Senin, 30 Januari 2012

Padang Buang Anak di Belitung menurut sekilas cerita legenda

PPadang Buang Anak di Belitung menurut sekilas cerita legenda
Padang Buang Anak adalah nama sebuah tempat/ padang di Belitung. Padang ini tidak begitu jauh dari puncak tertinggi Pulau Belitung, yaitu Gunung Tajam. Dahulu, saat pembangunan belum begitu maraknya di kawasan ini, ada perasaan ganjil (kalau tidak mau saya bilang berkesan seram) saat melewati area ini. Hal ini dikarenakan bahwa Padang Buang Anak memiliki cerita tentang seorang perempuan yang kehilangan bayinya namun masyarakat tetangganya sudah terlanjur menghakimi bahwa perempuan tersebut membuang banyinya disebuah padang pada saat Belitung dilanda kemarau panjang dan padang ini sejak saat itu hingga detik ini – oleh masyarakat Belitung – disebut dengan nama Padang Buang Anak!
Berikut ini adalah cerita dan atau legenda yang diwariskan turun termurun tentang Padang Buang Anak:
Sekitar tahun 1300 silam, konon katanya Belitung pernah dilanda musim kemarau yang sangat panjang. Sangat sulit menemukan air dan akibatnya masyarakat Belitung menjadi sangat menderita karena kemarau panjang tersebut. Dalam cerita ini tersebutlah nama seorang wanita bernama Mak Dambe. Di suatu hari saat kemarau panjang sedang melanda tersebut, dia sedang berjalan perlahan dalam perjalanan panjangnya yang sangat melelahkan mencari sumber air. Dia turut membawa serta bayinya yang baru lahir dan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa. Dia telah mencari air selama setengah hari, akhirnya ia mencapai kaki Gunung Tajam. Namun, masih tidak menemukan air, sementara bayinya menangis keras.
Karena ia terlalu lelah dan haus, Perempuan bernama Mak Dambe ini pun akhirnya beristirahat dengan duduk di atas batu dan terus melihat keseliling dengan harapan akan menemukan air. Tidak lama kemudian, dia melihat kura-kura merangkak dari batu tempat ia duduk. Lalu ia memutuskan untuk mengawasi kura-kura itu, mungkin itu bisa membantunya menemukan sumber air.
Mak Dambe kemudian membuat lingkaran dengan batu-batu besar di tanah dan meninggalkan bayinya di dalam. Setelah itu dia mulai mengikuti jejak kura-kura tersebut. Akhirnya, kura-kura membawanya ke sebuah lembah di mana air mengalir keluar dari celah batu besar. Dia sangat senang dan lega. Dahaganya dengan meminum sedikit air menjadi hilang. Setelah merasa cukup, ia tiba-tiba menyadari bahwa ia harus segera kembali ke tempat ia meninggalkan bayinya. Butuh satu jam lama untuk kembali ketempat ia meninggalkan bayinya, sementara matahari sudah hendak terbenam. Mak Dambe, harus bergegas menemuai bayinya sebelum matahari terbenam!
Ketika ia kembali, ia melihat bahwa bayinya sudah tidak ada lagi. Ada ceceran darah dan jejak kaki binatang. Karena khawatir dengan keadaan bayinya, Mak Dambe menelusuri jejak kaki binatang tersebut. Sayangnya, dia tidak bisa menemukan bayinya meskipun dia telah masuk ke dalam hutan. Mak Dambe pun mulai menangis dan pulang dengan sedihnya serta perasaan kacau balau.
Tetangga Mak Dambe sangat terkejut setelah mendengar apa yang dikatakannya. Sejak kejadian itulah, orang-orang menamai tempat itu sebagai Padang Buang Anak!

