bamboo tersebut,ia sama sekali tak melihat
ada yang aneh,ia pun berujar, “ Ndak ade ape-ape bulo ne “
Setelah itu ia pun kembali ke tempat ia biasa
mandi sambil tertawa cekikikan seperti ada yang menggelikan hatinya.Namun,apa
yang terjadi kemudia ? Nurjanu berteriak histeris hingga mengundang Bujang
Dultalip untuk mendekat.Apa yang di temukan Dultalip sangat mengagetkan.Nurjanu
telah terbujur kaku.Putri sombong itu telah mati.Dultalip pun lalu membawa
mayat Nurjanu ke rumah Dayang Samak dan di kuburkan di sebuah tempat yang tak
jauh dari rumah tersebut.
Begitulah kisah kematian Nurjanu,karena racun
yang di tanam pemuda asal Belantu yang bersamaan dengan tumbuhnya bamboo aneh
di huli Air Magnum.Sejak saat itu tak seorang pun penduduk kelekak tersebut
berani mandi di Air Magnum,sebab akan mati seketika.Konon,dari kisah inilah
racun Belantu jadi terkenal.
Merasa takut akan jatuh korban berikut semua
penduduk Aik Kelekak Nangkak hijrah ke kampong yang saat ini bernama
Prepat,sekitar lima kilometer dari Dudat.Mereka membawa seluruh barang-barang
mereka,termasuk alat musik pengiring untuk becampak.Di tempat baru itu mereka
pun teteap melanjutkan kehidupan mereka dengan mencari pekarangan untuk di buat
pekasam.Mereka juga tak lupa sesekali menghibur diri dengan menari campak
setelah letih bekerja seharian.
Namun,setiap kali penduduk Prepat becampak dengan
menggunakan alat musik dari Dudat,seringkali terlihat seorang putri cantik di
tengah mereka ikut menyaksikan orang becampak.Di duga ia adalah arwah Nurjanu
yang penasaran.
Pada suatu malam Dayang Samak mendapat mimpi
bahwa untuk menenangkan arwah Nurjanu,gong besar pengiring musik campak harus
dikuburkan tak jauh dari kuburan Nurjanu.Akhirnya,setelah bermufakat dengan
tetua kampong,diaraklah gong besar itu dari perpat ke Kelekak Aik Nangkak untuk
di kuburkan dengan makam Nurjanu.
Beberapa tahun setelah gong tersebut di
kuburkan,di atas kedua kuburan tersebut muncul masing-masing sebatang pohon nobong
( nibung ).Sejak saat itulah kubur dan tempat gong tadi terkenal dengan sebutan
Nibong Belegong,yang diinterpretasikan pohon nibung yang ada
gongnya.
Menurut si empunya cerita hingga saat ini
peralatan musik campak dari Dudat itu masih bisa dimainkan.Namun,kalau suara
gong terdengar sember maka harus di bersihkan dengan air pekasam dari
Dudat,setelah itu gong itu pun akan berbunyi nyaring kembali.Malah suaranya
akan terdengar makin nyaring jika malam semakin larut.
Saat ini di tempat Nibong Belegong tadi,jika
tepalat mate,sering terdengar suara gong lalu disusul mucul putri Nurjanu
sedang menari
Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat
Belitung oleh Bule Sahib
Asal Usul Nama Padang Buang Anak
Diwirayatkan kira-kira abad XIII, Pulau Belitung
mengalami musim Barat Ijau, yakni kemarau panjang yang melebihi kemarau yang
datang biasanya. Kemarau ini mengakibatkan dimana—mana terjadi kekurangan air
baik untuk keperluan minum maupun kebutuhan rumah tangga.
Tersebutlah, dalam musim tersebut, seorang ibu
bernama Dambe’ berjalan terseok-seok sambil menggendong seorang anaknya
kesana-kemari. Anak yang ada dalam gendongnya itu baru bisa merangkak. Tangan
kirinya menjinjing sebuah gerebog (tempat air berasal dan tempurung
kelapa yang diambil dagingnya tanpa memecahkan tempurung, red.).
Sementara tangan kanannya mengapit anaknya. Sudah setengah hari Mak Dambe’
mencari air sambil menggendong anaknya itu. Terakhir Ia menyusuri kaki gunung
Tajam tapi belum juga mendapatkan air. Sementara anaknya sudah mulai menangis
kehausan. Saking haus dan kecapekan ia duduk melepas lelah di atas sebuah batu
sambil melavangkan pandangan mencari petunjuk dimana bisa mendapatkan air.
Selang beberapa lama, ia melihat seekor Binat
(kura-kura darat, red.) sedang berjalan merambahi tanah menjauh
dari batu tempat ia melepas lelah. Melihat binat itu, Mak Darmbe’ pun
berfikir untuk mengikuti saja karena pasti ia akan mendatangi sumber air.
Namun ada satu hal yang menghalanginya untuk
mengikuti binat tersebut. Anak di pangkuannya bagaimana pun jupa
adalah darah dagingnya. Tapi begitu dilihat binat sudah kian menjauh
ia memutuskan untuk mengikutinya dan akan meninggalkan anaknya di dekat batu
tempatnya beristirahat. Agar anaknya tak pergi kermana-mana, ia pun meletakkan
anaknya di atas tanah yang telah dipagari susunan batu berbentuk empat persegi
panjang.
Setelah merasa anaknya akan aman dan tidak akan
bisa pergi kermana-mana Mak Dambe’ bergegas menyusul binat tadi.
Beberapa lama berjalan akhirnya binat yang ia ikuti mengarah ke sebuah
lembah. Ternyata di lembah itu terdapat sumber air dari sebuah celah batu. Mak
Dambe’ pun segera mengisi gerebog nya dan minum sepuas-puasnya.
Setelah puas minum banulah Mak Dambe’ tersadar
bahwa ia harus segera kembali ke batu tempatnya tadi beristirahat untuk mengambil
anaknya yang ia tinggalkan di sana. Hampir terbenam matahari barulah Ia
mencapai batu tersebut.
Namun, apa yang Ia temui? Susunan batu yang
memagari tempat ia menaruh anaknya sudah hancur. Ia pun segera mengamati
sekeliling tempat tersebut. Alangkah kagetnya dia. Di tanah tampak bekas kaki
seekor binatang berukur sangat besar dan tetasan darah di dekatnya. Mak Dambe’
pun mengikuti tapak kaki binatang tersebut yang ternyata mengarah ke puncak
Gunung Tajam. Namun, kendati terus mengikuti tapak kaki itu anaknya tak juga
ditemukan.
Tak berhasil menemukan anaknya, dengan rasa
sedih, kecewa, menyesal bercampur putus asa dan kehilangan yang sangat, Mak
Dambe’ kembali ke pondoknya. Sekembali ke pondoknya, berhari-hari ia tak
bercampur dengan tetangganya. Seharian hanya duduk di tangga pondok, menangisi
anaknya yang
hilang tak tentu rimba.
Lama kelamaan Mak Dambe’ tak tahan mendengar
pertanyaan para tetangga karena melihat tingkah lakunya yang lain dari biasa.
Ia pun akhirnya menceritakan semua hal ikhwal penderitaannya. Setelah itu
barulah tetangganya tahu musibah yang menimpa Mak Dambe’.
Sejak saat itulah masyarakat setempat menyebut
daerah dimana Mak Dambe’ telah meninggalkan anaknya sehagai Padang Buang Anak,
karena di tempat itulah masyarakat beranggapan Mak Dambe’ telah membuang
anaknya.
Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat
Belitung oleh Bule Sahib
Si Kantan
Pada zaman sebelum Agama Islam masuk dan
berkembang di Belitung,tersebutlah
seorang janda miskin yang hidup bersama seorang anaknya bernama
Kantan.Dua anak beranak ini tinggal di sebuah kelekak yang sekarang bernama
Cerucuk.Mereka hidup dari hasil menangkap ikan atau hasil laut lain nya serta
buruan di hutan sekitar tempat tinggal nya.
Hidup sebagai janda beranak satu,terasa sangatlah
berat bagi ibu Kantan.Namun,akibat kerja keras ibunya,Si Kantan bisa tumbuh
sebaagaimana layaknya manusia biasa dan bisa mandiri tanpa menggantungkan hidup
pada orang tuanya setelah mulai menginjak dewasa.
Dalam kedewasaan itulah,saat Kantan berujar
kepada ibunya bahwa,ia bermaksud mencoba kehidupan lain di luar
kelekaknya.Singkatnya ia ingin merantau,mencoba peruntungan di tempat
lain,kalau-kalau kehidupan nya bisa berubah lebih baik.Tak bisa mencegah
keinginan anaknya,ibu si Kantan akhirnya harus merelakan anaknya
merantau,sambil terus berdoa agar apa yg di cita-citakan anak nya terkabul.
Kepergian anaknya itu dirasakan sangat berat oleh
ibu si Kantan.Apa-apa yang semula di kerjakan berdua,sepeninggal Kantan harus
di kerjakan nya sendiri.Karena kerja berat itulah,fisik ibu si Kantan terlihat
menjadi lebih tua dari umur sebenarnya.
Bulan berganti ,tahun pun berubah.Bertahun-tahun
setelah kepergian nya,Kantan kembali dari perantauan nya dengan keadaan yang
sangat bertolak belakang di banding saat berangkat meninggalkan
kampungnya.Rupanya ia telah berhasil menjadikan kehidupanya jauh lebih baik.Ia
sudah menjadi seorang saudagar yang kaya raya.Kantan pun telah memiliki seorang
istri yang cantik jelita,hingga ketika akan kembali ke kampung halaman nya
Kantan harus mencarikan nya sejumlah dayang terlebih dahulu.
Sebagai perantau sukses,Kantan kembali dengan
lima sekoci barang bawaan.Kelima sekoci tersebut di penuhi berbagai barang yang
bagus dan mahal,serta biantang peliharaan baik untuk di konsumsi selama
dalam perjalanan maupun untuk di pelihara.
Mendengar Kantan akan pulang,ibunya bergegas
menyiapkan kedatangan anaknya.Ia menyediakan makanan kesukaan anak semata
wayang nya itu.,yaitu panggan lutong dalam jumlah banyak.Ibu si Kantan tauu
bahwa anaknya akan datang bersama awak kapalnya yang banyak.Bersama sejumlah
makanan itulah kemudian ibu si Kantan menuju muara Sungai Cerucuk,dimana perahu
si Kantan akan berlabuh.
Setibanya di pinggir sungai,ibu si Kantan melihat
perahu anaknya yang telah siap merapat.Para awak kapalnya mulai melempar sauh
dan mengikatkan tali ke daratan.
Melihat kedatangan anaknya,segera ibu si Kantan
naik ke perahu,bermaksud menyambut anaknya.Begitu sampai di perahu ia melihat
si Kantan telah berubah sama sekali.Maklum sekarang ia telah menjadi seorang
yang kaya raya.
“ Kantan,anak ku,balik juak kau akhirnye,”kata
ibunya kepada si Kantan
“ Sape ikam ne nek ? Barani amat ngakuk jadi
umak aku.Umak aku la lamak mati,jadi ikam ne pasti urang lain nok ngakuk jadi
umak aku karene aku la kaya,” hardik Kantan kepada ibunya dengan
sombongnya.
Mendengar percakapan Kantan seorang nenek
tua,istri si Kantan langsung mendekat dan berujar,” Tuanku,perhatikanlah
baik-baik nenek tua itu.Barangkali nenek tua itu memang ibumu dan jelas sekali
sudah berubah.Tuanku belum pernah kembali selama
ini.Hingga jelas matamu memandang lain.Amatilah baik-baik.”
Kendati sudah di nasehati istrinya,Kantan tetap
tak mau mendengar,bahkan ia menghardik istrinya.
“ Kurang ajar kau.Kau kubawa kesini bukan
untuk jadi penasehat ku.Kau adalah isitriku.Kau harus tunduk pada kehendak
ku.Ayo masuk ke dalam,” hardik Kantan kepada istrinya setengah berteriak.
Mendengar pertengkaran dua suami isitri itu,,ibu
si Kantan menjadi sedih.Kemudian ia pun berkata,” auk la mun gitu se Tan
ai.Kaluk ndak nak ngakuek aku umak kau,aku nok bini hine ini balik sajak.Kitu
rumpenye kau ngembalasan urang nok ngelaheren kau,nyusuek kau,lalu ngenggedeen
kau sampai kau pegi berangkat ngerantau.”
Usai berkata kemudian ,ibu si Kantan pun turun
dari perahu anaknya.Namun,sambil berjalan meninggalkan perahu si Kantan dalam
hatinya ia memohon ampunan dewata sambil berdoa semoga dewata memberikan
kutukan kepada anak nya yang telah mendurhakai dirinya sebagai orang tua.
