Rabu, 15 Februari 2012

certe rakyat Belitung


Hikayat Keramat Gadong
Buding adalah desa terdekat wilayah Kecamatan Kelapa Kampit,berjarak sekitar 44 kilometer dari Tanjungpandan,ibu kota Kabupaten Belitung.Penduduk desa ini memiliki legenda “ kebanggaan “, Keramat Gadong.
Kisah ini terjadi jauh sebelum datang penjajah.Di saat jalan raya yang menghubungkan Tanjungpandan – Manggar ( seperti sekarang ini ) belum ada.Saat sebagian besar penduduk memilih tinggal di pedalaman untuk menghindarkan gangguan lanun yang suka merampok,serta menculik wanita dan anak-anak.
Di antara penduduk Belitung yang tinggal dii pedalaman tersebut terdapatlah satu keluarga bermukim di sekitar daerah Buding mengarah ke Pering.Keluarga ini mengandalkan hidup dari hasil ladang,hingga mereka selalu berpindah-pindah mengikuti ladang yang di buka.Kepala keluarga itu bernama Kuman Manor.Ia memiliki seorang istri yang sedang mengandung anak keduanya dan seorang anak perempuan bernama Taila.
Hatta.Suatu hari,saat sedang musim mengetam padi,kubok ( kumpulan rumah di tengah perladangan / ume,red.) Kuman Manor di datangi serombongan lanun di bawah pimpinan Panglima Usup.Mereka datang melalui Pantai Pering,bermaksud merampok dan berbuat aoa saja yang menurut mereka baik.
Tapi kedatangan kelompok lanun ini ke kubok Kuman Manor nampaknya tak sesuai harapan semula.Mereka tidak bisa berbuat sekehendak hati terhadap penduduk di kubok itu,karena Kuman Manor adalah orang yang tidak gampang di taklukkan.Hingga terjadilah perang tanding mengandalkan pedang,tombak,keris,petumang,dan lain-lain senjata antara para lanun pimpinan Panglima Usup melawan penduduk kubok Kuman Manor.
Dalam perang tanding itu satu demi satu lanun tewas di tangan Kuman Manor.Sedang dia sendiri jangankan luka,tergorespun tidak.Perang tanding ini di akhiri dengan menyerahnya Panglima Usup dalam kondisi sangat kritis dengan luka parah di sekujur tubuh.Oleh Kuman Manor,Panglima Usup yang sudah menyerah dengan luka parah itu bukan nya di bunuh,malah di bawanya kerumah untuk di obati.
Berhari-hari setelah diobati Panglima Usup dan kebetulan yang sehari-harinya tinggal di rumah Kuman Manor berangsur sembuh.Kebaikan keluarga ini rupanya telah membuat hati Panglima Usup tergugah.Hingga ia kemudian menganggap Kuman Manor sebagai orang tua sendiri.Sementara Kuman Manor yang belum memiliki anak laki-laki juga tak keberatan mengangkatnya sebagai anaknya.
Sesudah berbulan-bulan berdiam di rumah Kuman Manor,timbul keinginan Panglima Usup untuk berlayar.Keinginan itu ia utarakan kepada ayah dan ibu angkatnya yang kemudian tidak keberatan mengabulkan permintaan tersebut.Oleh ibu angkatnya dimasaklah berbagai macam makanan untuk sangu ( bekal,red ) selama dalam pelayaran.Keesokan harinya,diantara kedua orang tua angkatnya,Panglima Usup berangkat dari Pantai Pering,Ia menggunakan perahu yang dulu di gunakan untuk merompak,berangkat ke laut lepas menuju pulau Daek.
Selang beberapa kemudian,Panglima Usup yang sudah mempunyai anak buah para lanun lagi,datang menemui Kuman Manor.Bukan untuk merampok,melainkan bersilaturahmi kepada orang tua angkatnya.Untuk kedua orang tua dan adik angkatnya Panglima Usup membawa banyak sekali oleh-oleh ,hingga ia di sambut dengan penuh suka cita oleh Kuman Manor.Setelah kedatangan itu,berulangkali Panglima Usup datang dan pergi menemui kerluarga Kuman Manor.Dan setiap kali Panglima Usup datang selalu disambut dengan makanan kesukaannya,kukus.
Alkisah,pada suatu hari yang seharusnya menjadi waktu kedatangan Panglima Usup,ia tidak datang.Hingga ibu angkatnya khawatir dan gelisah ,kalau-kalau terjadi sesuatu dengannya.Berbeda dengan istrinya,Kuman Manor tak khawatir sedikitpun.Ia malah berfikir suatu waktu Panglima Usup pasti akan datang kembali bukan untuk bersilaturahmi,tetapi membalas dendam.Pikiran it uterus menerus berkecamuk di hati Kuman Manor.
Merasa waktu kedatangan sudah dekat,istri Kuman Manor menyiapkan berbagai makanan untuk menyambut kedatangan Panglima Usup.Sementara itu Kuman Manor tidak mau menyambut Panglima usup.Hingga membuat istrinya ,yang sedang bersusah payah menyiapkan makanan,marah.Karena itulah,setelah berfikir sejenak,Kuman Manor memutuskan akan berangkat besok pagi-pagi sebelum terbang lalat bersama isrinya.Ia juga minta istrinya memasak nasi ketan.
Esok harinya,setelah subuh,mereka berangkat.Namun,sepanjang perjalanan perasaan yang mengganjal fikiran Kuman Manor terus berkecamuk,sehingga ia mengurungkan niat melanjutkan sisa perjalanan.Mengingat pula ketika itu istrinya sedang hamil tua.Beliau khawatir akan terjadi sesuatu yang tak beres.Namun,atas desakan istrinya,walau berat hati,mereka tetap meneruskan perjalanan.
Singkat cerita begitu Kuman Manor sampai di pinggir Pantai Pering,tampak perahu lanun tengah berlayar mengarah ke pantai.Dugaan bahwa Panglima Usup yang dulu mengaku sebagai anak angkatnya akan melakukan balas dendam nampaknya akan segera terbukti.Dan hal betul-betul terbukti,ketika setelah dekat pantai perahu-perahu lanun mengepung Kuman Manor dari segala penjuru.
Melihat Kuman Manor sudah terkepung,Panglima Usup tak mau menyiakan kesempatan yang telah lama ia rencanakan itu.Begitu Kuman Manor telah betul-betul terpojok,ia langsung menyerang dari segala penjuru.Kuman Manor berusaha mempertahankan diri dari serangan ganas para lanun tersebut.Tapi,walau ia seorang yang tangkas dan sakti atau mungkin ajal sudah dekat,akhirnya tertangkap dan di bawa masuk ke perahu.
Di atas perahu itulah kelompok lanun mengeroyok Kuman Manor habis-habisan.Nah,dalam pengeroyokan itu Kuman Manor meminta agar istrinya dibebaskan karena sedang hamil tua.Perimintaan itu di turuti Panglima Usup.
Setelah menurunkan istri Kuman Manor,tanpa perikemanusiaan Panglima Usup memotong leher Kuman Manor hingga hampir putus.Setelah itu ia berteriak,” Mulai sekarang habislah panglima daratan Pulau Belitung.” Sekejap kemudian ia pun melemparkan Kuman Manor yang telah diikat dengan leher hampir putus ke laut.
Tapi,sebuah keajaiban terjadi.Tubuh Kuman Manor yang telah terikat dengan leher hampir putus terlihat menggeliat dan berteriak,” aku ndak mati,naikan agik aku ke perahu.” Terkejut dengan teriakan itu,segera anak buah Panglima Usup menaikan kembali tubuh Kuman Manor ke atas perahu.Sesampai di atas perahu Panglima Usup langsung menebas perut Kuman Manor hingga isi perutnya terburai keluar.Setelah itu,kembali Panglima Usup melemparkan tubuh Kuman Manor ke laut.
Dan,untuk yang kedua kalinya,keajaiban terjadi.Tubuh Kuman Manor kembali menggelepar dan berteriak.” Aku ndak mati.Tapi mun benar mikak nak muno aku,naikan aku ke perahu,lalu mikak cabut kuku induk jari kaki kanan aku.”
Oleh para lanun,Kuman Manor segera dinaikan lagi ke perahu dan langsung mencabut kuku induk jari kaki kanan nya.Setelah memastikan Kuman Manor betul-betul tewas,mayatnya di lemparkan kembali ke laut.Setelah itulah baru mayat Kuman Manor terkubur di laut.
Tak lama berselang setelah Kuman Manor terbunuh,istrinya melahirkan anak keduanya,seorang bayi laki-laki,yang kemudian hari di kenal sebagai Keramat Gadong.
Berselang 15 tahun,Keramat Gadong tumbuh besar dan mulai tahu tentang arti ayah-ibu.Karena tak pernah bertemu,ia pun bertanya hal ihwal ayahnya.Oleh ibunya ia selalu mendapatkan jawaban kurang jelas.Setelah dewasa,bahkan ibunya tak juga memberikan jawaban pasti mengenai keberadaan ayahnya.
Penasaran dengan keberadaan sang ayah,Keramat Gadong pun lalu bertanya kepada Makciknya,Yak Linong.
Kemane la Bapak aku ne Cik,kiape bentuk badan belau to,” Tanya Keramat Gadong.
Yak Linong menjawab,” Bapak kau to gede badannye,tapi belau la mati debuno Panglima Usup,urang Daek.”
Aku nak beliaten ken Bapak,” Lanjut Keramat Gadong.
Kiape kau nak beliaten ken belau,kaluk la mati,” Jawab Yak Linong.
Tapi,aku nak beliaten,suat munggak’e “ Desak Keramat Gadong lagi.
Di desak demikian,Yak Linong pun menjawab seadanya,” Mun kau nak beliaten kan Bapak kau,kau harus betarak antare Aik Buding kan Aik Linggang.Lalu kau harus mawak sangu tujo ikok ketupat.”
Setelah mendapat keterangan Yak Linong,esok harinya Keramat Gadong meminta ibunya menyiapkan tujuh ketupat untuk sangu.
Di malam pertama betarak, Keramat Gadong makan satu ketupat,tapi ia belum juga bertemu ayahnya.Begitu juga dengan ketupat kedua,ketiga hingga keenam.
Pada malam ketujuh,ketupat terakhir ia makan.Begitu ketupatnya habis,ia memohon kepada yang Kuasa agar dapat bertemu roh ayahnya.Setelah beberapa waktu tepekur,ia pun tertidur nyenyak.Dalam tidur itu lah ia bermimpi bertemu arwah ayahnya sambil berujar , “ Kau ndak akan betemu ken aku,karene aku la de alam lain.Tapi,ape kehendak kau akan ku kabulkan.”
Dalam mimpi itu,Keramat Gadong tidak meminta apa-apa dari roh ayahnya,kecuali mau menuntut balas atas kematiannya.Karena itu roh ayahnya langsung berujar,” Baikla mun kitu se,karene aku di alam lain,kau de alam lain,mun kau nak ngelanggar tana Daek,sape la aku.Sebab aku duluk e mati de tangan Panglima Usup urang Daek.”
Setelah itu Keramat Gadong bersumpah,”Setiap keturunan Keramat Gadong dak kuang bekawan kan urang Daek.Karene mun bekawan,kawan itu la nok kan ngembuno kamek.” Keramat Gadong juga berpesan kepada anak cucu nya kelak,” Mun keturunan aku ade ape-ape umpamenye kesusahan dan sebagainye,tunu kemenyan,panggil name aku,pasti aku datang.”
Begitu kisah pertemuan Keramat Gadong dengan roh ayahnya.Setelah pertemuan itu, Keramat Gadong tinggal berpindah-pindah di hutan antara Buding – Penirukan.Sehari-hari ia berladang sambil menyebarkan agama Islam.Dalam syiarnya, Keramat Gadong memiliki bekal kesaktian di cincang tak mempan,di rendam tidak mati dan di baker tidak di makan api serta berani menghadapi tantangan selalu menggunakan senjata andalan.Di antaranya tombak,pedang,dan dua buah petunangan.Sementara kakaknya,Taila berkeluarga dengan orang Langkang,yang kemudian di temukan penginggalan Keramat Gadong.
Hingga tahun 1986-an senjata penginggalan Keramat Gadong masih di pelihara keturunan nya,Pak Kadir,berupa tirok dan sebuah pedang.Benda penginggalan tersebut,oleh Belanda pernah di minta disimpan di Museum Tanjungpandan ( Belitung ).Tapi,benda-benda itu tak lama di simpan di Museum,sebab tak boleh di bawa kemana-mana,ia harus dipelihara oleh keturunan nya.Benda warisan itu masih mempunyai kekuatan magis,semisal untuk tangkal dan pengobatan.
Tentang akhir riwayat Keramat Gadong,beliau menginggal dunia tidak terkubur dan raib menjelang subuh.
Pada malam beliau raib, Keramat Gadong mengumplkan semua anak cucunya di kubok di tengah ume.Kira-kira menjelang Subuh,salah satu cucunya mengingatkan,” Be kakik tek ngape lum debangunek,arine la siang,la kan subo.” Karena waktu subuh sudah masuk,cucunya menyibakan kelambu tempat Keramat Gadong tidur sendiri,tanpa di temani istrinya.Tapi apa yang di temukan kemudian,hanya sebuah bantal guling yang di tutupi kain.Setelah kain penutup di buka,ternyata Keramat Gadong tak ada di dalam.Ia raib,hingga yang di kuburkan oleh keluarganya hanyalah bantal guling yang di temukan di dalam kelambu.
Kuburan bantal guling itu sendiri terletak di Pering,yang kemudian menjadi tempat orang bernazar.
Semasa hidupnya,beliau pernah menanam racun di Aik Tembako,yang terletak kea rah menuju Laut Sandong.Aik Tembako ini ketika sedang musim kemarau tidak boleh di ambil,karena mengandung racun yang memabukan.Konon,racun itu di tanam beliau sebagai salah satu strategi untuk mematikan para lanun yang suka mengambil air di tempat tersebut.Hingga begitu para lanun itu meminum air tersebut,maka akan matilah mereka.
**~~~**
** Sebagaimana informasi pada cerita di atas,bahwa makam Keramat Gadong berada di sekitar Pering. Dan menurut informasi dari salah satu sumber yang di temui crew jelajahbelitung, keberadaan makam Keramat Gadong memang berada di sekitar Laut Pering dan Desa Penirukan.Mungkin pada lain kesempatan kami akan menelusuri lokasi tersebut,dan mengambil data gambar makam Keramat Gadong untuk menambah bukti kan sejarah tersebut.
Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib

 

 



Riwayat Putri Nurjanu / Nibong Belegong

Beberapa ratus tahun lalu,di kampong Aik Kelekak Nangkak ( sekarang Dusun Dudat ),tinggalah seorang ibu tua bernama Dayang Samak bersama anaknya-anaknya.Di rumah itu juga tinggal seorang gadis dari seberang bernama Nurjanu.
Gadis ini konon dikabarkan berparas sempurna.Berkulit bening,laksana kaca.Hingga dilukiskan jika ia minum,air yang ia minum itu bisa terlihat ketika lewat di kerongkongan nya.Rambut panjangnya di lukiskan : bila di bersihkan perlu tujuh ramunan ( bahasa local berate kayu penjemur pakaian ,red ) untuk menjemur.Hebat nian bunga Aik Kelekak Nangka ini.
Penduduk Aik Kelekak Nangkak sendiri hanya berjumlah seratus bubungan rumah atau seratus kepala keluarga.Selain berladang,kehidupan mereka sehari-hari bergantung pada mencari pekarangan untuk di buat pekasam.Kendati jarak kelekak ini cukup jauh dari laut,tak menyurutkan mereka untuk pergi dan pulang ke tempat kerjanya dengan teratur.
Begitulah kehidupan sehari-hari penduduk kelekak ini.Begitu pula kehidupan Dayang Samak.Namun kerja Putri Nurjanu seharian hanya bersolek.Hal tersebut merupakan kehendak Dayang Samak yang takut kalau kulit dan kecantikan Nurjanu akan jadi rusak kalau ikut kerja.
Dalam keseharian Nurjanu memiliki teman bicara bernama Bujang Dultalip.Dengan pemuda inilah seharian di bicara apa saja.Sementara penduduk kelekak yang menyaksikan kelakuan Nurjanu dan Dultalip tak sedikit pun merasa jengah.Mereka malah bangga,karena dengan adanya Nurjanu,kelekak mereka jadi terkenal ke wilayah sekitar,hingga banyak orang yang singgah sekedar ingin melihat.
Penduduk yang hidup mengandlkan pekarangan dari hari ke hari kehidupan nya makin membaik.Sementara yang berladang pun panen padinya makin melimpah.Hingga Dayang Samak merasa perlu untuk merayakan nya.Dengan disponsori Dayang Samak,penduduk setempat sepakat patungan untuk membeli alat becampak seperti : Tawak-tawak,Gendang dan gong besar,sedang,kecil,serta sejumlah alat pukul lainnya seperti Kelinang.Setelah terkumpul uang untuk membeli perlengkapan muasik itu,maka kehidupan di kelekak itu pun jadi makin meriah.
Singakat cerita,Dayang Samak oleh penduduk kelekak ini rupanya juga telah merubah corak rumah penduduk.Kalau sebelumnya rumah mereka hanya berasal dari kulit kayu dan lantai gelegar saja,kini banyak penduduk yang membuat lebih dari itu,malah ada yang mulai membuat rumah berlantaikan tanah.begitupun dengan Dayang Samak,sebagai Bos ia berfikiran harus lebih dari yang lain,hingga ia pun membangun rumah tinggi,dan menjadi paling tinggi di Dudat saat itu.Dan ,kehidupan di rumah tinggi yang di lengkapi Nurjanu pun berubah total.Dari hanya seorang gadis cantik saja berubah menjadi gadis sombong dan angkuh.
Pokonya lengkaplah ia menjadi seorang gadis yang cantik,sombong dan angkuh.Sebagai primadona kelekak kemana-mana ia tak pernah lepas dari kawalan Bujang Dultalip.Setiap mentas campak ia selalau memilih berpasangan dengan laki-laki paling ganteng di antara yang ikut campak.Hingga membuat laki-laki yang tidak bisa becampak dengan nya menjadi rendah diri dan tak mau ikut becampak.
Setiap sore,sambil menjuntai kedua kakinya yang bagus itu,Nurjanu selalu duduk berangin-angin di bagian atas rumah tinggalnya.Bila ada lelaki yang lewat,walau hanya sekedar melihat,kontan ia akan meludahi orang tersebut.
Suatu ketika terjadi peristiwa ia meludahi seorang pemuda yang konon dari daerah Belantu.Begitu Nurjanu meludah ia langsung menatap dan memungut ludah Nurjanu yang jatuh dekat kakinya.Kemudian ia meneruskan perjalanan di iringi derail tawa penuh penghinaan dari Nurjanu.” Wanita cantik itu harus di beri pelajaran.Jangan karena cantik ia jadi sombong,” gerutu pemuda itu dalam hati dengan penuh dendam.ia pun langsung pulang ke Belantu,sambil merencanakan pembalasan atas penghinaan Nurjanu.
Suatu hari penduduk melihat pemuda itu kembali ke Aik Kelekak Nangkak.Di tangan kirinya ia menjinjing sebuah keranjang bambu.Matanya selalu mengawasi kemana perginya Nurjanu setiap pagi dan sore.Rupanya pemuda Belantu ini mengawasi gerak-gerik Nurjanu untuk mengetahui dimanakah si Jelita yang sombong itu mandi.
Akhirnya ia pun tahu,dikawal Bujang Dultalip,Nurjanu selalu mandi di Air Magnum.Setelah di ketahui tempat dimana Nurjanu mandi.suatu siang ia pergi ke bagian hulu air Magnum.Tak ada yang tahu apa kegiatan pemuda itu di sana.
Beberapa waktu setelah pemuda itu pergi ke hulu Air Magnum,di tempat tersebut tumbuh sebatang pohon bamboo aneh.Mengetahui ada pohon bamboo aneh yang tumbuh di bagian hulu,Nurjanu pun dating untuk melihat.Tapi,setelah sampai ke pohon bamboo tersebut,ia sama sekali tak melihat ada yang aneh,ia pun berujar, “ Ndak ade ape-ape bulo ne
Setelah itu ia pun kembali ke tempat ia biasa mandi sambil tertawa cekikikan seperti ada yang menggelikan hatinya.Namun,apa yang terjadi kemudia ? Nurjanu berteriak histeris hingga mengundang Bujang Dultalip untuk mendekat.Apa yang di temukan Dultalip sangat mengagetkan.Nurjanu telah terbujur kaku.Putri sombong itu telah mati.Dultalip pun lalu membawa mayat Nurjanu ke rumah Dayang Samak dan di kuburkan di sebuah tempat yang tak jauh dari rumah tersebut.
Begitulah kisah kematian Nurjanu,karena racun yang di tanam pemuda asal Belantu yang bersamaan dengan tumbuhnya bamboo aneh di huli Air Magnum.Sejak saat itu tak seorang pun penduduk kelekak tersebut berani mandi di Air Magnum,sebab akan mati seketika.Konon,dari kisah inilah racun Belantu jadi terkenal.
Merasa takut akan jatuh korban berikut semua penduduk Aik Kelekak Nangkak hijrah ke kampong yang saat ini bernama Prepat,sekitar lima kilometer dari Dudat.Mereka membawa seluruh barang-barang mereka,termasuk alat musik pengiring untuk becampak.Di tempat baru itu mereka pun teteap melanjutkan kehidupan mereka dengan mencari pekarangan untuk di buat pekasam.Mereka juga tak lupa sesekali menghibur diri dengan menari campak setelah letih bekerja seharian.
Namun,setiap kali penduduk Prepat becampak dengan menggunakan alat musik dari Dudat,seringkali terlihat seorang putri cantik di tengah mereka ikut menyaksikan orang becampak.Di duga ia adalah arwah Nurjanu yang penasaran.
Pada suatu malam Dayang Samak mendapat mimpi bahwa untuk menenangkan arwah Nurjanu,gong besar pengiring musik campak harus dikuburkan tak jauh dari kuburan Nurjanu.Akhirnya,setelah bermufakat dengan tetua kampong,diaraklah gong besar itu dari perpat ke Kelekak Aik Nangkak untuk di kuburkan dengan makam Nurjanu.
Beberapa tahun setelah gong tersebut di kuburkan,di atas kedua kuburan tersebut muncul masing-masing sebatang pohon nobong ( nibung ).Sejak saat itulah kubur dan tempat gong tadi terkenal dengan sebutan Nibong Belegong,yang diinterpretasikan pohon nibung yang ada gongnya.
Menurut si empunya cerita hingga saat ini peralatan musik campak dari Dudat itu masih bisa dimainkan.Namun,kalau suara gong terdengar sember maka harus di bersihkan dengan air pekasam dari Dudat,setelah itu gong itu pun akan berbunyi nyaring kembali.Malah suaranya akan terdengar makin nyaring jika malam semakin larut.
Saat ini di tempat Nibong Belegong tadi,jika tepalat mate,sering terdengar suara gong lalu disusul mucul putri Nurjanu sedang menari
Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib





Asal Usul Nama Padang Buang Anak

Diwirayatkan kira-kira abad XIII, Pulau Belitung mengalami musim Barat Ijau, yakni kemarau panjang yang melebihi kemarau yang datang biasanya. Kemarau ini mengakibatkan dimana—mana terjadi kekurangan air baik untuk keperluan minum maupun kebutuhan rumah tangga.
Tersebutlah, dalam musim tersebut, seorang ibu bernama Dambe’ berjalan terseok-seok sambil menggendong seorang anaknya kesana-kemari. Anak yang ada dalam gendongnya itu baru bisa merangkak. Tangan kirinya menjinjing sebuah gerebog (tempat air berasal dan tempurung kelapa yang diambil dagingnya tanpa memecahkan tempurung, red.). Sementara tangan kanannya mengapit anaknya. Sudah setengah hari Mak Dambe’ mencari air sambil menggendong anaknya itu. Terakhir Ia menyusuri kaki gunung Tajam tapi belum juga mendapatkan air. Sementara anaknya sudah mulai menangis kehausan. Saking haus dan kecapekan ia duduk melepas lelah di atas sebuah batu sambil melavangkan pandangan mencari petunjuk dimana bisa mendapatkan air.
Selang beberapa lama, ia melihat seekor Binat (kura-kura darat, red.) sedang berjalan merambahi tanah menjauh dari batu tempat ia melepas lelah. Melihat binat itu, Mak Darmbe’ pun berfikir untuk mengikuti saja karena pasti ia akan mendatangi sumber air.
Namun ada satu hal yang menghalanginya untuk mengikuti binat tersebut. Anak di pangkuannya bagaimana pun jupa adalah darah dagingnya. Tapi begitu dilihat binat sudah kian menjauh ia memutuskan untuk mengikutinya dan akan meninggalkan anaknya di dekat batu tempatnya beristirahat. Agar anaknya tak pergi kermana-mana, ia pun meletakkan anaknya di atas tanah yang telah dipagari susunan batu berbentuk empat persegi panjang.
Setelah merasa anaknya akan aman dan tidak akan bisa pergi kermana-mana Mak Dambe’ bergegas menyusul binat tadi. Beberapa lama berjalan akhirnya binat yang ia ikuti mengarah ke sebuah lembah. Ternyata di lembah itu terdapat sumber air dari sebuah celah batu. Mak Dambe’ pun segera mengisi gerebog nya dan minum sepuas-puasnya.
Setelah puas minum banulah Mak Dambe’ tersadar bahwa ia harus segera kembali ke batu tempatnya tadi beristirahat untuk mengambil anaknya yang ia tinggalkan di sana. Hampir terbenam matahari barulah Ia mencapai batu tersebut.
Namun, apa yang Ia temui? Susunan batu yang memagari tempat ia menaruh anaknya sudah hancur. Ia pun segera mengamati sekeliling tempat tersebut. Alangkah kagetnya dia. Di tanah tampak bekas kaki seekor binatang berukur sangat besar dan tetasan darah di dekatnya. Mak Dambe’ pun mengikuti tapak kaki binatang tersebut yang ternyata mengarah ke puncak Gunung Tajam. Namun, kendati terus mengikuti tapak kaki itu anaknya tak juga ditemukan.
Tak berhasil menemukan anaknya, dengan rasa sedih, kecewa, menyesal bercampur putus asa dan kehilangan yang sangat, Mak Dambe’ kembali ke pondoknya. Sekembali ke pondoknya, berhari-hari ia tak bercampur dengan tetangganya. Seharian hanya duduk di tangga pondok, menangisi anaknya yang hilang tak tentu rimba.
Lama kelamaan Mak Dambe’ tak tahan mendengar pertanyaan para tetangga karena melihat tingkah lakunya yang lain dari biasa. Ia pun akhirnya menceritakan semua hal ikhwal penderitaannya. Setelah itu barulah tetangganya tahu musibah yang menimpa Mak Dambe’.
Sejak saat itulah masyarakat setempat menyebut daerah dimana Mak Dambe’ telah meninggalkan anaknya sehagai Padang Buang Anak, karena di tempat itulah masyarakat beranggapan Mak Dambe’ telah membuang anaknya.

Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib



















Si Kantan

Pada zaman sebelum Agama Islam masuk dan berkembang di Belitung,tersebutlah seorang janda miskin yang hidup bersama seorang anaknya bernama Kantan.Dua anak beranak ini tinggal di sebuah kelekak yang sekarang bernama Cerucuk.Mereka hidup dari hasil menangkap ikan atau hasil laut lain nya serta buruan di hutan sekitar tempat tinggal nya.
Hidup sebagai janda beranak satu,terasa sangatlah berat bagi ibu Kantan.Namun,akibat kerja keras ibunya,Si Kantan bisa tumbuh sebaagaimana layaknya manusia biasa dan bisa mandiri tanpa menggantungkan hidup pada orang tuanya setelah mulai menginjak dewasa.
Dalam kedewasaan itulah,saat Kantan berujar kepada ibunya bahwa,ia bermaksud mencoba kehidupan lain di luar kelekaknya.Singkatnya ia ingin merantau,mencoba peruntungan di tempat lain,kalau-kalau kehidupan nya bisa berubah lebih baik.Tak bisa mencegah keinginan anaknya,ibu si Kantan akhirnya harus merelakan anaknya merantau,sambil terus berdoa agar apa yg di cita-citakan anak nya terkabul.
Kepergian anaknya itu dirasakan sangat berat oleh ibu si Kantan.Apa-apa yang semula di kerjakan berdua,sepeninggal Kantan harus di kerjakan nya sendiri.Karena kerja berat itulah,fisik ibu si Kantan terlihat menjadi lebih tua dari umur sebenarnya.
Bulan berganti ,tahun pun berubah.Bertahun-tahun setelah kepergian nya,Kantan kembali dari perantauan nya dengan keadaan yang sangat bertolak belakang di banding saat berangkat meninggalkan kampungnya.Rupanya ia telah berhasil menjadikan kehidupanya jauh lebih baik.Ia sudah menjadi seorang saudagar yang kaya raya.Kantan pun telah memiliki seorang istri yang cantik jelita,hingga ketika akan kembali ke kampung halaman nya Kantan harus mencarikan nya sejumlah dayang terlebih dahulu.
Sebagai perantau sukses,Kantan kembali dengan lima sekoci barang bawaan.Kelima sekoci tersebut di penuhi berbagai barang yang bagus dan mahal,serta biantang peliharaan baik untuk di konsumsi selama dalam perjalanan maupun untuk di pelihara.
Mendengar Kantan akan pulang,ibunya bergegas menyiapkan kedatangan anaknya.Ia menyediakan makanan kesukaan anak semata wayang nya itu.,yaitu panggan lutong dalam jumlah banyak.Ibu si Kantan tauu bahwa anaknya akan datang bersama awak kapalnya yang banyak.Bersama sejumlah makanan itulah kemudian ibu si Kantan menuju muara Sungai Cerucuk,dimana perahu si Kantan akan berlabuh.
Setibanya di pinggir sungai,ibu si Kantan melihat perahu anaknya yang telah siap merapat.Para awak kapalnya mulai melempar sauh dan mengikatkan tali ke daratan.
Melihat kedatangan anaknya,segera ibu si Kantan naik ke perahu,bermaksud menyambut anaknya.Begitu sampai di perahu ia melihat si Kantan telah berubah sama sekali.Maklum sekarang ia telah menjadi seorang yang kaya raya.
Kantan,anak ku,balik juak kau akhirnye,”kata ibunya kepada si Kantan
Sape ikam ne nek ? Barani amat ngakuk jadi umak aku.Umak aku la lamak mati,jadi ikam ne pasti urang lain nok ngakuk jadi umak aku karene aku la kaya,” hardik Kantan kepada ibunya dengan sombongnya.
Mendengar percakapan Kantan seorang nenek tua,istri si Kantan langsung mendekat dan berujar,” Tuanku,perhatikanlah baik-baik nenek tua itu.Barangkali nenek tua itu memang ibumu dan jelas sekali sudah berubah.Tuanku belum pernah kembali selama ini.Hingga jelas matamu memandang lain.Amatilah baik-baik.”
Kendati sudah di nasehati istrinya,Kantan tetap tak mau mendengar,bahkan ia menghardik istrinya.
Kurang ajar kau.Kau kubawa kesini bukan untuk jadi penasehat ku.Kau adalah isitriku.Kau harus tunduk pada kehendak ku.Ayo masuk ke dalam,” hardik Kantan kepada istrinya setengah berteriak.
Mendengar pertengkaran dua suami isitri itu,,ibu si Kantan menjadi sedih.Kemudian ia pun berkata,” auk la mun gitu se Tan ai.Kaluk ndak nak ngakuek aku umak kau,aku nok bini hine ini balik sajak.Kitu rumpenye kau ngembalasan urang nok ngelaheren kau,nyusuek kau,lalu ngenggedeen kau sampai kau pegi berangkat ngerantau.”
Usai berkata kemudian ,ibu si Kantan pun turun dari perahu anaknya.Namun,sambil berjalan meninggalkan perahu si Kantan dalam hatinya ia memohon ampunan dewata sambil berdoa semoga dewata memberikan kutukan kepada anak nya yang telah mendurhakai dirinya sebagai orang tua.
Belum sempat ibu si Kantan menginjakan kakinya di darat,seketika terjadi peristiwa yang tak di duga-duga.Hujan turun dengan lebatnya,laksana di curahkan dari langit,di sertai angina rebut dan Guntur menggelegar.Melihat kejadian itu ibu si Kantan segera menyelamatkan diri di daratan.
Setiba di daratan,dari tepi pantai ia melihat anak nya si Kantan dia terpaku walau badai mengguncang sangat hebat.Di depan matanya pula ibu si Kantan melihat perahu anak nya perlahan tenggelam.Di balik suara badai,sayup-sayup ia mendengar seruan anaknya yang berteriak,” Umak….umak…, ampunek anak ikam ne.” Tapi nasi sudah jadi bubur,ibu si Kantan tak bisa mengampuni anaknya yang durhhaka.Secara peralahan perahu si Kantan berikut lima sekoci bawaannya berserta istri,para dayang pengiringnya serta awak kapalnya,tenggelam.
Menurut cerita turun temurun bangkai kapal si Kantan itu kemudian menjadi cikal bakal Pulau Kapal.Sebuah pulau kecil yang terletak persis di tengah alur muara Sungai Cerucuk.
Cerita burung yang berkembang di masyarakat,jika dalam keadaaan kotor ( tepalat mate,red ) kita bisa melihat itik,angsa,ayam dan biantang peliharaan lainya berkeliaran di Pulau Kapal.Dan sering pula orang mendengar teriakan memilukan memanggil,” Umak…umak….umak….,ampunek anak ikam ne Mak.”
Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa,hanya orang-orang khususnyalah yang bisa sampai ke batu berbentuk seperti perahu yang ada di pulau tersebut.Sebab di sekeliling batu tersebut arusnya berputar-putar hingga sering menyebabkan kecelakaan bagi perahu atau rakit yang mencoba mendekat.
Akan halnya ibu si Kantan,hingga saat ini kuburan nya masih ada,berupa songgokan tanah ( istilah setempat pansuk,red) terletak di aik bujang dalam keadaan tak terpelihara.Kuburan itu sering di datangi oleh orang-orang sesat,yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara mudah,semisal meminta angka nomor buntut.

Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib



















Hikayat Tuk Layang

Di sebuah kelekak sekitar Buding,saat penduduk Belitung masih tinggal di pedalaman guna menghindari gangguan lanun,tinggal satu keluarga dengan satu anak yang hidup sangat bersahaja.Keluarga itu di kepalahi seorang suami yang di kenali masyarakat dengan panggilan Tuk Layang.