Genting Apit Belitung

Popularitas serta misteriusnya Genting Apit bagi masyarakat Belitong mungkin melebihi Gua Misterius Pulau Nangka. Genting Apit sangat terkenal sekali di Belitung. Genting Apit tidak hanya dikenal dengan tikungan mautnya, namun juga terkenal dengan segala keangkerannya. Mungkin, Genting Apit ini adalah kawasan paling angker dan paling berbahaya di Pulau Belitong.
Genting Apit merupakan kawasan berbukit. Pada pertengahan bukit terdapat jalan raya – akses masuk menuju ke Kota Manggar (Kabupaten Belitung Timur) dari Kota Tanjungpandan (Kabupaten Belitung), demikian pula sebaliknya – berupa jalan tikungan berbahaya yang dibuat dengan membentuk seperti huruf “S”! Genting Apit ini bisa anda temukan saat anda sudah setengah perjalanan menuju Kota Manggar dari Kota Tanjungpanan.
Sudah tidak terhitung jumlah kecelakaan yang berujung maut pada tikungan Genting Apit ini. Sedangkan menurut beberapa kesaksian mata yang selamat dari kematian akibat kecelakaan tersebut, mereka mengatakan konsentrasi berkendara tiba-tiba buyar karena melihat sosok anomali mahluk adikodrati. Sejatinya, tikungan Genting Apit ini memang sangat berbahaya, karena siapa pun yang berkendara disana, tidak bisa langsung melihat kendaran yang ada dihadapannya karena tikungan seperti yang sudah saya katakan diatas, membentuk huruf “S”!
Segala kesiagaan, kewaspadaan dan tetap fokus saat berkendara adalah cara efektif untuk menghindari kemungkinan terburuk saat melewati jalan pada kawasan Genting Apit ini.
Genting Apit, memiliki pantangan, bahwa jangan sekali-kali kita mengucap kata “Kik Cuan”, kalau tidak mau didatangi oleh Jin Babi yang bernama Limpai. Meskipun ada juga cerita sebaliknya, jika kita tidak ingin diganggu oleh mahluk halus dikawasan tersebut, cukuplah kita menyebut “Kik Cuan”. Karena mahluk halus seperti Jin Babi Limpai dan sejenisnya takut dengan “Kik Cuan”.
Mana yang benar saya kurang tahu persis, hanya saja, Tim Trans 7 pernah menjajal Genting Apit untuk membuktikan pantangan tersebut. Setelah berulang-ulang menyebut “Kik Cuan”, Jin Babi Limpai tersebut tidak kunjung muncul.
Siapa itu “Kik Cuan” dan siapa pula Jin Babi Limpai”? Dan apa hubungannya dengan Genting Apit?
Menurut cerita rakyat Belitong, dulunya di kawasan ini setiap ada yang melewati Genting Apit ini selalu diganggu oleh sosok Jin. Jin ini perujudannya seperti Babi, dan mayarakat menyebutnya Limpai! Masyarakat jadi resah. Singkat cerita, seorang kakek tua yang dikenal dengan nama “Kik Cuan” dengan setting pertarung di kawasan Genting Apit, berhasil mengusir Jin Babi Limpai tersebut setelah bertarung dari tengah malam hingga menjelang fajar. Rupanya Kik Cuan terlalu sakti bagi Jin Babi Limpai tersebut.
Oleh karena itulah, bagi masyarakat Belitong, Genting Apit berkaitan erat dengan Kik Cuan dan Jin Bagi Limpai