Belum sempat ibu si Kantan menginjakan kakinya di
darat,seketika terjadi peristiwa yang tak di duga-duga.Hujan turun dengan
lebatnya,laksana di curahkan dari langit,di sertai angina rebut dan Guntur
menggelegar.Melihat kejadian itu ibu si Kantan segera menyelamatkan diri di
daratan.
Setiba di daratan,dari tepi pantai ia melihat
anak nya si Kantan dia terpaku walau badai mengguncang sangat hebat.Di depan
matanya pula ibu si Kantan melihat perahu anak nya perlahan tenggelam.Di balik
suara badai,sayup-sayup ia mendengar seruan anaknya yang berteriak,” Umak….umak…,
ampunek anak ikam ne.” Tapi nasi sudah jadi bubur,ibu si Kantan tak bisa
mengampuni anaknya yang durhhaka.Secara peralahan perahu si Kantan berikut lima
sekoci bawaannya berserta istri,para dayang pengiringnya serta awak
kapalnya,tenggelam.
Menurut cerita turun temurun bangkai kapal si
Kantan itu kemudian menjadi cikal bakal Pulau Kapal.Sebuah pulau kecil yang
terletak persis di tengah alur muara Sungai Cerucuk.
Cerita burung yang berkembang di masyarakat,jika
dalam keadaaan kotor ( tepalat mate,red ) kita bisa melihat
itik,angsa,ayam dan biantang peliharaan lainya berkeliaran di Pulau Kapal.Dan
sering pula orang mendengar teriakan memilukan memanggil,” Umak…umak….umak….,ampunek
anak ikam ne Mak.”
Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa,hanya
orang-orang khususnyalah yang bisa sampai ke batu berbentuk seperti perahu yang
ada di pulau tersebut.Sebab di sekeliling batu tersebut arusnya berputar-putar
hingga sering menyebabkan kecelakaan bagi perahu atau rakit yang mencoba
mendekat.
Akan halnya ibu si Kantan,hingga saat ini kuburan
nya masih ada,berupa songgokan tanah ( istilah setempat pansuk,red)
terletak di aik bujang dalam keadaan tak terpelihara.Kuburan itu sering di
datangi oleh orang-orang sesat,yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara
mudah,semisal meminta angka nomor buntut.
Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat
Belitung oleh Bule Sahib
Hikayat Tuk Layang
Di sebuah kelekak sekitar Buding,saat penduduk Belitung masih
tinggal di pedalaman guna menghindari gangguan lanun,tinggal satu keluarga
dengan satu anak yang hidup sangat bersahaja.Keluarga itu di kepalahi seorang
suami yang di kenali masyarakat dengan panggilan Tuk Layang.
Tuk laying adalah seorang yang memilik ilmu
tinggi,baik di darat maupun di laut.Tak heran penduduk setempat merasa
tentram,karena Tuk Layang bisa menjadi tempat berlindung dari gangguan para
lanun yang saat itu suka menyerang perkampungan penduduk.Sementara ketika
dilaut,para lanun selalu akan menjauh jika melihat Tuk Layang sedang mendayung
sendiri perahunya.
Sehari-hari,Tuk Layang tak pernah lepas dari Tembako
Sugi ( mengunyah tembakau lalu menyelipkan nya di sudut bibir yang menjadi
salah satu kebiasaan penduduk Belitung masa lalu dan masih ada di masa sekarang,red
).Salah satu kehebatan Tuk Layang adalha memiliki tenaga yang tak terduga kuat
nya serta ilmu gerak cepat.Tuk Layang juga menyukai makanan burung-burung hasil
buruan yang banyak terdapat di hutan sekitar tempat tinggal nya.
Untuk memenuhi makanan kesukaan nya itu,suatu
pagi Tuk Layang pergi berburu ke hutan di sekitar Sungai Buding.Dalam
perjalanan,tiba-tibadari arah hulu sungai,Tuk Layang mendengar riuh rendah.Dari
suaranya,Tuk Layang yakin bahwa,Burung Bayan itu jumlahnya mencapai ratusan.
Mendengar suara itu bergegas Tuk Layang
mendatangi arah asal suara.Ternyata dugaan Tuk Layang benar.Begitu sampai di
sebuah pohon medang yang rindang,nampak ratusan burung bayan yang sedang asik
makan buah pohon tersebut.melihat burung yang begitu banyak,Tuk Layang sudah
bersiap untuk memanjat pohon tersebut.Tapi,setelah diamatinya,pohon tersebut
sulit untuk di panjat.Karena masih pagi,pohon basah,hingga kalau di panjat
kemungkinan akan jatuh.
Tak mau ambil resiko,Tuk Layang lalu duduk di
bawah pohon tersebut.Mencari akal bagaimana caranya agar bisa mendapatkan semua
burung di pohon medang itu tanpa perlu memanjatnya.Setalah agak lama
berpikir,Tuk Layang nampak berdiri dan berjalan menuju pinggir sungai.Sekejab
kemudian ia nampak membawa batu berukuran kepala manusia dewasa yang di ambil
dari sungai tersebut.Begitu sampai di bawah pohon tadi,dengan sekuat tenaga,Tuk
Layang melemparkan batu kali tadi ke bagian tengah pohon medang,dimana
burung-burung bayan sedang asik makan buahnya.
Saking kuatnya Tuk Layang melempar,begitu batu
kali mengenai sasaran,pohon tersebut terguncang sangat keras.Sekejap
kemudian,satu per satu burung bayan di pohon tersebut berjatuhan ke
tanah,hingga jumlah nya mencapai ratusan ekor.Pendek kata,hari itu,dengan
sekali lempar Tuk Layang berhasil mendapatkan ratusan burung bayan kesukaan
nya.
Konon,menurut ceita penduduk setempat,batu kali
yang di gunakan Tuk Layang untuk melempar burung tersangkut di salah satu dahan
pohon di sebelahnya,dan belum jatuh hingga saat ini.Batu itulah,kemudian di
kenali sebagai Batu Bayan dan ada juga yang menyebutnya Batu Tuk Layang.
Nah,karena banyak nya burung bayan yang jatuh,Tuk
Layang harus berulang kali mengangkutnya ke rumah.Oleh Nek Layang ( Istri Tuk
laying ,red ) burung-burung tadi di pisahkan menjadi dua
bagian.Sebagian untuk lauk-pauk makan hari itu,dan sebagian lagi di awetkan (
diasinkan ) untuk cadangan makanan di hari-hari mendatang.
Cuma,untuk menggarami burung sebanyak
itu,persedian garam Nek Layang ternyata tak cukup.Garam yang ada di rumah hanya
cukup untuk memasak hari itu saja,sementara untuk menggarami yang lainya tak
ada lagi.
Tahu Nek Layang kehabisan garam,Tuk Layang pun
berkata pada istrinya,” Mun kitu se,kau tunggu la suat de ruma.Kau buatek
la duluk burong-burong idang degaramek tek.Biar aku pegi ke jawe duluk meli
garam sekalian kan meli tembako sugi.”
Belum sempat Nek Layang menjawab,Tuk Layang telah
berada di atas perahu di pinggir Sungai Buding.Lalu,hanya dengan tiga
kayuhan,Tuk Layang pun sampai ke jawa.Setelah membeli garam dan tembako
sugi untuk persedian sebulan,Tuk Layang pun segera kembali ke
Belitung.Juga dengan menggunakan kekuatan penuh,karena khawatir Nek Layang
sudah selesai membersihkan burung bayan yang akan di garami.
Namun,baru satu kayuhan,Tuk Layang melihat
beberapa titik hitam di depan nya.Karena itu Tuk Layang pun segera melambatkan
laju perahunya.Rupanya titik-titik hitam tadi adalah gerombolan para lanun yang
sudah siap mencegatnya,karena tahu Tuk Layang baru saja membeli garam dan
jumlahnya banyak.Mengetahui para lanun mau mencegatnya,Tuk Layang segera
menghentikan perahu,hingga nampak seperti sedang mengalami kerusakan.
Sementara perahunya melambat Tuk Layang mengunyah
tembako sugi.Siasat Tuk Layang rupanya berhasil mengecoh para
lanun,menyangka perahu Tuk Layang rusak mereka segera mendekat.Namun,apa yang
terjadi kemudian ?
Begitu perahu para lanun sudah mencapai jarak
sepenyemburan sugi,tanpa di duga Tuk Layang menyemburkan sugi dari mulutnya ke
arah perahu para lanun.Tak ayal,akibat semburan sugi yang begitu kuat,perahu
para lanun itu pun pecah,sementara awak nya tenggelam di laut.Sementara
perahu-perahu yang masih Selamat dari semburan sugi Tuk Layang segera
kabur,segera menjauh.
Singkat cerita,setelah para lanun pergi,Tuk
Layang pun segera kembali ke Sungai Buding.Dengan dua kayuhan dia sudah sampai
di pinggir Sungai Buding.Cuma,begitu sampai di rumah betapa kagetnya Tuk
Layang.Nek Layang rupanya belum juga selesai membersihkan burung-burung yang
akan di garami.Padahal,waktu itu,matahari sudah condong ke barat.Akhirnya,Tuk
Layang jugalah yang harus menyelesaikan perkerjaan tersebut.
Tempat terjadinya peristiwa ini,Tuk Layang
Melempar burung bayan,hingga kini,masih bisa di lihat di sekitar Sungai
Buding,,sekitar kilometer 44 dari Kota Tanjungpandan menuju Manggar.
Lokasi persisinya terletak di sebelah kiri
jalan,agak kedalam sejajar dengan aliran Sungai Buding menuju muara.
Tentang cerita kepergian Tuk Layang ke jawa,walau
mengakui versi pertamanya,membeli garam dan tembako sugi,sebagian
masyarakat punya versi lain.Memelesetkan nya menjadi semacam joke agak
porono,menyegarkan
Konon,saking banyak nya burung bayan yang di bawa
pulang ke rumah,Tuk Layang ikut membantu Nek Layang menyianginya.Tuk Layang menyianginya
burung tersebut duduk sambil memangku anaknya.Sementara nek Layang menyiangi
burung tersebut persis di depan Tuk Layang sambil berjongkok.
Karena asik menyiangi burung bayan yang begitu
banyak,Nek Layang jadi Kurang Senange’an,hingga tak sadar dirinya tebengang
( kain/rok tersingkap hingga perkakas yang terlindung di baliknya bisa di lihat
orang lain,( orang Belitung mestinya tahu isitilah ini,red )
Nah,tidak tahan melihat Nek Layang tebengang,rupanya perkakas Tuk
Layang bereaksi keras.Saking kuatnya reaksi perkakas Tuk Layang,anak di
pangkuan nya terpelanting hingga ke jawa.
Karena itulah,menurut sebagian penduduk,kepergian
Tuk Layang ke jawa sebenarnya bukan untuk membeli garam dan temabako sugi,tapi
untuk menjemput anaknya yang terpelanting karena lentingan perkakas Tuk Layang
yang tidak tahan melihat Nek Layang Tebengang.
Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat
Belitung oleh Bule Sahib
Hikayat Raja Berekor
Cerita ini merupakan kegiatan dari asal usul
Pulau Belitung.Dimana terdapat sebuah pulau hanyut yang di akibatkan kemurkaan
seorang raja di Bali akibat anaknya mengandung anak akibat hubungan nya dengan
anjing kesayangan nya.
Hatta setelah tiba waktunya,sang putri yang
mengandung akibat hubungan dengan anjing kesayangan nya,melahirkan seorang bayi
laki-laki.Berbeda dengan bayi normal,sekujur tubuh bayi tersebut penuh di
tumbuhi bulu-bulu subur serta memiliki sebuah ekor kecil,layaknya anjing.
Ringkas cerita,karena persediaan makanan kiriman
dari istana sebelum di kutuk ayahnya telah menipis,sang putrid pun mulai
menggantungkan hidup dari alam.Untuk membesarkan anaknya,di temani anjing
kesayangan nya ia berburu biantang apa saja yang ada di hutan,menangkap ikann
di sungai,serta memakan tumbuhan hutan apa saja yang bisa di makan.Oleh
ibunya,setelah beranjak besar,si anak berekor di ajarkan cara berburu dan
menangkap ikan di sungai.
Satu hari,si anak berekor berburu sendiri ke
hutan.Dalam hutan ia bertemu sepasang burung ( di sebutkan sebagai burung
kutilang,red) yang sedang memberi makan anaknya.Sedianya ia
akan memanah burung-buruba tersebut.Namun mengingat burung tersebut sedang
memberi makan ankanya,anak berekor pun mengurungkan niatnya.Dalam hatinya malah
tibul rasa kasihan melihat keharmonisan keluarga burung tersebut.
Sepanjang hari itu,ia merasa sangat terkesan
dengan keluarga burung tersebut.Sepanjang perjalanan ia terus terbayang
kemesraan burung tersebut.Hingga tak seokor burung pun berhasil ia panah hari
itu.
Setiba di rumah,ia pun segera menghampiri ibunya
dan bertanya, “ Mak ,dimane aya aku ne ? “
Di Tanya demikian,si Ibu kaget.Lalu menjawab “ Aya
kau ndak ade “
Tak puas dengan jawaban ibunya,si anak pun lantas
berujar,” Ndak mungkin anak manusie ndak ade aya.Sedangkan binatang sajak
macam burong kutilang nok aku liat de bang utan tadik ade umak bapak e.”
Walau di desak,sang putrid tetap tak
menjawab.Hingga kemudian anak nya berkata keras kepada ibunya.” Sebutla
benar-benar demane aya aku ? kaluk,ikam ndak,ikam aku buno.” sergahnya
dengan bengis.
Mendengar ancaman tersebut,karuan si ibu
ketakutan.Sebab anaknya kini telah menjadi laki-laki dewasa bertubuh tinggi
besar,berotot,pemberani,tangkas dan sangat kuat.Akhirnya,setelah berkali-kali
di ancam,sang ibu pun berkata,” Aya kau to si Tumang,asuk kesayangen kite.”
Mendengar jawaban tersebut,bukan main marah nya
si anak berekor.Sekejap kemudian ia telah berhasil mengkap Tumang yang berdiri
tak jauh dari ibunya.Dalam hitungan detik terdengar lengkingan pendek tapi
nyaring si Tumang.Sekejap kemudian,Nampak anjing itu telah terkapar di atas
tanah.Kepalanya hancur,akibat bantingan keras si anak.Tumang,anjing kesayangan
sang putrid,yang adalah ayah biologis si anak berekor,mati mengenaskan akabat
di banting anak ny sendiri.Bangkai nya lalu di hanyutkan di sungai.
Begitulah,waktu pun terus berjalan.Si anak
berekor telah tumbuh menjadi seorang pemuda normal yang gagah perkasa,namun
ekornya makin panjang.Satu hari,kepada ibunya,pemuda berekor itu minta izin
untuk menjelajahi daerah lain.Oleh ibunya ia di sarankan membuat perahu.
Singat cerita.setelah perahu dan berbagai
perlengkapan serta perbekalan selesai di siapkan,pemuda bereokor pun
berangkat.berlayar mengarungi samudra tanpa tahu arah tujuan pasti,hingga
akhirnya mencapai daratan pulau Sumatra,yang masuk wilayah kekuasaan Raja
Palembang.
Mengetahui daerah tempatnya mendarat termasuk
wilayah kekuasaan Raja Palembang,pemuda berekor itu pun datang menghadap ke
istana.Kepada Raja Palembang ia mengajukan diri untuk menjadi raja.Raja
Palembang setuju dengan usulan tersebut.Namun syaratnya,ia harus memerintah di
daerah asalnya,dan daerah tersebut menjadi taklukan Raja Palembang.
Syarat Raja Palembang itu di terima pemuda
berekor,hinga jadilah ia sebagai seorang Raja di daerah asalnya yang kemudian
terkenal dengan Raja Berekor.Namun,sebelum kembali ke daerah asalnya,ia di
bekali perlengkapan secukupnya dan rakyat berasal dari daerah taklukan Raja
Palembang Konon jumlahnya setara dengan delapan gantang butir padi.
Di kisahkan setiba di Belitung,Raja Berekor
mendirikan istana di sekitar Aik Bebulak,Kelekak Usang kea rah perawas,sejajar
dengan aliran sungai Cerucuk yang melintasi Kampung Perawas sekarang
ini.Singgasananya terbuat dari sebuah tempayan besar.Dii atas tempayan besar
itulah di letakan satu keeping papan dari kayu ulin yang di beri lobang,sebagai
tempatnya memasukan ekor ketika duduok di sanggasana.Alhasil,kemanapun Raja
Berekor ini pergi tempat duduk itu selalu di bawa.
Dalam menjalankan pemerintahan,Raja Berekor di
dampingi Sembilan
pembantu,terdiri atas : perdana mentri,hulubalang dan pesuruh yang salah
satunya bernama sikum.Selain itu di tangkap pula sejumlah perempuan untuk di
jadikan juru masak dan dayang-dayang istana.Dengan dukungan sejumlah
pembantunya,pemerintahan Raja Berekor berjalan baik dan sesuai dengan kehendak
raja.Pendek kata,setiap kehendak raja selalu di turuti para pembantu nya,yang
sebenarnya takut dengan kekekaran dan kebengisan nya.
Satu hari seorang juru masak istana membuat kelalaian .Saat menyiapkan makanan siang buat sang raja ,salah satu jarinya tersayat pisau, hingga darahnya menetes dalam makanan yang sedang disiapkan .Ketika makanan tersebut dihidangkan kepada sang raja bukan mainnya takut juru masak .
Satu hari seorang juru masak istana membuat kelalaian .Saat menyiapkan makanan siang buat sang raja ,salah satu jarinya tersayat pisau, hingga darahnya menetes dalam makanan yang sedang disiapkan .Ketika makanan tersebut dihidangkan kepada sang raja bukan mainnya takut juru masak .
Tapi ,apa yang terjadi kemudian ?Setelah
dihidangkan sang raja memakannya dengan lahap .Sekonyong-konyong ,Raja berekor
tertawa terbahak-bahak ,sambil berteriak keras kepada Perdana Mentrinya .
“Perdana Mentri panggil juru masak !”Perdana
Mentri pun langsung memanggil juru masak dan kembali menghadap sang raja
bersama juru masak tak lama kemudian .
“Ampun Baginda hamba datang ngadap ,”ujar Perdana
mentri di ikuti juru masak .
‘Juru masak !Nyaman benar kau masak sari ne
‘,rasenye lebe nyaman dari masakan nok lauda-uda .Bahan ape nok kau masokkan de
dalamnye ?tanyak raja berekor .
Ditanya demikian ,juru masak gemetaran .mukanya
pucat pasi .Keringat dingin mengucur deras didahinya .
“Ampun, tuan ku ,hamba masak macam biase
sajak,ndak ade nok demasokan bang masakan itu .semuenye bumbu masakan kan bahan
nok ade dedapor kitelah.,”jawab juru masak itu gemetaran .,”Akh ,ndak
mungkin !” sergah sang raja .”cuba terus terang ,pasti ade nik lebeh
dari biase e,” sergah sang raja lagi.
Takut dengan raja,juru masak itu pun dengan pasrah
dan terbata-bata berujar,”seingat hamba,waktu mengiris sayor,ujung tangan
hamba teriris pisuk lalu bannyak keluar dara.Dara itu tecampor kan bumbu tadik”
jawab juru masak sambil gemetaran.
Mendengar jawaban si juru masak,sang raja
tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil.Dalam hatinya terbayang mungkin darah
manusia di campur daging manusia lebih enak rasanya.Hingga akhirnya muncul
keinginan untuk memakan daging manusia.Sesaat kemudian ia pun berkata kepada
perdana mentri
“Perdana Mentri,ngape kite ndak nyubak makan
daging manusie sajak ?” Tanya raja lagi.
“ Hamba,…ndak sampai ati tuanku,” jawab
Perdana Mentri ketakutan.
Di jawab demikian,meledaklah kemarahan sang
raja.Sambil menghunus pedang ia berteriak, “ turutek perinta aku ! kaluk
ndak kau nok aku buno “
Akhirnya dengan sangat terpaksa Perdana Mentri
menuruti kehendak raja itu.Membunuh manusia untuk di jadikan santapan
raja.Korban pertamanya adalah juru masak.Rupanya dugaan raja bengis itu
benar.Ketika menyantap daging sang juru masak ia Nampak merasakan kenikmatan
tiada tara.
Sejak saat itu,setiap hari,pasti ada rakyatnya
yang di korbankan untuk di jadikan santapan raja pemakan manusia itu.Semua
jenis dan tingkatan umur di coba.Anak-anak,orang dewasa,orang
tua,laki-laki,maupun perempuan.Malahan terkadang dalam sehari lebih dari satu
orang yang menjadi korban.
Akibatnya,rakyat semakin takut.Kerajaan pun
semakin sepi.Semua rakyat berdiam diri di rumah,menghindar agar tidak menjadi
santapan raja.Akhirnya,rakyat yang semula begitu banyak hari demi hari menjadi
kian sedikit.Sementara para pembantu istana tak berdaya mengatasi tabiat buruk
raja yang buas dan kejam itu.
Satu saat,tanpa di ketahui para hulu baling
istana rakyat melarikan diri ke daerah Belantu,Sijuk,Buding dan daerah
lainya.Sedang yang belum melarikan diri dan jumlahnya sangat sedikit,kemudian
mendapat giliran menjadi santtapan raja.Hingga akhirnya yang tertinggal hanya Sembilan
orang pembantu raja saja.Mengetahui rakyat nya sudah tak ada lagi di
kerajaan,Raja Berekor pun menjadi gelisah dan menanyakannya kepada Sembilan
pembantu nya.Oleh mereka di jawab bahwa,rakyat telahh habis dijadikan santapan
raja.
Karena haus dengan daran dan daging manusia,raja
pun bermaksud memakan ke Sembilan pembantunya yang masih tersisa di
istana.Namun bagaimana caranya ? Segera la raja bengis ini memanggil ke
Sembilan pembantunya dan mengadakan seyembara yang terdiri dari dua buah teka
teki berbunyi : “ DELIPAT KEMBANG DELIKOR,DELIMA KEMBANG DELIKAM
“
“ Barang siape ndak dapat ngenjawabnye,kan
aku buno.Untuk itu mikak kuberik waktu duak ari untuk ngenjawabnye,”
ungkap raja.
Mendapat seyembara tersebut ke Sembilan pembantu
raja itu segera bermusyawarah.Salah satunya adalah pak Sikum.Orang tua ini sudah
lama mengabdi pada kerajaan.Hingga ia tahu persis keadaan kerajaan.Setelah
bermusyawarah,ke Sembilan orang ini pun akhirnya berhasil memecahkan teka teki
tersebut.” DELIPAT KEMBANG DELIKOR “ berarti berarti empat
orang dimakan waktu lohor ( siang ) dan DELIMA KEMBANG DELIKAM
berarti lima orang di makan waktu malam.
Setelah berhasil memecahkan teka-teki tersebut
tiba-tiba pak Sikum berteriak,” Kite harus ngadilek raje lalim itu “
Tapi,lanjut dia,”kite ndak mungkin
ngembunonye secare terang-terangen.Sebab die sakti,die juak kebal kan senjate
tajam.”
Menghadapi kenyataan itu,semua yang hadir
terdiam.Namun,tiba-tiba Pak Sikum teringat sesuatu.” De istana ne tersimpan
duak buah alu sakti terbuat dari kayu simpor laki.Alu sakti itu la nok dapat
ngembuno raje,” ujarnya setengah berteriak.
Untuk melaksanakan niatnya,Sembilan pembantu raja
itu pun mencuri dua buah alu sakti tersebut.Lalu,mereka menyususn rencana
pembunuhan terhadap raja bengis itu.Disepakati waktunya saat mereka menghadap
raja ketika batas waktu yang di berikan habis.
Batas waktu yang di terapkan raja pun tiba.Ke
Sembilan pembantu raja datang menghadap.Namun,dari singgasananya,raja merasa
kejanggalan pada para pembantunya.Dua di antara mereka tidak membawa tombak
seperti biasa,api membawa alu.Hingga Raja Berekor menjadi agak sedikit curiga.
Masih curiga,raja pun menanyakan apakah mereka
sudah berhasil menjawab teka-teki yang di ajukan nya dua hari lalu.
Pertanyaan raja itu,secara berpantun di jawab
Perdana Mentri,dengan membalikan teka-teki yang di ajukan :
DELIPAT KEMBANG DELIKORDELIPAT KEMBANG DELIKAM
URANG LIMAK NGIBIT IKOR
URANG EMPAT SERETE NIKAM
Belum sempat,raja bereaksi pak Sikum,langsung
membalas pantun Perdana Mentri :
SAK DUA DAUN SIMPORKETIGE DAUN GENALU
URANG LIMAK NGIBIT IKOR
URANG DUA NGEMPOK KEN ALU
Mendengar jawaban tersebut,sadarlah Raja Berekir
bahwa pantun itu adalah siasat Sembilan para pembantunya untuk
membunuhnya.Seketika murkalah Raja Berekor.Ia bangkit dari singgasananya,hingga
tanpa di sadari ekornya turut keluar dari lobang tempayan.