Cerita mistis Antu Berasuk di Belitung

Pelanduk atau Kancil ilmiahnya Tragulus javanicus adalah hewan menyusui mamalia sebangsa kijang yang kecil tubuhnya. Pelanduk adalah spesies rusa berkuku genap dari keluarga Tragulidae. Pada ukuran dewasa ukurannya sama dengan kelinci. Pelanduk berhabitat di hutan hujan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jika dicapkan dalam logat Bahasa Melayu Belitong menjadi “Pelandok”.
Antu Berasuk – diucapkan dalam logat bahasa Melayu Belitung – adalah sosok hantu yang berburu Kancil atau Pelanduk dan Kijang di hutan, sosok hantu ini juga memiliki anjing yang dipergunakan untuk membantunya dalam menangkap hewan-hewan tersebut. Cerita ini ada di Belitung dan telah menjadi cerita yang benar-benar dimasukkan kedalam jiwa bagi para pemburu pelanduk dan kancil. Ada kemungkinan juga di daerah anda juga ada cerita yang mirip-mirip seperti cerita yang saya posting ini.
Konon cerita asalnya Antu Berasuk ini adalah seorang manusia juga seperti kebanyakan manusia normal lainnya. Namun sesuatu dan lain hal sepertinya telah mengubahnya menjadi sosok hantu.
Suatu ketika saat hantu ini masih menjadi sosok manusia, dia memiliki seorang istri yang sedang hamil. Dan tentu saja saat sedang menjalani kehamilan, sang istri dari pria itupun mengidam. Disinilah miskomuniskasi antara suami dan istri dimulai. Sang istri yang sedang mengidam, menceritakan keingginannya pada sang suami bahwa dia menginginkan (ngidam) pelanduk bunting laki. Maksudnya disini adalah istri meminta suaminya untuk berburu pelanduk betina yang sedang mengandung anak jantan. Namun ternyata yang dipersepsikan oleh sang suami adalah pelanduk jantan yang sedang mengandung.
Karena telah tahu bahwa keinginan mengidam setiap wanita yang hamil adalah harus secepatnya dipenuhi, maka tidak ayal lagi pada malam harinya sang suami pergi berburu kehutan dengan ditemani oleh anjing peliharaannya. Setelah sampai dihutan sang suami pun berburu. Namun alangkah kecewanya dia saat Beberapa banyak pelanduk hasil buruannya adalah pelanduk betina yang sedang hamil. Sedangkan yang diinginkannya adalah pelanduk jantan yang sedang hamil. Dia terus mencari dan mencari namun tidak kunjung ditemukan pelanduk jantan yang sedang mengandung. Diambang rasa frustasinya adalah semenjak hari dimana dia meninggalkan rumah beserta istrinya yang sedang ngidam karena hamil, dia terus mencari dan tidak pernah pulang semenjak saat itu. Dan disinilah konon katanya menurut cerita yang sudah diwariskan turun-temurun pada kalangan masyarakat Belitung, dia berubah menjadi hantu yang bagi masayarakat Belitung dikenal dengan Antu Berasuk. Tidak Cuma dia yang berubah menjadi hantu, anjing yang menyertainya juga ikut berubah menjadi hantu.
Bagi para pemburu di Pulau Belitung, cerita yang tidak masuk akal ini benar-benar telah tertanam dalam otak dan hati mereka terhadap kehati-hatian saat berburu pelanduk dihutan. Cerita yang sudah turun terumurun ini oleh kalangan orang-orang tua dari dulunya telah memberikan penanggalan-penanggalan penting saat hendak berburu pelanduk dihutan.
Misalnya tanggal 14-15 pada tiap bulannya dimana pada tanggal tersebut adalah purnama raya. Efektif berburu hewan tersebut adalah memang malam hari. Tidak Cuma tanggal tersebut yang dilarang, tanggal 16-17 dan 29-30 juga merupakan tanggal yang sanggat dianjurkan untuk tidak kehutan dan berburu pelanduk. Kenapa dengan semua tanggal tersebut? Tidak ada jawaban ilmiahnya, namun yang pasti berdasrkan cerita turun temurun, tanggal-tanggal tersebut adalah dimana kemunculan Antu Berasuk menampakkan diri. Artinya dia juga sedang berburu guna mencari pelanduk jantan yang sedang hamil seperti yang dijelaskan diatas.
Beberapa kejadian-kejadian ganjil berselimut mistis yang dialami oleh para pemburu-pemburu pelanduk saat mereka berburu. Beberapa diantaranya adalah:
  1. Yang pertama, saat pelanduk telah terkena tembakan senapan angin para pemburu, namun saat dicari tidak ada pelanduk yang tergeletak terkapar. Yang ada hanyalah ceceran darah.
  2. Hal ganjil kedua adalah, dimana saat pelanduk yang telah tertembak dan ditangkap untuk siap-siap disembelih, tiba-tiba tidak tahu entah dari mana dantangnya sesiur angin berhembus seperti desingan saat kita mengayunkan pedang membelah udara kosong yang terdengar didepan para pemburu yang sedang memegangi pelanduk yang sudah tertangkap, begitu dilihat kepala pelanduk tersebut sudah berpisah dari lehernya. Padahal pihak pemburu sama sekali tidak/ belum menyembelihnya.
  3. Hal ganjil yang ketiga adalah, kejadian ini sering dialami oleh Beberapa pemburu, namun tidak semua pemburu yang mengalaminya yaitu saat tiba masuk kehutan rimba, hutan rimba tersebut terasa teduh, hening, senyap bahkan tidak terdengar sama sekali desahan hembusan angina yang membuat dedaunan bergerak. Semuanya menjadi diam.
  4. Hal ganjil yang selanjutnya adalah apabila pemburu mengikutsertakan anjingnya untuk berburu, seolah-olah ada kemunculan Antu Berasuk, anjing yang galak atau aktif sekalipun akan berlari dan mengampiri tuannya dengan bersembunyi dibalik betis tuannya dengan posisi ekor yang menguncup dan masuk kedalam selangkangan anjing tersebut. Mungkin bagi sang anjing ini adalah sebuah ketakutan yang luar biasa terhadap sesuatu. Perlu juga diketahu bahwa anjing (dan hewan lainnya) adalah mahluk yang sangat peka sekali, terutama terhadap hal-hal yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Konon katanya Antu Berasuk tersebut sering mengawasi penduk dari ketinggian yang paling tinggi, misalnya dari puncak batang pohon yang paling tinggi. Sedangkan saat anjingnya mengeluarkan suara menyalak, seisi rimba semuanya diam, hening, senyap. Tidak ada desau angin yang berhembus, suara jangkrik atau jenis binatang malam pun tidak ada. Semuanya sepi hening senyap!

2 komentar:

  1. blogmu sdh cukup bagus, namun mungkin masih perlu dibenahi lagi dengan menambah jumlah gadgetnya, merubah templatenya, menambah artikelnya, juga bpk blm melihat adanya artikel wajib yg harus dimasukkan ke blognya..?? masukkan juga video2 tentang materi pelajaran yang berasal dari youtube, masukkan juga video perpisahan yang telah kalian buat di semester satu kemarin, ajak teman2nya utk memfollow blognya, atau apa saja yang baik yang dapat menaikkan peringkat blognya ke papan atas, dan satu hal lagi yaitu jaga supaya blognya tetap eksis sampai kapanpun dengan jalan jangan pernah berhenti mengupdatenya . ITU..

    BalasHapus
  2. Maksih atas cerita yang telah anda berikan saya lebih tau tentang cerita rakyat yang ada khususnya di daerah belitong cerita udah bagus meski di perbaiki lagi kalimatnya dan kuasa kata nya agar cerita tersebut menjadi lebih bagus

    BalasHapus