Begitu melihat ekor sang raja keluar,serentak
para pembantu raja itu menyerang.Lima orang memegangi ekor,empat lainya
masing-masing dua orang memukul kepala raja bengis dan kejam itu dengan alu
sakti dan menusuknya dengan keris.Akibatnya seketika tubuh raja yang besar dan
kekar itu pun tumbang bersimbah darah.Mayatnya,oleh Sembilan pembantunya,di
hanyutkan ke sungai.Dengan begitu tamatlah riwayat Raja Berekor,pemangsa
manusia yang begitu bengis dan kejam itu.
***
Kayu simpor laki ini meurut kepercayaan orang
Belitung sebagai penagkal binaang buas dan berbisa,seperti harimau dan
ular.Menurut cerita kesaktian simpor laki ini di dukung oleh pepatah lama di
Belitung yang berbunyi :
ALU SEGIOK GIONGSEGALE-GALE UBI
SEKUCAK-SEKUCONG
TENTONG KAYU BINGKOK,BINGKOK DEMAKAN API
ALU UKAN SEMBARANG ALU
ALU TEBUAT DARI SIMPOR LAKI
SIFAT NOK BEIKOR
AMUN TEPELASA KAN SIMPOR LAKI
TENTU MATI
Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat
Belitung oleh Bule Sahib
Riwayat Keramat Pesak
Alkisah,pada masa menjelang Agama Islam masuk dan
berkembang di Belitung,sebuah perahu dalam keadaan compang-camping nampak
terapung-apung menuju ke bagian hilir Muara Sungai Pesak.Perahu yang di
tumpangi seorang laki-laki berasal dari Brunai bernama Deraman
Jaya Sakti dan istrinya itu akhirnya terdampar di sisi sungai,yang sekarang
di kenal dengan kampong Simpang Pesak.
Kondisi mereka berdua sangat mengenaskan.Pakaian
yang di kenakan sudah compang-camping.Persedian makanan tidak ada.Sementara
perahu yang mereka tumpangi sudah tak bisa di gunakan.Mengingat kondisi
tersebut,Deraman memutuskan menetap di daerah tempatnya terdampar,untuk mencoba
kehidupan baru.Sebuah gubuk sederhana pun didirikan.Bahan-bahannya di ambil
dari kayu-kayu di sekitar tempat kapal nya terdampar.Sebagai atap di gunakan
bahan-bahan dari bekas kain layer yang sudah tak terpakai lagi.
Belum berbilang bulan,kedatangan Deraman telah
mengejutkan Raja Balok.Saat itu pusat pemerintahan Kerajaan Balok terdapat di
daerah yang sekarang di kenal dengan Dusun Balok Lama,berjarak cukup jauh dari
Simpang Pesak.Kendati demikian Pesak,saat itu masuk dalam wilayah Kerajaan
Balok.
Raja Balok,saat itu,di kenal selalu mencurigai
setiap kedatangan orang asing ke wilayahnya.Ia juga selalu meminta sejumlah
nilai tertentu kepada orang asing yang datang untuk mendapatkan izin tinggal.
Mengetahui kedatangan Deraman tersebut,Raja
Balok mengutus seorang penghubung.Setelah bertemu,penghubung itu pun
menyampaikan pesan bahwa,Deraman agar segera menghadap ke Isatan Raja
Balok,untuk mengabarkan hal ihwal maksud dan tujuan kedatangan nya.Mendapat
pesan demikian,hari itu juga Deraman datang menghadap Raja Balok.
Setelah mengetahui maksud kedatangan Deraman,Raja
Balok pun lalu memperbolehkan Deraman menetap dan mendiami pondoknya.Cuma
syaratnya,ia harus membayar sejukung emas.
Mendengar keputusan Raja Balok,awalnya Deraman
merasa keberatan.Tapi setelah di pikir-pikir bahwa ia bukan seorang miskin di
negri asalnya,Deraman pun setuju dengan parsyaratan yang di ajukan
tersebut.Tetapi ia minta waktu sebulan untuk mempersiapkan diri guna memenuhi
syarat tersebut dan menyediakan perahu atau jukung untuk mengisi emas nya.Raja
Balok pun menyetujui permintaan Deraman.
Maka pulanglah Deraman ke pondoknya.Setelah
berembug dengan istrinya,di putuskan bahwa ia akan kembali ke Brunai utnuk
mengambil emas bahkan segala benda dan barang yang akan di perlukan selama
mereka bermukim di Belitung.Ke esokan harinya,Deraman pun segera menyipkan
sebuah perahu baru.Setelah berhari-hari,selesailah perahu tersebut berikut
segala perlengkapan sederhana yang kira-kira memenuhi syarat untuk bias sampai
ke Brunai.Istrinya menyiapkan panggang lutong,makanan awet di jalan dan
kebutuhan suaminya seperti sarung dan berbagai helai pakaian yang di buat dari
kain robekan layar.
Setelah semua persiapan selesai berangkatlah
Deraman dari muara Sungai Pesak menuju Brunai.Barhari-hari Deraman menggunakan
waktu mendarat itu dengan sebaik-baiknya.Di sediakan nya emas satu jukung untuk
syarat tadi,dan sebatang bibit kayu pelepak,setempurong batu garam ( pasir
garam ),seekor kucing,seekor ayam jantan dan beberapa barang lain nya untuk di
bawa ke Belitung.
Singkat cerita dengan bekal tersebut Deraman
kembali berlayar ke Belitung.Selama
berlayar,ayam jantan yang ia bawa,selalu berkubang dalam kapur garam,hingga
melekat pada bulu-bulunya.Di tengah perjalanan ia di cegat gerombolan
lanun.Saat di cegat para lanun itu,ayam jantan milik Deraman segera terbang ke
tiang-tiang layar perhau lanun tersebut.Di atas tiang layar itulah,kemudian
ayam jantan itu mengepak-ngepakan sayapnya yang penuh berisi pasir garam,hingga
membuat para lanun kelilipan,dan menjadi kalang kabut.Bertepatan dengan itu
Deraman menyerang para lanun,hingga habis semua nya.
Setiba di Belitung,Deraman langsung menghadap
sang Raja di istana nya.Kepada Raja ia minta agar transaksi di lakukan di
pinggir muara Sungai Pesak,dekat perahu dan sejukung emas di
tambatkan.Mendengar Deraman sudah siap dengan syarat untuk menetap di
wilayahnya Raja Balok pun setuju dan berangkat di iringi pengawal lengkap.
Tiba di pinggir sungai dekat perahunya di
tambatkan terjadilah transaksi.Tapi,sekali lagi,Deraman minta dengan hormat
sebelum transaksi “ ditandatangani “ agar Raja Balok juga menerima tawaran dari
Deraman.
“ Baginde,baik e gini jak.Jukong dan emas di
dalam nye kamu ambik,tapi aku nanam pelepak ne dari kampong aku de sanak.Lauda
itu aku nebarkan kapor garam ne de sekitarnye.Jadi kayu ini kan jadi batas
kediaman aku mun die tumbo kelak,” begitu permintaan Deraman.
Karena permintaan itu di nilai tidak ada
artinya,Raja Balok pun mengizinkan penanaman kayu pelepak dan penaburan pasir
garam tersebut.Demikianlah akhirnya Deraman pun dapat tinggal di daerah Pesak
ini.
Cuman dari batas penanaman sebatang pohon Pelepak
tadi,berkembanglah pohon tadi menjadi meluas sampai ke wilayah km 62
sekarang.Anehnya justru di daerah Dusun balok sendiri tidak tumbuh sama
sekali.Dari penuturan narasumber cerita ini,di ketahui bahwa batas perdukunan
Balok dan Pesak,yaitu daerah asal pohon pelepak tadi dan yang ada pohon pelepak
sedang daerah perdukunan Balok yang tidak ada pohon pelepak.
Deraman juga memiliki sebuah senjata bernama
keris candrik ( panjangnya sejengkal ).Ketika musim kemarau panjang meyerang
kelekaknya,Deraman kesulitan mendapatkan sumber mata air untuk di jadikan
sumur,mesti hamper semua wilayah itu telah di jelajahinya.Dalam keadaan
demikian Deraman mencabut keris candrik dan menancapkan nya ke tanah dekat
pondok nya sambil berkata “ De sinek la baru kau akan keluar,atau kamek
akan mati semue ! “ sekejap setelah ia mencabut keris candrik dari dalam
tanah,keluarlah air dari tempat ia mencapkan keris candriknya tadi.Sumber air
itulah yang sekarang berada dekat kuburan nya atau tak jauh dari lairan Sungai
Pesak yang berair asin,namun sumur air itu tetap tawar.
Setelah lama bermukim di daerah Pesak,Deraman pun
punya seorang anak perempuan kesayangan.Sebagaimana di ketahui pohon durian bias
tumbuh dimana saja.namun,di Pesak pohon durian baru tumbuh dua tiga keturunan
ke belakang.
Menurut cerita hal itu terjadi juga berkenaan dengan
keberadaan Deraman Jayasakti.Seperti umumnya di kampong-kampung di
Belitung,musim durian merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk bermain jauh
dari rumah.
Di kisahkan ,pada saat musim repak durian sedang jujo,anak
perempuan Deraman berada sendiri di pondok durian nya utnuk menunggu durian
jatuh.Dalam kesenyapan kelekak,tiba-tiba terdengar suara gemerisik di ikuti
suara gedebuk tanda ada durian jatuh.Namun,suara itu di ikuti jeritan anak
kecil.
Mendengar suara jeritan tersebut Deraman segera
menghentikan pekerjaan nya dan bergegas menuju pondok durian nya.Begitu
sampai di pondok durian betapa kagetnya dia.Anak kesayangan nya sudah terbaring
dengan kepala berlumuran darah.Karena terbawa rasa sedih yang teramat sangat
atas kejadian yang menimpa putri kesayangan nya itu dengan marah ia pun berucap
“ selama tujuh turunan kampong ini ndak kan detempo durin ! “
Lalu,jenazah putri kesayangan nya itu pun ia makam kan di pinggir Sungai Pesak
saat ini.
Sepeninggal putri kesayangan nya Deraman sangat
terpukul,hingga mengkhawatirkan istrinya.Rupanya putri kesayangan nya itu tak
dapat tergantikan dengan kesenangan lain.satu-satu teman permainan Deraman
hanya tinggal kucing dan ayam jantan yang di bawanya dari Brunai.Namun,karena
bukan manusi,keduanya hanya bisa di ajak bermain di luar rumah saja.
Yang merasa Deraman merasa aneh adalah keakraban
kedua biantang itu kepadanya.Kemana Deraman pergi,kedua biantang itu selalu
mengikuti.Bahkan kedua binatang itu selalu ikut di saat ia pergi
berburu.namun,keikutsertaan kedua binatang itu tak membuat repot,malah membawa
berkah.Setiap pergi berburu ia selalu mendapat hasil mulai lutong kecil,kera
serta binatang lainya,hingga berlebih dan bisa di awetkan dalam bentuk pekasam
sebagai makanan persediaan..sampai-sampai pekasam dari hasil buruan itu
mencapai tujuh tempayan.begitu lah kehidupan Deraman sepeninggal putri
kesayangan nya.
Suatu hari ,datanglah sebuah perahu dengan
beberapa anak buah.Dari penampilan dan wajahnya,para pendatang itu terliahat
tak ganas,malah penuh sinar kebijakan dan kebaikan.Deraman memperhatikan bentuk
perahu mereka,hingga akhirnya tahu lah ia bahwa para pendatang itu berasal dari
Brunai juga.
Deraman pun menyambut mereka dan segera menemui
kepala perahu tersebut dan menanyakan maksud kedatangan mereka.Setelah ngobrol
sana-sini,kepala perahu pun menyampaikan maksud kedatangannya.Dari Brunai ia
mendapat tugas untuk meng-islamkan semua orang Brunai yang berada di luar
Brunai,terutama di pulau-pulau di sebrang lautan.Maka kepala perahu itu pun
memanggil seorang ahli agama yang akan mengjarkan agama islam kepada Deraman
khususnya dan kepada penduduk setempat pada umumnya.
Setelah mendengar dan menyimak semua hokum dan
ketentuan Islam,Deraman pun berakata : “kaluk gitu aku lum kan masuk
islam.Aku nak ngabisen duluk tujo tempayan pekasan berisi pekasan daging lutong
dan kerak.” Mendengar hal itu maklum kepala perahu kenapa Deraman belum
mau masuk Islam.
Menurut penuturan,belum sempat menghabiskan tujuh
tempayan pekasam lutong dan kera tersebut Deraman telah keburu meninggal dunia.
Keramat ini terletak di sebelah kiri arah ke km
62 dari jembatan Sungai Pesak,bergabung dengan kuburan umum tapi di pelihara
dan di kelola khusus oleh ahli waris nya.Bentuk kuburan dan misan nya
menggambarkan Islam dan sumur di dekatnya bergaris tengah 60 cm dengan
kedalaman 70 cm,berair tawar walaupun hanya beberapa meter dari lairan Sungai
Pesak yang berair asin.
Semua penduduk Pesak sangat menjaga kebersihan
lingkungan ini karena jika sembarangan menggunakan air sumur ini,bada akan
gatal-gatal.Menurut narasumber,sumur ini menjadi alamat terakhir penduduk saat
musim kemarau panjang.
Desan Pesak sendiri memiliki kekhususan
melaksanakan ruwahan di rumah masing-masing,tapi di lakukan bersama berpusat di
sekitar Makam Datuk Keramat Pesak.sebab Deraman Jayasakti di anggap
sebagai cikal bakal penduduk Desa pesak saat ini.
Cerita Asal Mula Nama Kampung Belantu / Keramat Pinang Gading
Tak jauh dari Gunung Beluru, Kecamatan
Membalong, ada sebuah keleka’ dikenal dengan Keleka’ Nanga’. Disinilah terletak
kuburan yang dikenal dengan Keramat Pinang Gading, tokoh utama cerita ini. Di
antara rumah-rumah yang ada di Keleka’ Nanga’ ini, terdapatlah sebuah
belandongan (rumah beratapkan daun nanga’ yang disirat, berlantaikan kayu
berlapiskan tuntong –kulit kayu terunjam, red.) Di rumah
itu tinggal Pak Inda bersama istrinya Bu’ Tumina. Sepasang suami istri yang
hidup rukun dan damai ini belum dikaruniai seorang anak. Kendati demikian
ketiadaan anak itu tak mengurangi rasa sayang antara keduanya. Kemana pun
mereka pergi selalu berdua. Penderitaan salah satu adalah penderitaan keduanya.
Begitu pula kesenangan. Ibarat burung tiong, kemana jantan terbang disitulah
betina ikut terbang. Sehari-hari hidup mereka bersumber dari usaha bertanam
padi (ume). Tiap tahun pada bulan nyiur, mereka menugal (menanam padi ladang
red.), jagung dan palawija lainnya. Pak Inda termasuk rajin berusaha
di laut, untuk menangkap ikan dengan membuat dan memasang sero. Suatu pagi,
saat sedang musim mengetam (menuai) padi, Pak Inda berpamitan pada istrinya,
untuk menidau (menengok sero, red.) kalau-kalau
mengena ikan banyak.
Ia berpesan kepada istrinya, “Biar aku saja yang
pergi, kau tinggal di rumah menjemur padi.” Ketika Pak Inda tiba di tepi laut,
air laut yang sedang berangsur surut. Saat berjalan menuju seronya, kaki Pak
Inda tersandung sepotong bambu yang hanyut bersama sampah laut. Bambu itu ia
ambil lalu dilemparkannya ke tengah laut agar hanyut ke tempat lain. Ketika ia
tiba dekat seronya, ia kembali tersandung sepotong bambu. Lalu ia pun mengambil
bambu tersebut. Setelah diamati, ternyata itu bambu yang tadi juga. Karena
merasa tak butuh bambu Pak Inda pun mencampakkan bambu itu ke belakang sero,
agar ikut terbawa arus hanyut ke tempat lain. Selesai dengan urusan bambu tadi,
Pak Inda langsung sibuk dengan kegiatannya, menangguk ikan di dalam sero.
Rupanya hari itu seronya banyak mengena. Setelah dimasukkan ambong, ikan-ikan
tadi dicucuki-nya dengan rotan.
Sambil menggandar ikan-ikan hasil seronya,
sebagian diambin (dipanggul), sebagian ditentengnya, ia mengarungi air laut
yang telah surut dan berjalan menuju pantai. Di tengah perjalanannya menuju
pantai, ketiga kali kakinya terkait sebatang bambu, yang setelah diamati
ternyata bambu yang sudah dua kali dibuangnya tadi. Karena sudah tiga kali
tersandung bambu yang sama, terlintas dalam fikirannya … aneh sekali kejadian
ini. Air laut telah surut, lazimnya benda itu hanyut terbawa arus. Tetapi
kenyataannya, bambu itu hanyut melawan arus. Ia pun berfikir, pasti bambu ini
bukan sembarang bambu, ada ada sesuatu yang terkait dengan bambu tersebut.
Akhirnya, bambu itu pun ia ambil dan digunakannya untuk memikul ikan-ikan
perolehannya. Ketika makan siang, perihal bambu aneh yang kemudian ia jadikan
pikulan ikan tadi pagi diceritakan Pak Inda pada istrinya. Oleh istrinya bambu
itu diletakkannya di halaman depan rumahnya kalau-kalau diperlukan untuk
menindih tikar jemuran padinya agar tidak tergulung oleh tiupan angin.
Selang beberapa hari setelah kejadian itu, tak
ada peristiwa apa-apa dengan bambu tersebut. Namun, pada suatu hari Jumat,
kira-kira matahari mulai tergelincir pertanda waktu sholat Dzuhur tiba, ketika
pak Inda sedang tidur-tiduran berbantal sebang, secara tiba-tiba terdengar
suara letusan sangat keras diikuti suara tangisan bayi. Suara itu datang dari
tempat ia menjemur padi. Setelah dilihat ternyata, suara ledakan keras tadi
berasal dari bambu yang dibawanya dari laut. Anehnya, dari pecahan bambu itu
keluar seorang bayi. Dari muka sang jabang bayi terpancar cahaya yang
menyilaukan mata. Melihat bayi tersebut, Bu Tumina, istri Pak Inda, segera
menggendongnya. Setelah itu ia segera memandikan, menyelimuti dengan kain
bersih dan meninabobokkannya. Ringkas cerita bayi itu dipelihara dan menjadi
anak pasangan bahagia yang sudah lama mengidamkan anak ini. Bayi itu sendiri kemudian
diberi nama Puteri Pinang Gading. Setelah usianya beranjak besar, kelihatanlah
bahwa Pinang Gading memiliki keistimewaan khusus, yaitu kesenangannya akan
panah sehingga tak henti-hentinya ia selalu minta dibuatkan anak panah dari
bambu. Akhirnya ia pun menjadi seorang anak yang mahir sekali menggunakan
panahnya.Setelah berusia sekitar 15 tahun ia malah menjadi seorang pemanah yang
tiada tandingan. Bidikannya tak pernah meleset dan setiap ia pergi berburu
selalu membawa hasil memuaskan sekali bagi Pak Inda dan Bu’ Tumina.
Perangainya sehari-hari pun sangat menyenangkan,
baik terhadap kedua orang tuanya maupun kerabat dan tetangganya di Keleka
Nanga’. Malah sejak Pinang Gading ada, kehidupan suami istri tersebut sama
sekali berubah. Hasil tangkapan ikan dari sero-nya selalu melimpah ruah, setiap
bertanam padi hasilnya selalu memuaskan. Pendeknya sejak pasangan ini
memelihara Pinang Gading kehidupan mereka berubah makmur, hingga bertambah
sayanglah keduanya kepada Pidang Gading. KONON, tak jauh dari Keleka’ Nanga’
terdapat Keleka’ Remban. Keleka’ ini setiap tahun selalu ditimpa musibah yang
ditimbulkan makluk menyerupai seekor burung raksasa. Burung raksasa yang
kabarnya hidup di Pegunungan Bita, di sebelah Timur Danau Ranau, itu selalu
memangsa penduduk Keleka’ Remban setiap habis panen. Hingga dari tahun ke tahun
penduduk keleka’ itu menyusut. Baik akibat dimangsa burung raksana itu maupun
karena banyak yang pindah dari keleka’ tersebut. Umumnya, selain pindah ke
keleka’ sebelahnya, untuk menghindarkan burung raksasa tadi, sebagian penduduk
memilih tinggal di gua-gua di celah-celah gunung di daerah itu. Sementara bagi
penduduk yang masih memilih tinggal sebagian besar menggunakan remban, yaitu
kayu-kayuan yang disusun dan dijalin dengan rotan sega’ atau berebat. Mereka
menamakan burung yang sering menyerang itu Burung Gerude, yang konon kabarnya
berkepala tujuh.
Akan halnya musibah yang menimpa penduduk Keleka’
Remban itu tersiar ke keleka’ tetangga dan membuat mereka prihatin dan was-was,
jangan-jangan suatu hari nanti mereka yang akan dapat giliran diserang. Ketika
musibah itu terjadi usia Pinang Gading sudah menginjak 21 tahun dan kemahiran
memanahnya semakin hebat. Ia pun sudah mendengar akan keganasan burung raksasa
tersebut. Karena tak tahan diteror, seluruh tetua keleka’ bermusyawarah untuk
membinasakan burung tersebut dengan jalan memanahnya. Satu-satunya pemanah yang
paling mahir saat itu siapa lagi kalau bukan Pinang Gading. Sebagai anak yang
berperangai baik Pinang Gading tentu saja tersentuh hatinya dan tergugah serta
bersedia menjalankan tugas sebagai pemanah Burung Gerude tersebut. Untuk
menunaikan tugasnya, Pinang Gading pun segera membuat anak panah khusus untuk
mematikan burung raksasa tersebut. Ia pun merendam anak panahnya dengan
berbagai jenis racun. Setelah persiapan usai dilakukan, pada suatu hari burung
yang ditakuti itu datang ke Keleka’ Remban untuk mengganggu penduduk. Melihat
kedatangan burung pembinasa tersebut, Pinaang Gading yang sebelumnya telah
diungsikan di stu tempat strategis, mulai mempersiapkan busur panahnya dengan
anak panah beracun siap ditembakkan. Akhirnya, ketika si burung raksasa itu
mematuk orang tua yang memang sengaja diumpankan, saat itu juga Pinang Gading
melepaskan tali busur panahnya.
Seketika anak panah beracun meluncur deras menuju
sasarannya, tepat di leher si burung buas itu. Karena anak panah yang digunakan
Pinang Gading telah direndam anake macam racun, tak ayal burung itu pun
langsung mati. Burung itu jatuh bergemuruh di atas tanah, menggelepar sesaat
dan sekejap kemudian mati. Dari masing-masing dari tujuh kepala burung itu
kemudian keluar air tujuh warna. Lalu akan halnya anak panah Pinang Gading,
saking deras dan kuatnya ia menarik busur, setelah menembus leher burung
raksasa terus melesat ke atas dan jatuh kembali menancap di tanah. Menurut
cerita yang berkembang turun temurun, anak panah yang menancap di tanah tadi
tumbuh subur menjadi sebatang pohon bambu. Namun, setiap ada penduduk yang
menebang pohon bambu itu akan menemui ajalnya, sehingga lama-kelamaan tak ada
lagi penduduk yang berani menebangnya. Rupa-rupanya racun yang digunakan Pinang
Gading begitu kuatnya, hingga terus melekat pada anak panahnya. Bahkan hingga
anak panahnya tumbuh kembali menjadi pohon bambu yang subur. Karena itulah
kemudian penduduk setempat menyebut pohon bambu itu sebagai buluh hantu. (Buluh
adalah bahasa lokal untuk bambu, red.) Lama kelamaan
penyebutannya berubah menjadi BELANTU, hingga kemudian daerah tersebut juga
dinamai daerah Belantu. Akan halnya Pinang Gading, setelah berhasil memusnahkan
burung raksasa tersebut, namanya kian termashur di seluruh keleka’ di daearah
Belantu. Namun, sebagai manusia biasa, setelah usianya tua, meninggal di
tempatnya ‘lahir’ di Keleka’ Nanga’. Makamnya yang kini terdapat di kampung
kecil di kaki Gunung Beluru, Membalong, itu hingga kini dikeramatkan penduduk
setempat.
Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat
Belitung oleh Bule Sahib
Kik Cuan Melawan Limpai
Pada zaman dahulu kala ,tak beberapa jauh dari
Kampung Simpang Tiga,termasuk wilayah Kecamatan Gantung ,hidup seorang petani
bersama istri dan anak gadisnya.Oleh penduduk setempat ia dipanggil Kik Cuan
.Sebagai seorang petani Kik Cuan senantiasa berada disekitar lingkungan
ladangnya ,yang umumnya berada ditengah hutan .Hingga ia menjadi sangat akrab
kehidupan hutan dan segalah macam isinya .
Satu-satunya anak perempuan Kik Cuan bernama
jerimai .Sebagai seorang perempuan,tentunya ,ia harus berkeluarga . Dan,ketika
tiba saatnya,Jerimai pun dinikahkan Kik Cuan dengan seorang pemuda dari kamoung
setempat .Pernikahan ini diramaikan dengan berbagai acara ,termasuk kedurian
bagi orang kampung.
Beberapa waktu setelah perhelatan pernikahan
Jerimai,kampung dimana Kik Cuan tinggal sering ada kejadian seorang anak yang
bermain dipinggir hutan ,pemandian(bahasa setempat disebut aik arongan,red),bahkan
diladang .Selain ditempat-tempat tersebut ,tidak kerap pula ada kejadian
terbongkar nya kuburan orang yang baru saja meninggal.Baru saja jenazah orang
meninggal dimakamkan ,keesokan harinya kuburan tersebut terbongkar secara
teratur ,seperti diseruduk semacam moncong binatang yang tersisa dari jenazah
yang terbongkar itu ,biasanya ,hanyalah jari kuku dan kain kafan .
Kejadian-kejadian ini menimbulkan suasana tenang
dikampung Kik Cuan.Siang malam penduduk kampung selalu berjaga-jaga .Penduduk
laki –laki selain menjaga diladang pada siang hari berjaga-jaga dikampung pada
malam hari .Sementara kaum perempuan,selain menyiapkan makan bagi keluarga ,tak
boleh lengah mengawasi anak-anak mereka ketika bermain dipinggir hutan atau
ditengah ladang.
Dalam kondisi demikian ,suatu hari ,keluarga Kik
Cuan mendapat undagan kedurian pernikahan anak temannya yang tinggal diwilayah
Simpang Tige,sekarang rencananya ,Kik Cuan akan pergi keundangan tersebut
karena temannya itu dulu banyak membantunya saat pernikahan jerimai .Lagi pula,
ia tak mau menyinggung perasaan keluarga yang sudah susah-susah mengundangnya .
Cuma rawanya kondisi kampung saat itu,selalu
menjadi pemikirannya untuk memenuhi undagan temannya .Sebab ia sangat tahu
perjalanan menuju Kampung Simpang Tige yang akan ditempuhnya penuh resiko
.Apalagi ia harus membawa seluruh anggota keluarganya ,trmasuk jerimai yang
masih pengantin baru.
Mengantisipasi hal-hal tidak di inginkan keluarga
Ki’ Cuan akan berangkat berombangan ,bersama-sama orang kampung.Sementara
karena masih ada urusan yang harus di selesaikan sebelum berangkat, Ki’ Cuan
menyusul kemudian.
Rupanya,Jerimai yang harus nya berangkat bersama
rombongan orang kampung ,terlambat.Hingga ia harus berjalan sendirian, terpisah
agak jauh dari rombongan didepannya .Tetapi ditengah perjalanan ,tak ada yang
tahu apa yang menimpah jerimai ,sang penganten baru .
Sementara itu, dirumah ,setelah menyelesaikan
tugasnya Kik Cuan bergegas menujuh rombongan keluarganya yang telah lebih duluh
berangkat. Ditengah perjalanan ,Kik Cuan terkejut .Ia menemukan selembar
selendang berlumuran darah dan sisa potongan tangan didekatnya .Apa yang
terjadi ?Setelah mengamat-amati selendang berlumuran darah dan sisa potongan
tangan tadi,yakinlah Kik Cuan telah terjadi sesuatu pada Jerimai .
Sebab selendang yang ias temukan dikenali sebagai
selendang milik Jerimai yang digunakan ketika berangkat ke undangan tersebut..
Lalu dikuku jari sisa potongan tangan pun ia yakini tangan Jerimai ,sebab
dikukunya terlihat pacar (kutek tradisional yang biasa di gunakan untuk
pengantin,red) .
Menghadapi kenyataan itu dengan perasaan marah
Kik Cuan mempercepat langkanya menujuh tempat kedurian,yakinlah ia bahwa
jerimai telah mejadi korban mahluk yang meenggegarkan kampungnya akhir-akhir
ini .Sebab jerimai tak ada ditempat kedurian tersebut.Setelah menceritakan
temuannya itu kepada istri dan menantunya ,Ketiga orang itu pun kembali kekampungnya
.
Di antara rumah,istri dan menantu Ki’ Cuan
menangis sejadi-jadi nya.Malam hari nya Ki’ Cuan bermimpi yang membinasakan
anak nya adalah makhluk buas.,Se ekor limpai. ( Oleh penduduk
Belitung makhluk ini di gambarkan seperti babi,namun berukuran sangat besar,dan
di yakini ini adalah makhluk jadi-jadian,red.).Keesoakan
harinya, Ki’ Cuan mendatangi lokasi kejadian yang menimpa anaknya dan meminta
pertanggungjawaban siapa yang telah membinasakan Jerimai.Sekejap
kemudian,keluarlah limpai.Kepada limpai, Ki’ Cuan mengatakan akan menuntut
balas atas kematian anaknya.Di tantang demikian limpai setuju dan bersedia duel
dengan kehendak Ki’ Cuan.
Tujuh hari berikutnya,di daerah sekitar Genting
Apit,terjadilah duel hidup mati antara Ki’ Cuan melawan Limpai.Mencapai tengah
hari Ki’ Cuan telah mengeluarkan segenap kemampuan nya.Tapi,Limpai belum juga
dapat di kalahkan.Walau semua senjata seperti Tombak,Keris,dan Parang sudah di
gunakan,tapi tetap saja,Limpai tak bisa di kalahkan.
Lalu,keduanya sepakat beristirahat.Sambil
bersitirahat Ki’ Cuan makan sirih dan campuran nya dengan urak ( lesung
kecil sepanjang 15 cm dan berdiameter sekitar 5 cm,dari kayu atau
bamboo,berfungsi sebagai wadah pelumat capuran sirih.Untuk melumatkan campuran
sirih di dalamnya di gunakan alu kecil dari besi bergagang kayu biasa disebut
mata urak,red.).Sebagian dari sirih yang telah di
lumatkan,dan sebelumnya telah di mantrai,di berikan nya kepada Limpai.
Setelah itu perkelahian pun di lanjutkan.Karena
tidak ada senjata lagi yang bisa di gunakan, Ki’ Cuan menjadikan mate urak
sebagai senjata.Pertempuran berjalan terus.Namun keduanya masih terus bisa
bertahan.Selama itu Ki’ Cuan terus berusaha mengambil kesempatan untuk berada
di bawah perut Limpai.Pada saat itulah Ki’ Cuan menusukan matanya urak nya ke
perut Limpai.Sekejap kemudian makhluk yang telah menggegerkan kampung Ki’ Cuan
ini pun roboh.
Sebelum Limpai menghembuskan nafas
terakhir,Limpai bersupah : “ Mulai saat ini setiap keturunun Ki’ Cuan tetap
akan jadi muso bebuyutan ku. “
Karena sumpah itulah,hingga kini,masih banyak
yang percaya,di tempat Ki’ Cuan bertempur melaawan Limpai – daerah sekitar
Genting Apit,jika menyebutkan diri sebagai keturunan Ki’ Cuan,Limpai akan
datang ke tempat tersebut.Sebab,itu sama saja artinya,mengundang limpai untuk
berkelahi (Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib)
Sejarah Dan Misteri Batu Buyung/Batu Buyong
Di antara bebarapa objek wisata yang ada di pulau
Belitung,salah satu yang sering di kunjungi wisatawan local adalah batu buyung.
Obyek wisata ini berada di daerah paling ujung di
selatan Pulau Belitung,terletak sekitar 110 km dari kota Tanjungpandan,batu
Buyung bisa di capai menggunakan kendaraan roda dua maupun empat.
Kelebihan obyek wisata ini adalah sebuah batu
seukuran lapangan bulu tangkis yang terlihat agak unik.Layaknya sebuah batu
yang memang di letak kan di atas sebuah batu datar lain nya.
Selain sebagai tempat wisata,kawasan obyek wisata
Batu Buyung ini juga di kenali masyarakat sebagai tepat yang memiliki nuansa
magis cukup kuat.Hingga kerapkali orang-orang mendatangi Batu Buyung untuk
bernazar,semisal meminta sesuatu seperti nomor buntut dan sejenisnya.
Banyaknya masyarakat yang menjadikan Batu Buyung
sebagai tempat bernazar,tak terlepas dari cerita di balik keberadaan dan asal
usul Batu Buyung itu sendiri.Yang konon hanya sebuah batu kecil seukuran kepala
bayi ( buyng.red ) yang berasal dari Kerjaan Majapahit.
Di kisahkan,dalam satu misi perluasan wilayah,satu
armada kecil dari kerajaan Majapahit melihat sebuah ” gosong ” yang aneh.Tampak
seperti gosong,tapi pemandangan dari laut sangatlah indah.Terpesona dengan
keindahan gosong tersebut,serempak semua awak perahu menghentikan
pekerjaan.Mereka memilih menikmati keindahan tersebut daripada melakukan
pekerjaan.
Namun demikian,kendati memiliki kesempatan,mereka
tak berani langsung mendarat ke gosong tersebut.Takjub dengan keindahan gosong
tersebu,para awak perahu kerajaan Majapahit seperti merasakan hanya mendatangi
sebuah pulau tak ta berpenghuni saja..Tapi bedasarkan pengalaman di pulau-pulau
lain,mereka merasa yakin bahwa gososng yang indah ini pasti ada penghuni
nya.Dengan keyakinan tersebutlah kemudian mereka menyempatkan diri singgah
sebentar untuk sekedar beristirahat sambil menikmati indahnya gosong tersebut.
Sesampai di tanah jawa,pimpinan armada kecil
itupun segera melapor kepada raja.Menceritakan pulau temuan yang anggap ganjil
dan penuh misteri ini.Mendapat laporan demikian raja merasa perlu untuk segera
menanggapinya.Pertemuan singkat pun di gelar untuk memutuskan apakah pulau
tersebut akan di beri tanda sebagai milik majapahit.Di akhir pertemuan raja
menginstruksikan hulubalang membuat sebuah tanda berupa subuah batu yang di
buat dari batu dapur ( Tanah liat yang di bulatkan,biasanya di gunakan untuk
membuat dapur api di rumah-rumah di kampong,sebesar kepala buyung-bayi.red
).Mendapat instruksi demikian hulubalang pun segera menyiapkan sebuah batu
dapur lengkap dengan tali rantai yang panjang sebagai pengikat pulau tersebut
dari pulau jawa.
Setelah semua perlengkapan siap rombongan kedua
pun berangkat menuju pulau misterius tadi.Berbeda dengan misi sebelumnya,kali
ini anggota rombongan jauh lebih banyak.Singkat cerita setelah rombongan tadi
sampai di pulau misterius tadi,mereka segera meletakan Batu Buyung di tempat
nya sekrang ini.Dari Btu Buyung ini pula lalu di ikatkan rantai hingga sampai
ke pulau jawa.Sedang sebagian kecil tetap tinggal untuk mengawasi sekaligus
menjaga pulau tersebut agar tidak di ambil orang lain.Penjaga inilah yang konon
masih menghuni daerah dimana batu tersebut di letak kan.Kepada beliaulah
orang-orang minta sesuatu untuk kemudahan yang bersifat duniawi.
Saat ini Batu Buyung tadi sudah tidak seperti
keadaannya pertama kali di bawa dari tanah jawa,yang hanya seukuran kepala
bayi.Tapi sudah membesar hingga menjadi seukuran lapangan
bulutangkis.Namun,yang aneh bin ajaib,letak Bati Buyung ini persis seperti
sebuah batu yang memang di geletakan di atas sebuah batu datar lain nya.
Menurut pendapat setengah orang,jika batu ini di
dorong baramai-ramai ia akan tergeser ke lautan.Tetapi karena sekarang sudah di
anggap batu berpenghuni,maka orang tak berani lagimembuktikan nya.Pendapat lain
juga mengatakan bahwa,penghuni Batu Buyung saat ini ada tiga orang.Yaitu Bujang
Tanggok ( Melayu/Islam ),Taopekong Gambar Melayang ( Cina/Khong Hu Cu ), dan
Penderas kilat Di Awan ( Kulit Putih/Kristen )
Pendapat lain juga menyebutkan bahwa,permintaan
sesuatu kepada penunggu Batu Buyung ini akan bisa di kabulkan setelah peminta
melakukan pertapaan yang sangat berat ujian nya.Mula-mula pertapa di lemparkan
ke Gunung Baginda,lalu oleh penghuni Gunung Batu Beginda di kembalikan ke Batu
Buyung.Lempar melempar itu terjadi sebanyak tujuh kali secara berulang-ulang.Nah,jika
di pertapa berhasil melewati ujian pertama ini,maka si pertapa akan di
lemparkan ke sebuah gosong bernama GOSONG PARAK ,untuk uji secara magis.Setelah
seorang pertapa berhasil melewati ujian terakhir ini,barulah apa yang di
inginkan dan di sampaikan pertapa sebelumnya akan di kabulkan.
Memang sejauh ini tak ada yang menceritakan sudah
berapa banyak pertapa yang di kabulkan permintaan nya.Namun,sebagian masyarakat
tetap yakin bahwa,batu yang semula hanya berukuran kepala bayi itu telah berubah
menjadi sebesar lapangan buluhtangkis itu,tetap di jaga oleh pasukan yang di
kirim oleh Raja Majapahit ketika menguasai Pulau Belitung,hingga jadi terkesan
angker.
Hikayat Tuk Kundo
Sekitar kilometer 30 dari Tanjungpandan menuju
Kelapa Kampit, terdapat terdapat sebuah kampung bernama Parit Gunong. Berjarak
300 meter dibelakang kampung yang terletak di kaki Gunung Tajam ini, terdapat
sebuah kuburan Islam, dimana salah satunya adalah Makam Datu’ Kundo. Beliau
adalah salah satu dari murid Syekh Said Husein Abdullah, penyebar Agama Islam
di Belitung.
Diceritakan ketika Tu’ Kundo datang ke daerah
ini, kehidupan penduduknya masih diliputi suasana animisme. Tidak ada suasana Islam
sama sekali. Sehari-hari, selain dari hasil buruan pelanduk, rusa dan burung,
penduduk masih memakan lutong, kera serta Gadog (babi hutan, red.).
Dalam suasana dan situasi seperi itulah Tu’ kundo dengan penuh semangat mcnyebarkan Agama Islam. Dalam riwayatnya tak diketahui asal-usulnya, apakah pendatang dari luar pulau atau penduduk setempat yang berguru pada Syekh Said Husein Abdullah. Namun, umum mengakui Tu‘ kundo sebagai penyebar Islam paling berhasil di antara tujuh murid Syekh Said Husein Abdullah.
Dalam suasana dan situasi seperi itulah Tu’ kundo dengan penuh semangat mcnyebarkan Agama Islam. Dalam riwayatnya tak diketahui asal-usulnya, apakah pendatang dari luar pulau atau penduduk setempat yang berguru pada Syekh Said Husein Abdullah. Namun, umum mengakui Tu‘ kundo sebagai penyebar Islam paling berhasil di antara tujuh murid Syekh Said Husein Abdullah.
Di kampung Parit Gunong ini,
Tu’ Kundo menetap di pondok Mak Gadog, seorang janda yang memiliki gadis yang
menginjak dewasa. Suatu hari datanglah lamaran untuk putri Mak Gadog. Karena
tak ada keluarga yang ditunggu serta tak ada yang diajak bermusyawarah lagi,
Mak Gadog pun menyetujui lamaran tersebut.
Setelah lamaran diterirna, dipersiapkanlah segala
sesuatu yang berhubungan dengan acara kenduri yang akan dilaksanakan sesudah
panen Mak Gadog tahun ini.jadi untuk persiapan, beras sudah tak ada persoalan
lagi, tinggal lagi lauk-pauk kundangan. Maka Mak Gadogpun berusaha untuk
mencari ikan d sungai dengan memasang tekalak.
Perangkap ikan ini terbuat dan bambu yang dianyam berhentuk seperti terornpet
dengan bagian depan agak kecil dan membesar pada bagian badan lalu mengecil
lagi pada bagian belakang. Pemasangannya, bagian depan diletakkan menghadap
arus air, hingga ikan yang yang masuk dan terkurung di bagian tengah namun tak
bisa keluar lewat belakang karena ukurannya kecil.
Namun, ketika memasang tekalak, keberuntungan
nampak masih
belum berpihak pada Mak Gadog. Ditemani Tu’ Kundo, setiap malam mau mengambil
ikan selalu saja tekalak-nya kosong melompong.
Pada suatu malam, tu’ Kundo datang seorang diri
ke tempat Mak Gadog memasang tekalak. Tu’ Kundo
curiga, kalau-kalau ikan dalam tekalak telah terlebih dulu diambil orang lain.
kira-kira menjelang subuh tiba-tiba Tu’ Kundo melihat kelabat sebuah bayangan
mendekati tekalak Mak gadog. Di tangan bayangan itu nampak benda berkilat
memancarkan sinar warna keemasan. Melihat bayangaan itu, Tu’ Kundo segera
bersembunyi dibalik sebuah pohon besar tak jauh dari tekalak Mak Gadog, sambil
memperhatikan sosok dibalik bayangan tersebut.
Setelah diamati dengan seksama, Tu’ Kundo bisa
melihat jelas bayangan tersebut. Yang ternyata seorang tua berbaju putih
memegang sebuah tongkat berwarna keemasan. Yakin dengan apa yang diamatinya,
segera Tu’ Kundo menyerang, karena mengira pastilah orang tua tersebut yang
selama ini mencuri ikan-ikan dalam tekalak Mak Gadog. Rupanya kakek tua itu
bukan sembarang orang. Kendati sempat melakukan perlawanan ia akhirnya bisa
dikalahkan Tu’ Kundo. Namun belum sempat Tu’ Kundo membunuhnya, tiba-tiba kakek
tua itu berkata, “Nak jangan kite lanjutkan perkelahian
ini. Jangan ade di antare kite nok harus mati, sebab kan ngerugikan kite
sendiri. Sekarang, gini saja’ Sebutkan ape saja’ nok kau endake, semue pasti
kan kukabulkan.”
Tu’ Kundo heran dengan perkataan orang tua ini.
Sebab terdengar seperti bukan orang sembarangan. Kanena itu diputuskanlah untuk
tidak membunuhnya. Kepada orang tua itu Tu’ Kundo hanya minta nani mulut. “Kek, beri’ aku nani mulut,” ujar Tu’ Kundo.
Mendengar permintaan Tu’ Kundo, orang tua itu
kembali bertanya, “untuk ape kau minta nani mulut, nak?”
“Untuk ngembantu’
ngalakan urang-urang nok nyalae’ aturan dan ndak nurut kan aturan agama kamek,”
jawab Tu’ Kundo.
Mendengar jawab Tu’ Kundo, orang tua itupun
membuka mulut Tu’ Kundo dan meludahinya sebanyak lima kali. Setelah itu, orang
tua itu pun menghilang seiring datangnya pagi.
Ketika hari sudah semakin terang, Tu’ Kundo
segera mengambil ikan dari tekalak Mak gadog. hari itu karena datang lebih
dulu, Tu’ Kundo berhasil membawa ikan banyak sekali. Dalam perjalanan pulang
Tu’ Kundo mencoba apa yang telah didapatnya dari orang tua tadi. Diarahkan
pandangannya pada burung yang sedang berkicau, sambil berkata, “Sine’ kau burong” ajaib, semua burung yang dipanggil
Tu’ Kundo terbang ke arahnya dan hinggap di pundak, hingga membuatnya
kewalahan. Rupanya, kata Tu’ Kundo dalam hati, betul apa yang dikatakan orang
tentang kehebatan seseorang yang memiliki nani mulut. Kalau begitu, fikir Tu’
Kundo, lebih baik ku musnahkan saja kera dan lutong di pohon-pohon yang ada di
hutan ini. Sebab, masih banyak penduduk yang telah memeluk agama Islam saat itu
yang memakan kera dan lutong.
Karena itu setiap melalui pohon yang dihuni kera
dan lutong di sepanjang perjalanannya pulang Tu’ Kundo selalu berteriak
“Matilah mika’ semue !” Usai berkata demikian serempak kera dan lutong yang ada
di pohon berjatuhan ke tanah. Mati karena tuah nani milut Tu’ Kundo.
Setibanya di rumah, Tu’ Kundo menyerahkan semua
ikan basil tangkapannya kepada Mak Gadog. Namun, ia tidak menceritakan
pertemuannya dengan orang tua di dekat tekalak Mak Gadog.
Sebenarnya dengan Mak Gadog ini, Tu’ Kundo merasa berhutang budi, karena telah menyediakannya tempat tinggal. Tapi menghadapi Mak Gadog ini sangat hati—hati dan tidak mau
buru-buru meng-Islamkan-nya. Akhirnya, dengan kesabaran dan caranya sedikit demi sedikit Tu’ Kundo bisa mengajak Mak Gadog ke jalan Islam. Bahkan, ketika kendurian anaknya, Tu’ Kundo bisa meminta Mak Gadog untuk tidak menyediakan makanan yang diharamkan, seperti gadog, kera dan lutong.
Sebenarnya dengan Mak Gadog ini, Tu’ Kundo merasa berhutang budi, karena telah menyediakannya tempat tinggal. Tapi menghadapi Mak Gadog ini sangat hati—hati dan tidak mau
buru-buru meng-Islamkan-nya. Akhirnya, dengan kesabaran dan caranya sedikit demi sedikit Tu’ Kundo bisa mengajak Mak Gadog ke jalan Islam. Bahkan, ketika kendurian anaknya, Tu’ Kundo bisa meminta Mak Gadog untuk tidak menyediakan makanan yang diharamkan, seperti gadog, kera dan lutong.
Jadilah akhirnya Tu’ Kundo sebagai juru bicara
Mak Gadog setiap ada tamu yang menanyakan tetang makanan kepada Mak Gadog “Mak
Gadog ndak ade nyediakan nok ini agi’. Mun gi’ tadi’ se
mimang banyak panggang gadog, kera kan lutong,” kata Tu’ Kundo kepada
setiap tamu Mak Gadog.
Hingga akhirnya satu di antara undangan Mak Gadog
berkomentar, “Mak Gadog ne mimang la beruba andang-andangan
ini. Biasenye belau ne ndak keabisan nok itu te’. Tapi kitu te nda’
bagi’ barang sekerubitan.”
Mendengar komentar tamunya, Mak Gadog pun
menyahut, “Sebenare aku tu ndak ade agik ko kan nok
kitu. La kukaperkan semuenye.”
Lalu Tu’ Kundo pun menyambung, ” Mun Mak la ngaperkannye, make gadog, kera, lutong tadi’ jadi
kaper semuenye.”
Rupanya kejadian pada selamatan anak Mak Gadog
secara perlahan telah membuka hati penduduk Parit Gunong untuk mengikuti ajaran Islam.
Sementara, oleh Tu’ Kundo, cara-cara menyebarkan
islam seperti di rumah Mak Gadog dikembangkan sebagai model dalam penyebaran
agama Islam di daerah-daerah lain di kemudian hari. Setiap turun ke keleka’, dusun, kampung, ume,
gunung dan lembahnye sekitar tempat tinggalnya dan wilayah sekitar tak pernah
ada pemaksaan oleh Tu’ Kundo kepada penduduk, tapi dengan memanfaatkan situasi
yang sedang terjadi di masyarakat. Hingga dalam syiarnya tidak pernah terjadi
konflik masyarakat yang di—Islam—kaunya. Malah, dengan caranya itu, Tu’ Kundo
jadi sangat populer di masyarakat.
Singkat cerita, setelah Usianya bertambah tua,
Tu’ Kundo menghabiskan sisa hidupnya dengan mcnjadi imam jamaah mesjid Mesjid
Air Batu Buding. Di situlah beliau menjadi guru mengaji sekaligus tempat
bertanya masyarakat tentang segala yang berkaitan dengan Islam. Malah, menurut
sebuah sumber, ada sebuah kitab suci Al Quran yang hurufnya sebesar jari
kelingking bayi. Kitab suci tersebut dikenal dengan Al Quran Tu’ Kundo.
Di akhir hayatnya, Tu’ Kundo oleh masyarakat
dimakamkan di sebuah pekuburan di Kampung Parit Gunong. Tak ada yang istimewa
dengan makam beliau. Bentuknya sama seperti makam yang lain. Tapi oleh kuncen
makam Tu’ Kundo, dipercava bahwa beliaulah yang hingga saat ini menjadi semacam
penjaga penduduk Parit Gunong, terutama hal-hal yang menyimpang dari ajaran
Islam.
Asal Mula Keramat Gunung Tajam
Pada masa pemerintahan Kiai Agus Bustam, bergelar
Depati Cakraningrat IV (1700-1740 M) di Kerajaan Balok, Belitung,
seorang mubalig Islam bernama Sayid Hasan bin Abdullah atau Syekh Abubakar
Abdullah datang ke Belitung melalui Sungai Buding,
sekitar 45 kilometer (km) dari Tanjung
Pandan. Muhaligh asal Aceh ini bermaksud datang ke Belitung untuk
menyebarkan agama Islam dan bermukim di Desa Buding.
Dari Desa Buding ini, beliau menyebarkan agama
Islam ke seluruh pelosok Pulau Belitung. Dalam penyebaran dan melakukan syiar Islam, Ia
dibantu Tu’ Kundo, seorang muridnya yang terkenal. Tu’ Kundo inilah yang sering
menobatkan orang yang sering dianggap kafir untuk masuk islam. Tugas cukup
berat bagi seorang mubaligh. Karena itu tidak mengherankan kalau keduanya
selalu mendapatkan tantangan. Namun, dengan hati tabah kedua mubaligh ini terus
menjalankan kegiatan syiarnya. Singkat cerita, tanpa terasa sudah banvak daerah
yang penduduknya telah masuk Islam. Setiap daerah yang penduduk nya telah masuk
Islam, didirikan sebuah mesjid untuk tempat ibadah. Mesjid pertama yang
dibangun Syekh Abuhakar Abdullah berada di Kampung Badau, sekitar 22 km dari
Tanjungpandan.
Kuatnya syiar yang dilakukan Syekh Abubakar
Abdullah hingga banyak penduduk masuk agama Islam, tak pelak membuat Kiai Agus
Bustam yang pada saat itu tengah memerintah di Kerajaan Balok merasa takut
kehilangan kepercayaan dari rakyatnya. Hingga ia melakukan berbagai cara agar
kepercayaan rakyat kepadanya tak berkurang. Bahkan, ia tak segan-segan untuk
bertempur.
Suatu ketika, Kiai Agus Bustam mendatangi Syekh
Abubakar Abdullah untuk membunuhnya. Syekh Abdullah tak gentar. Sebagai seorang
mubaligh beliau tak takut meninggal. Upaya Kiai Bustam untuk membunuhnya ia
hadapi dengan gagah berani, hingga terjadilah perang tanding antara keduanya.
Namun, setelah bertempur cukup lama dan berbagai jurus sudah dikeluarkan Kiai Agus
Bustam, Syekh Abdullah tak juga terbunuh. Hingga akhirnya, Syekh tersebut
berujar kepada Kiai Agus Bustam, “Raje kalu’ mimang
benar-benar nak muno aku, ndak usa gini carenye. Tapi cukup pakai jarum emas
nok ade bang keminangan aku terus cucokkan ke ujong jempol kaki kanan aku.”
Rupanya niat Kiai Agus Bustam untuk membunuh
Syekh Abdullah memang telah bulat. Setelah tahu kelemahan Syekh Abdullah, tanpa
membuang waktu ia mengambil jarum emas di keminangan Syekh Abdullah dan
menusukkannya ke jari yang disebutkan. Seketika itu juga syekh dari Aceh itu
roboh. Wafat meninggalkan dunia yang fana berbalut amal kebaikan serta nama
besar sebagai penyebar agama Islam pertama di Belitung.
Sebenarnya, kepada Tu’ Kundo, Syekh Abdullah
pernah berpesan, “Kalu’ aku mati kelak, kuborkan
aku di antare langit dan bumi“.
Namun, karena saat meningal Tu’ Kundo sedang di luar Belitung, oleh pengikut
yang lain jenazah Syekh Abdullah dimakamkan pada sebidang tanah di sekitar hulu
Sungai Air Batu, Buding.
Dua—tiga bulan setelah kematian Syekh Abdulhah,
Tu’ Kundo kembali ke Belitung. Diceritakanlah oleh para pengikutnya kepada Tu’
Kundo tentang apa yang terjadi pada Syekh Abubakar Abdullah. Mendengar cerita
itu, Tu’ Kundo terdiam. Tak tahu apa yang harus diperbuat. Yang ia ingat hanya pesan
Syekh Abdullah kepadanya tempo hari.
Ingat pesan itu, ia pun berpikir keras
menafsirkannya. Setelah difikir-fikir mengertilah Tu’ Kundo, yang dimaksud
dikubur antara langit dan bumi adalah di atas puncak tertinggi gunung yang ada
di Belitung.
Nah tak jauh dan makam Syekh
Abdullah terdapat Gunung Tajam, gunung tertinggi di Belitung dengan dua puncak,
kerap disebut Gunung Tajam laki dan Gunung Tajam bini. Diantara dua puncak ini,
yang tertinggi adalah Gunung Tajam bini. Karena itulah, kemudian Tu’ Kundo
memutuskan untuk memindahkan jasad Syekh Abdullah dari hulu Sungai Air Batu
Buding ke puncak Gunung Tajam bini, yang berjarak sekitar delelapan kilometer.
Singkat cerita bersama pengikutnya yang lain, Tu’
Kando pun membongkar makam
Syekh Abdullah. Satu keajaiban terjadi selama
pembongkaran makam itu dilakukan. Jasad Syekh Abdullah yang sudah dimakamkan
selama kurang lebih tiga bulan tak sedikit pun ada perubahan. Kalau pun ada
hanya sebuah koreng kecil pada ujung jempol kaki kanannya, bekas tusukan jarum
mas. Juga tak ada bau busuk yang menebar. Malah yang terjadi sebaliknya. Bau
wangi merebak kemana-mana. Sebelum dibawa ke puncak Gunung Tajam laki, jasad
Syekh Abdullah dibungkus dengan kulit kayu kepang.
Namun, masalah baru kembali dihadapi Tu’ Kundo.
mengingat jalan dari hulu sungai Air Batu Buding menuju puncak Gunung Tajam
laki yang berjarak sekitar delapan kilometer, hanya jalan setapak, Tu’
Kundo dan pengikut Syekh Abdullah kesulitan untuk menemukan jalan menuju puncak
dan menentukan tempat yang cocok untuk untuk pemakaman. Untuk itulah kemudian
mereka menetapkan kucing kesayangan Syekh Abdullah sebagai penuntun menuju
puncak.
Singkat cerita, dengan dibungkus kulit kayu
kepang, Tu’ Kundo beserta pengikut lainnya dan masyarakat mengiringi kucing kesayangan
Syekh Abdullah menuju puncak Gunung Tajam. Satu keajaiban kembali terjadi.
Sepanjang perjalanan menuju puncak tak hentinya semerbak bau kembang setaman.
Keajaiban lain juga terjadi, sesampainya di satu tanah datar
di puncak Gunung Tajam laki, kucing kesayangan Syekh Abdullah mati. Kematian
kucing tersebut dianggap Tu’ Kundo sebagai syarat bahwa di tempat itulah jasad
Syekh Abdullah harus di makamkan. Sesuai dengan amanah, di tempat itulah
kemudian jasad Syekh Abdullah dimakamkan.
Saat menggali kuburan untuk Syekh Abdullah
kembali keajaiban terjadi. Selama
tujuh hari tujuh malam penggalian, silih berganti menebar bau wangi dan busuk.
Hal itu membuat masyarkat yang ikut ke pemakaman tersebut pulang, hingga
akhirnnya menyisakan tujuh murid Syekh Abdullah. Akhirnya, setelah penggalian
kuburan selesai jasad Syekh dimakamkan, sementara di ujung kakinya dimakamkan kucing
kesayangan beliau.
Karena dikuburkan di puncak Gunung Tajam, Sayid
Hasan bin Abdullah atau Syekh Abubakar Abdullah kemudian hari dikenal sebagai
Keramat Gunung Tajam atau Datuk Gunung Tajam. Kini, makam Keramat Gunung Tajam
itu menjadi tempat ziarah, yang selalu ramai dikunjungi orang terutama umat
Islam
Hikayat Padang Penyengat
Kisah ini bermula dari kedatangan Adipati
Cakaningrat I ke Belitung,yang
semulanya bermukim di daerah Balok (Balok Lama) pada akhir abad 16 awal abad
17,di riwayatkan sebagai keturunan langsung bupati Mataram yang pertama.Menurut
riwayat seetempat,saat Cakaningrat pertama datang di belitung,telah ada sebuah
wilayah “kerajaan” local,yaitu kerjaan Badau yang takluk pada majapahit.Kerjaan
ini didirikan seseorang bangsawan berasal dari Gresik,yang kemudian di kenali
sebagai “Datuk
Mayang Gresik” dan menamakan diri “Kiai Ronggo Udo”.
Berbeda dengan Cakaningrat Datuk Mayang Gresik
mendarat di sungai Berang,dan kemudian menempati daerah gunung badau,antara
daerah Pelulusan dan Nyuruk sekarang ini,dimana terdapat makam raja badau.Raja
terakhir dari generasi ini adalah Kiai Ronggo Udo.Sayangnya beliau tidak
mempunyai keturunan laki-laki.Beliau hanya mempunyai anak gadis bernama Nyai
Sitti (Dewi) Kesuma yang kemudian menjadi isitri raja balok pertama yaitu Kiai Rangga
atau Adipati Cakaningrat I atau Kiai gede Jakub.
Pada suatu waktu terjadi perselisihan antara
kerajaan balok dan kerajaan badau,tentang siapa membawahi siapa.Raja balok
mengklaim bahwa raja badau harus berada di bawahnya.Namun Raja badau tidak
menerima keadaan ini,karena merasa lebih dulu dating ke belitung,di
buktikan dengan adanya umbul-umbul merah putih yang di bawah dari majapahit
ketika datuk mayang gresik tiba di belitung.Bukti-bukti sejarah tersebut hingga
kini masih tersimpan di Museum Badau.
Keberatan Raja badau itu,membuat raja balok tidak
senang
dan kurang puas terhadap raja badau.Hingga setiap kali ada pertamuan antara
keduanya,selalu terjadi adu mulut walau belum menjurus kepada adu fisik.
Setelah kesalapahaman itu berlarut-larut suatu
hari datanglah utusan dari raja balok ke kerajaan badau untuk menyampaikan
ajakan adu kekuatan atau perang tanding di kerjaan balok.Oleh raja badau utusan
ini utusan ini disuruh menyampaikan kepada raja balok,agar siap menerima
kedatangan guna memenuhi tantangan tersebut.Namun sebelum pulang orang-orang
raja badau terlebih dahulu menggunduli kepala utusan raja balok tersebut.
Setiba di balok,murkalah raja balok atas
perlakuan kurang ajar terhadap anah buah nya itu.waktu itu membotaki seorang
utusan adalah penghinaan besar bagi kubu yang mengurus.Hingga Taja balok makin
bersemangat untuk segera perang tanding dengan raja badau.
Akhirnya.waktu perang tanding itupun tiba.raja
balok sudah menyiapkan penyambutan besar-besaran bagi raja badau disuatu
lapangan terbuka,tempat ia biasa melatih para pengawalnya berperang,yaitu padang
penyengat.raja badau merasa sangat gembira ketika tiba di lapangan itu,karena
merasa akan menang dalam pertandingan tersebut.Kegembiraan raja badau itu
rupanya tercium oleh raja balok,yang ia sindirkan dengan kegembiraan terakhir
sebagai orang yang akan takluk
Maka di mulailah perang tanding antara kedua
pasukan kerajaan.Namun,kendati semua system perang dan pertandingan sudah di
lakukan tak ada juga pihak yang menyatakan diri sebagi pemenang maupun merasa
kalah.Pada pertandingan terakhir tibalah giliran raja balok dan raja badau
untuk saling adu kemampuan.Karena korban yang jatuh sudah sangat banyak mereka
sepakat untuk tidak melakukan duel fisik secaa terbuka yakini adu sepak takraw.
Sebagai tamu raja badau yang di beri kesempatan
pertama dan berhasil menyepak raga hingga 10 meter.Ketika giliran raja balok
tiba suasana menjadi sunyi senyap,hening.dan raja balok mampu menyepak raga
hingga lebih ari 12 meter.
Melihat kenyataan bahwa dirinya kalah dari raja
balok,raja badaupun bersumpah,”Mulai detik ini tujuh keturunan kita tidak boleh
bersatu (kawin) kalau ini di langgar maka celaka lah semuanya.”
Sesuai peran tanding semua anggota pasukan menuju
sebuah telaga untuk membersihkan senjata tajam masing-masing,saking banyaknya
anggota pasukan yang mencuci senjata,seketika air telaga itu menjadi
merah,hingga kemudian telaga itu di kenal dengan sebutan TELAGA
DARA.
Akan sumpah raja badau,hingga keturunan ketujuh
memang masih perlu di perdebatkan.Namun,di desa bantam ada seorang tua dari
badau berkeluarga dengan orang balok dan sudah delapan anaknya meninggal
dunia.Setiap kematiannya sama,satu kakak tidak pernah punya adik.jika adik
lahir maka sang kakak akan meninggal dunia,dan begitu seterusnya.Apakah itu
karena sumpah Raja Badau ? wallahualam Bissawab.
Langganan:
Postingan (Atom)