Tuk laying adalah seorang yang memilik ilmu tinggi,baik di darat maupun di laut.Tak heran penduduk setempat merasa tentram,karena Tuk Layang bisa menjadi tempat berlindung dari gangguan para lanun yang saat itu suka menyerang perkampungan penduduk.Sementara ketika dilaut,para lanun selalu akan menjauh jika melihat Tuk Layang sedang mendayung sendiri perahunya.
Sehari-hari,Tuk Layang tak pernah lepas dari Tembako Sugi ( mengunyah tembakau lalu menyelipkan nya di sudut bibir yang menjadi salah satu kebiasaan penduduk Belitung masa lalu dan masih ada di masa sekarang,red ).Salah satu kehebatan Tuk Layang adalha memiliki tenaga yang tak terduga kuat nya serta ilmu gerak cepat.Tuk Layang juga menyukai makanan burung-burung hasil buruan yang banyak terdapat di hutan sekitar tempat tinggal nya.
Untuk memenuhi makanan kesukaan nya itu,suatu pagi Tuk Layang pergi berburu ke hutan di sekitar Sungai Buding.Dalam perjalanan,tiba-tibadari arah hulu sungai,Tuk Layang mendengar riuh rendah.Dari suaranya,Tuk Layang yakin bahwa,Burung Bayan itu jumlahnya mencapai ratusan.
Mendengar suara itu bergegas Tuk Layang mendatangi arah asal suara.Ternyata dugaan Tuk Layang benar.Begitu sampai di sebuah pohon medang yang rindang,nampak ratusan burung bayan yang sedang asik makan buah pohon tersebut.melihat burung yang begitu banyak,Tuk Layang sudah bersiap untuk memanjat pohon tersebut.Tapi,setelah diamatinya,pohon tersebut sulit untuk di panjat.Karena masih pagi,pohon basah,hingga kalau di panjat kemungkinan akan jatuh.
Tak mau ambil resiko,Tuk Layang lalu duduk di bawah pohon tersebut.Mencari akal bagaimana caranya agar bisa mendapatkan semua burung di pohon medang itu tanpa perlu memanjatnya.Setalah agak lama berpikir,Tuk Layang nampak berdiri dan berjalan menuju pinggir sungai.Sekejab kemudian ia nampak membawa batu berukuran kepala manusia dewasa yang di ambil dari sungai tersebut.Begitu sampai di bawah pohon tadi,dengan sekuat tenaga,Tuk Layang melemparkan batu kali tadi ke bagian tengah pohon medang,dimana burung-burung bayan sedang asik makan buahnya.
Saking kuatnya Tuk Layang melempar,begitu batu kali mengenai sasaran,pohon tersebut terguncang sangat keras.Sekejap kemudian,satu per satu burung bayan di pohon tersebut berjatuhan ke tanah,hingga jumlah nya mencapai ratusan ekor.Pendek kata,hari itu,dengan sekali lempar Tuk Layang berhasil mendapatkan ratusan burung bayan kesukaan nya.
Konon,menurut ceita penduduk setempat,batu kali yang di gunakan Tuk Layang untuk melempar burung tersangkut di salah satu dahan pohon di sebelahnya,dan belum jatuh hingga saat ini.Batu itulah,kemudian di kenali sebagai Batu Bayan dan ada juga yang menyebutnya Batu Tuk Layang.
Nah,karena banyak nya burung bayan yang jatuh,Tuk Layang harus berulang kali mengangkutnya ke rumah.Oleh Nek Layang ( Istri Tuk laying ,red ) burung-burung tadi di pisahkan menjadi dua bagian.Sebagian untuk lauk-pauk makan hari itu,dan sebagian lagi di awetkan ( diasinkan ) untuk cadangan makanan di hari-hari mendatang.
Cuma,untuk menggarami burung sebanyak itu,persedian garam Nek Layang ternyata tak cukup.Garam yang ada di rumah hanya cukup untuk memasak hari itu saja,sementara untuk menggarami yang lainya tak ada lagi.
Tahu Nek Layang kehabisan garam,Tuk Layang pun berkata pada istrinya,” Mun kitu se,kau tunggu la suat de ruma.Kau buatek la duluk burong-burong idang degaramek tek.Biar aku pegi ke jawe duluk meli garam sekalian kan meli tembako sugi.”
Belum sempat Nek Layang menjawab,Tuk Layang telah berada di atas perahu di pinggir Sungai Buding.Lalu,hanya dengan tiga kayuhan,Tuk Layang pun sampai ke jawa.Setelah membeli garam dan tembako sugi untuk persedian sebulan,Tuk Layang pun segera kembali ke Belitung.Juga dengan menggunakan kekuatan penuh,karena khawatir Nek Layang sudah selesai membersihkan burung bayan yang akan di garami.
Namun,baru satu kayuhan,Tuk Layang melihat beberapa titik hitam di depan nya.Karena itu Tuk Layang pun segera melambatkan laju perahunya.Rupanya titik-titik hitam tadi adalah gerombolan para lanun yang sudah siap mencegatnya,karena tahu Tuk Layang baru saja membeli garam dan jumlahnya banyak.Mengetahui para lanun mau mencegatnya,Tuk Layang segera menghentikan perahu,hingga nampak seperti sedang mengalami kerusakan.
Sementara perahunya melambat Tuk Layang mengunyah tembako sugi.Siasat Tuk Layang rupanya berhasil mengecoh para lanun,menyangka perahu Tuk Layang rusak mereka segera mendekat.Namun,apa yang terjadi kemudian ?
Begitu perahu para lanun sudah mencapai jarak sepenyemburan sugi,tanpa di duga Tuk Layang menyemburkan sugi dari mulutnya ke arah perahu para lanun.Tak ayal,akibat semburan sugi yang begitu kuat,perahu para lanun itu pun pecah,sementara awak nya tenggelam di laut.Sementara perahu-perahu yang masih Selamat dari semburan sugi Tuk Layang segera kabur,segera menjauh.
Singkat cerita,setelah para lanun pergi,Tuk Layang pun segera kembali ke Sungai Buding.Dengan dua kayuhan dia sudah sampai di pinggir Sungai Buding.Cuma,begitu sampai di rumah betapa kagetnya Tuk Layang.Nek Layang rupanya belum juga selesai membersihkan burung-burung yang akan di garami.Padahal,waktu itu,matahari sudah condong ke barat.Akhirnya,Tuk Layang jugalah yang harus menyelesaikan perkerjaan tersebut.
Tempat terjadinya peristiwa ini,Tuk Layang Melempar burung bayan,hingga kini,masih bisa di lihat di sekitar Sungai Buding,,sekitar kilometer 44 dari Kota Tanjungpandan menuju Manggar.
Lokasi persisinya terletak di sebelah kiri jalan,agak kedalam sejajar dengan aliran Sungai Buding menuju muara.
Tentang cerita kepergian Tuk Layang ke jawa,walau mengakui versi pertamanya,membeli garam dan tembako sugi,sebagian masyarakat punya versi lain.Memelesetkan nya menjadi semacam joke agak porono,menyegarkan
Konon,saking banyak nya burung bayan yang di bawa pulang ke rumah,Tuk Layang ikut membantu Nek Layang menyianginya.Tuk Layang menyianginya burung tersebut duduk sambil memangku anaknya.Sementara nek Layang menyiangi burung tersebut persis di depan Tuk Layang sambil berjongkok.
Karena asik menyiangi burung bayan yang begitu banyak,Nek Layang jadi Kurang Senange’an,hingga tak sadar dirinya tebengang ( kain/rok tersingkap hingga perkakas yang terlindung di baliknya bisa di lihat orang lain,( orang Belitung mestinya tahu isitilah ini,red ) Nah,tidak tahan melihat Nek Layang tebengang,rupanya perkakas Tuk Layang bereaksi keras.Saking kuatnya reaksi perkakas Tuk Layang,anak di pangkuan nya terpelanting hingga ke jawa.
Karena itulah,menurut sebagian penduduk,kepergian Tuk Layang ke jawa sebenarnya bukan untuk membeli garam dan temabako sugi,tapi untuk menjemput anaknya yang terpelanting karena lentingan perkakas Tuk Layang yang tidak tahan melihat Nek Layang Tebengang.

Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib













Hikayat Raja Berekor

Cerita ini merupakan kegiatan dari asal usul Pulau Belitung.Dimana terdapat sebuah pulau hanyut yang di akibatkan kemurkaan seorang raja di Bali akibat anaknya mengandung anak akibat hubungan nya dengan anjing kesayangan nya.
Hatta setelah tiba waktunya,sang putri yang mengandung akibat hubungan dengan anjing kesayangan nya,melahirkan seorang bayi laki-laki.Berbeda dengan bayi normal,sekujur tubuh bayi tersebut penuh di tumbuhi bulu-bulu subur serta memiliki sebuah ekor kecil,layaknya anjing.
Ringkas cerita,karena persediaan makanan kiriman dari istana sebelum di kutuk ayahnya telah menipis,sang putrid pun mulai menggantungkan hidup dari alam.Untuk membesarkan anaknya,di temani anjing kesayangan nya ia berburu biantang apa saja yang ada di hutan,menangkap ikann di sungai,serta memakan tumbuhan hutan apa saja yang bisa di makan.Oleh ibunya,setelah beranjak besar,si anak berekor di ajarkan cara berburu dan menangkap ikan di sungai.
Satu hari,si anak berekor berburu sendiri ke hutan.Dalam hutan ia bertemu sepasang burung ( di sebutkan sebagai burung kutilang,red) yang sedang memberi makan anaknya.Sedianya ia akan memanah burung-buruba tersebut.Namun mengingat burung tersebut sedang memberi makan ankanya,anak berekor pun mengurungkan niatnya.Dalam hatinya malah tibul rasa kasihan melihat keharmonisan keluarga burung tersebut.
Sepanjang hari itu,ia merasa sangat terkesan dengan keluarga burung tersebut.Sepanjang perjalanan ia terus terbayang kemesraan burung tersebut.Hingga tak seokor burung pun berhasil ia panah hari itu.
Setiba di rumah,ia pun segera menghampiri ibunya dan bertanya, “ Mak ,dimane aya aku ne ? “
Di Tanya demikian,si Ibu kaget.Lalu menjawab “ Aya kau ndak ade
Tak puas dengan jawaban ibunya,si anak pun lantas berujar,” Ndak mungkin anak manusie ndak ade aya.Sedangkan binatang sajak macam burong kutilang nok aku liat de bang utan tadik ade umak bapak e.”
Walau di desak,sang putrid tetap tak menjawab.Hingga kemudian anak nya berkata keras kepada ibunya.” Sebutla benar-benar demane aya aku ? kaluk,ikam ndak,ikam aku buno.” sergahnya dengan bengis.
Mendengar ancaman tersebut,karuan si ibu ketakutan.Sebab anaknya kini telah menjadi laki-laki dewasa bertubuh tinggi besar,berotot,pemberani,tangkas dan sangat kuat.Akhirnya,setelah berkali-kali di ancam,sang ibu pun berkata,” Aya kau to si Tumang,asuk kesayangen kite.”
Mendengar jawaban tersebut,bukan main marah nya si anak berekor.Sekejap kemudian ia telah berhasil mengkap Tumang yang berdiri tak jauh dari ibunya.Dalam hitungan detik terdengar lengkingan pendek tapi nyaring si Tumang.Sekejap kemudian,Nampak anjing itu telah terkapar di atas tanah.Kepalanya hancur,akibat bantingan keras si anak.Tumang,anjing kesayangan sang putrid,yang adalah ayah biologis si anak berekor,mati mengenaskan akabat di banting anak ny sendiri.Bangkai nya lalu di hanyutkan di sungai.
Begitulah,waktu pun terus berjalan.Si anak berekor telah tumbuh menjadi seorang pemuda normal yang gagah perkasa,namun ekornya makin panjang.Satu hari,kepada ibunya,pemuda berekor itu minta izin untuk menjelajahi daerah lain.Oleh ibunya ia di sarankan membuat perahu.
Singat cerita.setelah perahu dan berbagai perlengkapan serta perbekalan selesai di siapkan,pemuda bereokor pun berangkat.berlayar mengarungi samudra tanpa tahu arah tujuan pasti,hingga akhirnya mencapai daratan pulau Sumatra,yang masuk wilayah kekuasaan Raja Palembang.
Mengetahui daerah tempatnya mendarat termasuk wilayah kekuasaan Raja Palembang,pemuda berekor itu pun datang menghadap ke istana.Kepada Raja Palembang ia mengajukan diri untuk menjadi raja.Raja Palembang setuju dengan usulan tersebut.Namun syaratnya,ia harus memerintah di daerah asalnya,dan daerah tersebut menjadi taklukan Raja Palembang.
Syarat Raja Palembang itu di terima pemuda berekor,hinga jadilah ia sebagai seorang Raja di daerah asalnya yang kemudian terkenal dengan Raja Berekor.Namun,sebelum kembali ke daerah asalnya,ia di bekali perlengkapan secukupnya dan rakyat berasal dari daerah taklukan Raja Palembang Konon jumlahnya setara dengan delapan gantang butir padi.
Di kisahkan setiba di Belitung,Raja Berekor mendirikan istana di sekitar Aik Bebulak,Kelekak Usang kea rah perawas,sejajar dengan aliran sungai Cerucuk yang melintasi Kampung Perawas sekarang ini.Singgasananya terbuat dari sebuah tempayan besar.Dii atas tempayan besar itulah di letakan satu keeping papan dari kayu ulin yang di beri lobang,sebagai tempatnya memasukan ekor ketika duduok di sanggasana.Alhasil,kemanapun Raja Berekor ini pergi tempat duduk itu selalu di bawa.
Dalam menjalankan pemerintahan,Raja Berekor di dampingi Sembilan pembantu,terdiri atas : perdana mentri,hulubalang dan pesuruh yang salah satunya bernama sikum.Selain itu di tangkap pula sejumlah perempuan untuk di jadikan juru masak dan dayang-dayang istana.Dengan dukungan sejumlah pembantunya,pemerintahan Raja Berekor berjalan baik dan sesuai dengan kehendak raja.Pendek kata,setiap kehendak raja selalu di turuti para pembantu nya,yang sebenarnya takut dengan kekekaran dan kebengisan nya.
Satu hari seorang juru masak istana membuat kelalaian .Saat menyiapkan makanan siang buat sang raja ,salah satu jarinya tersayat pisau, hingga darahnya menetes dalam makanan yang sedang disiapkan .Ketika makanan tersebut dihidangkan kepada sang raja bukan mainnya takut juru masak .
Tapi ,apa yang terjadi kemudian ?Setelah dihidangkan sang raja memakannya dengan lahap .Sekonyong-konyong ,Raja berekor tertawa terbahak-bahak ,sambil berteriak keras kepada Perdana Mentrinya .
“Perdana Mentri panggil juru masak !”Perdana Mentri pun langsung memanggil juru masak dan kembali menghadap sang raja bersama juru masak tak lama kemudian .
“Ampun Baginda hamba datang ngadap ,”ujar Perdana mentri di ikuti juru masak .
‘Juru masak !Nyaman benar kau masak sari ne ‘,rasenye lebe nyaman dari masakan nok lauda-uda .Bahan ape nok kau masokkan de dalamnye ?tanyak raja berekor .
Ditanya demikian ,juru masak gemetaran .mukanya pucat pasi .Keringat dingin mengucur deras didahinya .
Ampun, tuan ku ,hamba masak macam biase sajak,ndak ade nok demasokan bang masakan itu .semuenye bumbu masakan kan bahan nok ade dedapor kitelah.,”jawab juru masak itu gemetaran .,”Akh ,ndak mungkin !” sergah sang raja .”cuba terus terang ,pasti ade nik lebeh dari biase e,” sergah sang raja lagi.
Takut dengan raja,juru masak itu pun dengan pasrah dan terbata-bata berujar,”seingat hamba,waktu mengiris sayor,ujung tangan hamba teriris pisuk lalu bannyak keluar dara.Dara itu tecampor kan bumbu tadik” jawab juru masak sambil gemetaran.
Mendengar jawaban si juru masak,sang raja tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil.Dalam hatinya terbayang mungkin darah manusia di campur daging manusia lebih enak rasanya.Hingga akhirnya muncul keinginan untuk memakan daging manusia.Sesaat kemudian ia pun berkata kepada perdana mentri
Perdana Mentri,ngape kite ndak nyubak makan daging manusie sajak ?” Tanya raja lagi.
Hamba,…ndak sampai ati tuanku,” jawab Perdana Mentri ketakutan.
Di jawab demikian,meledaklah kemarahan sang raja.Sambil menghunus pedang ia berteriak, “ turutek perinta aku ! kaluk ndak kau nok aku buno
Akhirnya dengan sangat terpaksa Perdana Mentri menuruti kehendak raja itu.Membunuh manusia untuk di jadikan santapan raja.Korban pertamanya adalah juru masak.Rupanya dugaan raja bengis itu benar.Ketika menyantap daging sang juru masak ia Nampak merasakan kenikmatan tiada tara.
Sejak saat itu,setiap hari,pasti ada rakyatnya yang di korbankan untuk di jadikan santapan raja pemakan manusia itu.Semua jenis dan tingkatan umur di coba.Anak-anak,orang dewasa,orang tua,laki-laki,maupun perempuan.Malahan terkadang dalam sehari lebih dari satu orang yang menjadi korban.
Akibatnya,rakyat semakin takut.Kerajaan pun semakin sepi.Semua rakyat berdiam diri di rumah,menghindar agar tidak menjadi santapan raja.Akhirnya,rakyat yang semula begitu banyak hari demi hari menjadi kian sedikit.Sementara para pembantu istana tak berdaya mengatasi tabiat buruk raja yang buas dan kejam itu.
Satu saat,tanpa di ketahui para hulu baling istana rakyat melarikan diri ke daerah Belantu,Sijuk,Buding dan daerah lainya.Sedang yang belum melarikan diri dan jumlahnya sangat sedikit,kemudian mendapat giliran menjadi santtapan raja.Hingga akhirnya yang tertinggal hanya Sembilan orang pembantu raja saja.Mengetahui rakyat nya sudah tak ada lagi di kerajaan,Raja Berekor pun menjadi gelisah dan menanyakannya kepada Sembilan pembantu nya.Oleh mereka di jawab bahwa,rakyat telahh habis dijadikan santapan raja.
Karena haus dengan daran dan daging manusia,raja pun bermaksud memakan ke Sembilan pembantunya yang masih tersisa di istana.Namun bagaimana caranya ? Segera la raja bengis ini memanggil ke Sembilan pembantunya dan mengadakan seyembara yang terdiri dari dua buah teka teki berbunyi : “ DELIPAT KEMBANG DELIKOR,DELIMA KEMBANG DELIKAM
Barang siape ndak dapat ngenjawabnye,kan aku buno.Untuk itu mikak kuberik waktu duak ari untuk ngenjawabnye,” ungkap raja.
Mendapat seyembara tersebut ke Sembilan pembantu raja itu segera bermusyawarah.Salah satunya adalah pak Sikum.Orang tua ini sudah lama mengabdi pada kerajaan.Hingga ia tahu persis keadaan kerajaan.Setelah bermusyawarah,ke Sembilan orang ini pun akhirnya berhasil memecahkan teka teki tersebut.” DELIPAT KEMBANG DELIKOR “ berarti berarti empat orang dimakan waktu lohor ( siang ) dan DELIMA KEMBANG DELIKAM berarti lima orang di makan waktu malam.
Setelah berhasil memecahkan teka-teki tersebut tiba-tiba pak Sikum berteriak,” Kite harus ngadilek raje lalim itu
Tapi,lanjut dia,”kite ndak mungkin ngembunonye secare terang-terangen.Sebab die sakti,die juak kebal kan senjate tajam.”
Menghadapi kenyataan itu,semua yang hadir terdiam.Namun,tiba-tiba Pak Sikum teringat sesuatu.” De istana ne tersimpan duak buah alu sakti terbuat dari kayu simpor laki.Alu sakti itu la nok dapat ngembuno raje,” ujarnya setengah berteriak.
Untuk melaksanakan niatnya,Sembilan pembantu raja itu pun mencuri dua buah alu sakti tersebut.Lalu,mereka menyususn rencana pembunuhan terhadap raja bengis itu.Disepakati waktunya saat mereka menghadap raja ketika batas waktu yang di berikan habis.
Batas waktu yang di terapkan raja pun tiba.Ke Sembilan pembantu raja datang menghadap.Namun,dari singgasananya,raja merasa kejanggalan pada para pembantunya.Dua di antara mereka tidak membawa tombak seperti biasa,api membawa alu.Hingga Raja Berekor menjadi agak sedikit curiga.
Masih curiga,raja pun menanyakan apakah mereka sudah berhasil menjawab teka-teki yang di ajukan nya dua hari lalu.
Pertanyaan raja itu,secara berpantun di jawab Perdana Mentri,dengan membalikan teka-teki yang di ajukan :
DELIPAT KEMBANG DELIKOR
DELIPAT KEMBANG DELIKAM
URANG LIMAK NGIBIT IKOR
URANG EMPAT SERETE NIKAM
Belum sempat,raja bereaksi pak Sikum,langsung membalas pantun Perdana Mentri :
SAK DUA DAUN SIMPOR
KETIGE DAUN GENALU
URANG LIMAK NGIBIT IKOR
URANG DUA NGEMPOK KEN ALU
Mendengar jawaban tersebut,sadarlah Raja Berekir bahwa pantun itu adalah siasat Sembilan para pembantunya untuk membunuhnya.Seketika murkalah Raja Berekor.Ia bangkit dari singgasananya,hingga tanpa di sadari ekornya turut keluar dari lobang tempayan.
Begitu melihat ekor sang raja keluar,serentak para pembantu raja itu menyerang.Lima orang memegangi ekor,empat lainya masing-masing dua orang memukul kepala raja bengis dan kejam itu dengan alu sakti dan menusuknya dengan keris.Akibatnya seketika tubuh raja yang besar dan kekar itu pun tumbang bersimbah darah.Mayatnya,oleh Sembilan pembantunya,di hanyutkan ke sungai.Dengan begitu tamatlah riwayat Raja Berekor,pemangsa manusia yang begitu bengis dan kejam itu.
***
Kayu simpor laki ini meurut kepercayaan orang Belitung sebagai penagkal binaang buas dan berbisa,seperti harimau dan ular.Menurut cerita kesaktian simpor laki ini di dukung oleh pepatah lama di Belitung yang berbunyi :
ALU SEGIOK GIONG
SEGALE-GALE UBI
SEKUCAK-SEKUCONG
TENTONG KAYU BINGKOK,BINGKOK DEMAKAN API
ALU UKAN SEMBARANG ALU
ALU TEBUAT DARI SIMPOR LAKI
SIFAT NOK BEIKOR
AMUN TEPELASA KAN SIMPOR LAKI
TENTU MATI

Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib


Riwayat Keramat Pesak

Alkisah,pada masa menjelang Agama Islam masuk dan berkembang di Belitung,sebuah perahu dalam keadaan compang-camping nampak terapung-apung menuju ke bagian hilir Muara Sungai Pesak.Perahu yang di tumpangi seorang laki-laki berasal dari Brunai bernama Deraman Jaya Sakti dan istrinya itu akhirnya terdampar di sisi sungai,yang sekarang di kenal dengan kampong Simpang Pesak.
Kondisi mereka berdua sangat mengenaskan.Pakaian yang di kenakan sudah compang-camping.Persedian makanan tidak ada.Sementara perahu yang mereka tumpangi sudah tak bisa di gunakan.Mengingat kondisi tersebut,Deraman memutuskan menetap di daerah tempatnya terdampar,untuk mencoba kehidupan baru.Sebuah gubuk sederhana pun didirikan.Bahan-bahannya di ambil dari kayu-kayu di sekitar tempat kapal nya terdampar.Sebagai atap di gunakan bahan-bahan dari bekas kain layer yang sudah tak terpakai lagi.
Belum berbilang bulan,kedatangan Deraman telah mengejutkan Raja Balok.Saat itu pusat pemerintahan Kerajaan Balok terdapat di daerah yang sekarang di kenal dengan Dusun Balok Lama,berjarak cukup jauh dari Simpang Pesak.Kendati demikian Pesak,saat itu masuk dalam wilayah Kerajaan Balok.
Raja Balok,saat itu,di kenal selalu mencurigai setiap kedatangan orang asing ke wilayahnya.Ia juga selalu meminta sejumlah nilai tertentu kepada orang asing yang datang untuk mendapatkan izin tinggal.
Mengetahui kedatangan Deraman tersebut,Raja Balok mengutus seorang penghubung.Setelah bertemu,penghubung itu pun menyampaikan pesan bahwa,Deraman agar segera menghadap ke Isatan Raja Balok,untuk mengabarkan hal ihwal maksud dan tujuan kedatangan nya.Mendapat pesan demikian,hari itu juga Deraman datang menghadap Raja Balok.
Setelah mengetahui maksud kedatangan Deraman,Raja Balok pun lalu memperbolehkan Deraman menetap dan mendiami pondoknya.Cuma syaratnya,ia harus membayar sejukung emas.
Mendengar keputusan Raja Balok,awalnya Deraman merasa keberatan.Tapi setelah di pikir-pikir bahwa ia bukan seorang miskin di negri asalnya,Deraman pun setuju dengan parsyaratan yang di ajukan tersebut.Tetapi ia minta waktu sebulan untuk mempersiapkan diri guna memenuhi syarat tersebut dan menyediakan perahu atau jukung untuk mengisi emas nya.Raja Balok pun menyetujui permintaan Deraman.
Maka pulanglah Deraman ke pondoknya.Setelah berembug dengan istrinya,di putuskan bahwa ia akan kembali ke Brunai utnuk mengambil emas bahkan segala benda dan barang yang akan di perlukan selama mereka bermukim di Belitung.Ke esokan harinya,Deraman pun segera menyipkan sebuah perahu baru.Setelah berhari-hari,selesailah perahu tersebut berikut segala perlengkapan sederhana yang kira-kira memenuhi syarat untuk bias sampai ke Brunai.Istrinya menyiapkan panggang lutong,makanan awet di jalan dan kebutuhan suaminya seperti sarung dan berbagai helai pakaian yang di buat dari kain robekan layar.
Setelah semua persiapan selesai berangkatlah Deraman dari muara Sungai Pesak menuju Brunai.Barhari-hari Deraman menggunakan waktu mendarat itu dengan sebaik-baiknya.Di sediakan nya emas satu jukung untuk syarat tadi,dan sebatang bibit kayu pelepak,setempurong batu garam ( pasir garam ),seekor kucing,seekor ayam jantan dan beberapa barang lain nya untuk di bawa ke Belitung.
Singkat cerita dengan bekal tersebut Deraman kembali berlayar ke Belitung.Selama berlayar,ayam jantan yang ia bawa,selalu berkubang dalam kapur garam,hingga melekat pada bulu-bulunya.Di tengah perjalanan ia di cegat gerombolan lanun.Saat di cegat para lanun itu,ayam jantan milik Deraman segera terbang ke tiang-tiang layar perhau lanun tersebut.Di atas tiang layar itulah,kemudian ayam jantan itu mengepak-ngepakan sayapnya yang penuh berisi pasir garam,hingga membuat para lanun kelilipan,dan menjadi kalang kabut.Bertepatan dengan itu Deraman menyerang para lanun,hingga habis semua nya.
Setiba di Belitung,Deraman langsung menghadap sang Raja di istana nya.Kepada Raja ia minta agar transaksi di lakukan di pinggir muara Sungai Pesak,dekat perahu dan sejukung emas di tambatkan.Mendengar Deraman sudah siap dengan syarat untuk menetap di wilayahnya Raja Balok pun setuju dan berangkat di iringi pengawal lengkap.
Tiba di pinggir sungai dekat perahunya di tambatkan terjadilah transaksi.Tapi,sekali lagi,Deraman minta dengan hormat sebelum transaksi “ ditandatangani “ agar Raja Balok juga menerima tawaran dari Deraman.
Baginde,baik e gini jak.Jukong dan emas di dalam nye kamu ambik,tapi aku nanam pelepak ne dari kampong aku de sanak.Lauda itu aku nebarkan kapor garam ne de sekitarnye.Jadi kayu ini kan jadi batas kediaman aku mun die tumbo kelak,” begitu permintaan Deraman.
Karena permintaan itu di nilai tidak ada artinya,Raja Balok pun mengizinkan penanaman kayu pelepak dan penaburan pasir garam tersebut.Demikianlah akhirnya Deraman pun dapat tinggal di daerah Pesak ini.
Cuman dari batas penanaman sebatang pohon Pelepak tadi,berkembanglah pohon tadi menjadi meluas sampai ke wilayah km 62 sekarang.Anehnya justru di daerah Dusun balok sendiri tidak tumbuh sama sekali.Dari penuturan narasumber cerita ini,di ketahui bahwa batas perdukunan Balok dan Pesak,yaitu daerah asal pohon pelepak tadi dan yang ada pohon pelepak sedang daerah perdukunan Balok yang tidak ada pohon pelepak.
Deraman juga memiliki sebuah senjata bernama keris candrik ( panjangnya sejengkal ).Ketika musim kemarau panjang meyerang kelekaknya,Deraman kesulitan mendapatkan sumber mata air untuk di jadikan sumur,mesti hamper semua wilayah itu telah di jelajahinya.Dalam keadaan demikian Deraman mencabut keris candrik dan menancapkan nya ke tanah dekat pondok nya sambil berkata “ De sinek la baru kau akan keluar,atau kamek akan mati semue ! “ sekejap setelah ia mencabut keris candrik dari dalam tanah,keluarlah air dari tempat ia mencapkan keris candriknya tadi.Sumber air itulah yang sekarang berada dekat kuburan nya atau tak jauh dari lairan Sungai Pesak yang berair asin,namun sumur air itu tetap tawar.
Setelah lama bermukim di daerah Pesak,Deraman pun punya seorang anak perempuan kesayangan.Sebagaimana di ketahui pohon durian bias tumbuh dimana saja.namun,di Pesak pohon durian baru tumbuh dua tiga keturunan ke belakang.
Menurut cerita hal itu terjadi juga berkenaan dengan keberadaan Deraman Jayasakti.Seperti umumnya di kampong-kampung di Belitung,musim durian merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk bermain jauh dari rumah.
Di kisahkan ,pada saat musim repak durian sedang jujo,anak perempuan Deraman berada sendiri di pondok durian nya utnuk menunggu durian jatuh.Dalam kesenyapan kelekak,tiba-tiba terdengar suara gemerisik di ikuti suara gedebuk tanda ada durian jatuh.Namun,suara itu di ikuti jeritan anak kecil.
Mendengar suara jeritan tersebut Deraman segera menghentikan pekerjaan nya dan bergegas menuju pondok durian nya.Begitu sampai di pondok durian betapa kagetnya dia.Anak kesayangan nya sudah terbaring dengan kepala berlumuran darah.Karena terbawa rasa sedih yang teramat sangat atas kejadian yang menimpa putri kesayangan nya itu dengan marah ia pun berucap “ selama tujuh turunan kampong ini ndak kan detempo durin ! “ Lalu,jenazah putri kesayangan nya itu pun ia makam kan di pinggir Sungai Pesak saat ini.
Sepeninggal putri kesayangan nya Deraman sangat terpukul,hingga mengkhawatirkan istrinya.Rupanya putri kesayangan nya itu tak dapat tergantikan dengan kesenangan lain.satu-satu teman permainan Deraman hanya tinggal kucing dan ayam jantan yang di bawanya dari Brunai.Namun,karena bukan manusi,keduanya hanya bisa di ajak bermain di luar rumah saja.
Yang merasa Deraman merasa aneh adalah keakraban kedua biantang itu kepadanya.Kemana Deraman pergi,kedua biantang itu selalu mengikuti.Bahkan kedua binatang itu selalu ikut di saat ia pergi berburu.namun,keikutsertaan kedua binatang itu tak membuat repot,malah membawa berkah.Setiap pergi berburu ia selalu mendapat hasil mulai lutong kecil,kera serta binatang lainya,hingga berlebih dan bisa di awetkan dalam bentuk pekasam sebagai makanan persediaan..sampai-sampai pekasam dari hasil buruan itu mencapai tujuh tempayan.begitu lah kehidupan Deraman sepeninggal putri kesayangan nya.
Suatu hari ,datanglah sebuah perahu dengan beberapa anak buah.Dari penampilan dan wajahnya,para pendatang itu terliahat tak ganas,malah penuh sinar kebijakan dan kebaikan.Deraman memperhatikan bentuk perahu mereka,hingga akhirnya tahu lah ia bahwa para pendatang itu berasal dari Brunai juga.
Deraman pun menyambut mereka dan segera menemui kepala perahu tersebut dan menanyakan maksud kedatangan mereka.Setelah ngobrol sana-sini,kepala perahu pun menyampaikan maksud kedatangannya.Dari Brunai ia mendapat tugas untuk meng-islamkan semua orang Brunai yang berada di luar Brunai,terutama di pulau-pulau di sebrang lautan.Maka kepala perahu itu pun memanggil seorang ahli agama yang akan mengjarkan agama islam kepada Deraman khususnya dan kepada penduduk setempat pada umumnya.
Setelah mendengar dan menyimak semua hokum dan ketentuan Islam,Deraman pun berakata : “kaluk gitu aku lum kan masuk islam.Aku nak ngabisen duluk tujo tempayan pekasan berisi pekasan daging lutong dan kerak.” Mendengar hal itu maklum kepala perahu kenapa Deraman belum mau masuk Islam.
Menurut penuturan,belum sempat menghabiskan tujuh tempayan pekasam lutong dan kera tersebut Deraman telah keburu meninggal dunia.
Keramat ini terletak di sebelah kiri arah ke km 62 dari jembatan Sungai Pesak,bergabung dengan kuburan umum tapi di pelihara dan di kelola khusus oleh ahli waris nya.Bentuk kuburan dan misan nya menggambarkan Islam dan sumur di dekatnya bergaris tengah 60 cm dengan kedalaman 70 cm,berair tawar walaupun hanya beberapa meter dari lairan Sungai Pesak yang berair asin.
Semua penduduk Pesak sangat menjaga kebersihan lingkungan ini karena jika sembarangan menggunakan air sumur ini,bada akan gatal-gatal.Menurut narasumber,sumur ini menjadi alamat terakhir penduduk saat musim kemarau panjang.
Desan Pesak sendiri memiliki kekhususan melaksanakan ruwahan di rumah masing-masing,tapi di lakukan bersama berpusat di sekitar Makam Datuk Keramat Pesak.sebab Deraman Jayasakti di anggap sebagai cikal bakal penduduk Desa pesak saat ini.

Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib


Cerita Asal Mula Nama Kampung Belantu / Keramat Pinang Gading

Tak  jauh dari Gunung Beluru, Kecamatan Membalong, ada sebuah keleka’ dikenal dengan Keleka’ Nanga’. Disinilah terletak kuburan yang dikenal dengan Keramat Pinang Gading, tokoh utama cerita ini. Di antara rumah-rumah yang ada di Keleka’ Nanga’ ini, terdapatlah sebuah belandongan (rumah beratapkan daun nanga’ yang disirat, berlantaikan kayu berlapiskan tuntong –kulit kayu terunjam, red.) Di rumah itu tinggal Pak Inda bersama istrinya Bu’ Tumina. Sepasang suami istri yang hidup rukun dan damai ini belum dikaruniai seorang anak. Kendati demikian ketiadaan anak itu tak mengurangi rasa sayang antara keduanya. Kemana pun mereka pergi selalu berdua. Penderitaan salah satu adalah penderitaan keduanya. Begitu pula kesenangan. Ibarat burung tiong, kemana jantan terbang disitulah betina ikut terbang. Sehari-hari hidup mereka bersumber dari usaha bertanam padi (ume). Tiap tahun pada bulan nyiur, mereka menugal (menanam padi ladang red.), jagung dan palawija lainnya. Pak Inda termasuk rajin berusaha di laut, untuk menangkap ikan dengan membuat dan memasang sero. Suatu pagi, saat sedang musim mengetam (menuai) padi, Pak Inda berpamitan pada istrinya, untuk menidau (menengok sero, red.) kalau-kalau mengena ikan banyak.
Ia berpesan kepada istrinya, “Biar aku saja yang pergi, kau tinggal di rumah menjemur padi.” Ketika Pak Inda tiba di tepi laut, air laut yang sedang berangsur surut. Saat berjalan menuju seronya, kaki Pak Inda tersandung sepotong bambu yang hanyut bersama sampah laut. Bambu itu ia ambil lalu dilemparkannya ke tengah laut agar hanyut ke tempat lain. Ketika ia tiba dekat seronya, ia kembali tersandung sepotong bambu. Lalu ia pun mengambil bambu tersebut. Setelah diamati, ternyata itu bambu yang tadi juga. Karena merasa tak butuh bambu Pak Inda pun mencampakkan bambu itu ke belakang sero, agar ikut terbawa arus hanyut ke tempat lain. Selesai dengan urusan bambu tadi, Pak Inda langsung sibuk dengan kegiatannya, menangguk ikan di dalam sero. Rupanya hari itu seronya banyak mengena. Setelah dimasukkan ambong, ikan-ikan tadi dicucuki-nya dengan rotan.
Sambil menggandar ikan-ikan hasil seronya, sebagian diambin (dipanggul), sebagian ditentengnya, ia mengarungi air laut yang telah surut dan berjalan menuju pantai. Di tengah perjalanannya menuju pantai, ketiga kali kakinya terkait sebatang bambu, yang setelah diamati ternyata bambu yang sudah dua kali dibuangnya tadi. Karena sudah tiga kali tersandung bambu yang sama, terlintas dalam fikirannya … aneh sekali kejadian ini. Air laut telah surut, lazimnya benda itu hanyut terbawa arus. Tetapi kenyataannya, bambu itu hanyut melawan arus. Ia pun berfikir, pasti bambu ini bukan sembarang bambu, ada ada sesuatu yang terkait dengan bambu tersebut. Akhirnya, bambu itu pun ia ambil dan digunakannya untuk memikul ikan-ikan perolehannya. Ketika makan siang, perihal bambu aneh yang kemudian ia jadikan pikulan ikan tadi pagi diceritakan Pak Inda pada istrinya. Oleh istrinya bambu itu diletakkannya di halaman depan rumahnya kalau-kalau diperlukan untuk menindih tikar jemuran padinya agar tidak tergulung oleh tiupan angin.
Selang beberapa hari setelah kejadian itu, tak ada peristiwa apa-apa dengan bambu tersebut. Namun, pada suatu hari Jumat, kira-kira matahari mulai tergelincir pertanda waktu sholat Dzuhur tiba, ketika pak Inda sedang tidur-tiduran berbantal sebang, secara tiba-tiba terdengar suara letusan sangat keras diikuti suara tangisan bayi. Suara itu datang dari tempat ia menjemur padi. Setelah dilihat ternyata, suara ledakan keras tadi berasal dari bambu yang dibawanya dari laut. Anehnya, dari pecahan bambu itu keluar seorang bayi. Dari muka sang jabang bayi terpancar cahaya yang menyilaukan mata. Melihat bayi tersebut, Bu Tumina, istri Pak Inda, segera menggendongnya. Setelah itu ia segera memandikan, menyelimuti dengan kain bersih dan meninabobokkannya. Ringkas cerita bayi itu dipelihara dan menjadi anak pasangan bahagia yang sudah lama mengidamkan anak ini. Bayi itu sendiri kemudian diberi nama Puteri Pinang Gading. Setelah usianya beranjak besar, kelihatanlah bahwa Pinang Gading memiliki keistimewaan khusus, yaitu kesenangannya akan panah sehingga tak henti-hentinya ia selalu minta dibuatkan anak panah dari bambu. Akhirnya ia pun menjadi seorang anak yang mahir sekali menggunakan panahnya.Setelah berusia sekitar 15 tahun ia malah menjadi seorang pemanah yang tiada tandingan. Bidikannya tak pernah meleset dan setiap ia pergi berburu selalu membawa hasil memuaskan sekali bagi Pak Inda dan Bu’ Tumina.
Perangainya sehari-hari pun sangat menyenangkan, baik terhadap kedua orang tuanya maupun kerabat dan tetangganya di Keleka Nanga’. Malah sejak Pinang Gading ada, kehidupan suami istri tersebut sama sekali berubah. Hasil tangkapan ikan dari sero-nya selalu melimpah ruah, setiap bertanam padi hasilnya selalu memuaskan. Pendeknya sejak pasangan ini memelihara Pinang Gading kehidupan mereka berubah makmur, hingga bertambah sayanglah keduanya kepada Pidang Gading. KONON, tak jauh dari Keleka’ Nanga’ terdapat Keleka’ Remban. Keleka’ ini setiap tahun selalu ditimpa musibah yang ditimbulkan makluk menyerupai seekor burung raksasa. Burung raksasa yang kabarnya hidup di Pegunungan Bita, di sebelah Timur Danau Ranau, itu selalu memangsa penduduk Keleka’ Remban setiap habis panen. Hingga dari tahun ke tahun penduduk keleka’ itu menyusut. Baik akibat dimangsa burung raksana itu maupun karena banyak yang pindah dari keleka’ tersebut. Umumnya, selain pindah ke keleka’ sebelahnya, untuk menghindarkan burung raksasa tadi, sebagian penduduk memilih tinggal di gua-gua di celah-celah gunung di daerah itu. Sementara bagi penduduk yang masih memilih tinggal sebagian besar menggunakan remban, yaitu kayu-kayuan yang disusun dan dijalin dengan rotan sega’ atau berebat. Mereka menamakan burung yang sering menyerang itu Burung Gerude, yang konon kabarnya berkepala tujuh.
Akan halnya musibah yang menimpa penduduk Keleka’ Remban itu tersiar ke keleka’ tetangga dan membuat mereka prihatin dan was-was, jangan-jangan suatu hari nanti mereka yang akan dapat giliran diserang. Ketika musibah itu terjadi usia Pinang Gading sudah menginjak 21 tahun dan kemahiran memanahnya semakin hebat. Ia pun sudah mendengar akan keganasan burung raksasa tersebut. Karena tak tahan diteror, seluruh tetua keleka’ bermusyawarah untuk membinasakan burung tersebut dengan jalan memanahnya. Satu-satunya pemanah yang paling mahir saat itu siapa lagi kalau bukan Pinang Gading. Sebagai anak yang berperangai baik Pinang Gading tentu saja tersentuh hatinya dan tergugah serta bersedia menjalankan tugas sebagai pemanah Burung Gerude tersebut. Untuk menunaikan tugasnya, Pinang Gading pun segera membuat anak panah khusus untuk mematikan burung raksasa tersebut. Ia pun merendam anak panahnya dengan berbagai jenis racun. Setelah persiapan usai dilakukan, pada suatu hari burung yang ditakuti itu datang ke Keleka’ Remban untuk mengganggu penduduk. Melihat kedatangan burung pembinasa tersebut, Pinaang Gading yang sebelumnya telah diungsikan di stu tempat strategis, mulai mempersiapkan busur panahnya dengan anak panah beracun siap ditembakkan. Akhirnya, ketika si burung raksasa itu mematuk orang tua yang memang sengaja diumpankan, saat itu juga Pinang Gading melepaskan tali busur panahnya.
Seketika anak panah beracun meluncur deras menuju sasarannya, tepat di leher si burung buas itu. Karena anak panah yang digunakan Pinang Gading telah direndam anake macam racun, tak ayal burung itu pun langsung mati. Burung itu jatuh bergemuruh di atas tanah, menggelepar sesaat dan sekejap kemudian mati. Dari masing-masing dari tujuh kepala burung itu kemudian keluar air tujuh warna. Lalu akan halnya anak panah Pinang Gading, saking deras dan kuatnya ia menarik busur, setelah menembus leher burung raksasa terus melesat ke atas dan jatuh kembali menancap di tanah. Menurut cerita yang berkembang turun temurun, anak panah yang menancap di tanah tadi tumbuh subur menjadi sebatang pohon bambu. Namun, setiap ada penduduk yang menebang pohon bambu itu akan menemui ajalnya, sehingga lama-kelamaan tak ada lagi penduduk yang berani menebangnya. Rupa-rupanya racun yang digunakan Pinang Gading begitu kuatnya, hingga terus melekat pada anak panahnya. Bahkan hingga anak panahnya tumbuh kembali menjadi pohon bambu yang subur. Karena itulah kemudian penduduk setempat menyebut pohon bambu itu sebagai buluh hantu. (Buluh adalah bahasa lokal untuk bambu, red.) Lama kelamaan penyebutannya berubah menjadi BELANTU, hingga kemudian daerah tersebut juga dinamai daerah Belantu. Akan halnya Pinang Gading, setelah berhasil memusnahkan burung raksasa tersebut, namanya kian termashur di seluruh keleka’ di daearah Belantu. Namun, sebagai manusia biasa, setelah usianya tua, meninggal di tempatnya ‘lahir’ di Keleka’ Nanga’. Makamnya yang kini terdapat di kampung kecil di kaki Gunung Beluru, Membalong, itu hingga kini dikeramatkan penduduk setempat.

Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib

Kik Cuan Melawan Limpai

Pada zaman dahulu kala ,tak beberapa jauh dari Kampung Simpang Tiga,termasuk wilayah Kecamatan Gantung ,hidup seorang petani bersama istri dan anak gadisnya.Oleh penduduk setempat ia dipanggil Kik Cuan .Sebagai seorang petani Kik Cuan senantiasa berada disekitar lingkungan ladangnya ,yang umumnya berada ditengah hutan .Hingga ia menjadi sangat akrab kehidupan hutan dan segalah macam isinya .
Satu-satunya anak perempuan Kik Cuan bernama jerimai .Sebagai seorang perempuan,tentunya ,ia harus berkeluarga . Dan,ketika tiba saatnya,Jerimai pun dinikahkan Kik Cuan dengan seorang pemuda dari kamoung setempat .Pernikahan ini diramaikan dengan berbagai acara ,termasuk kedurian bagi orang kampung.
Beberapa waktu setelah perhelatan pernikahan Jerimai,kampung dimana Kik Cuan tinggal sering ada kejadian seorang anak yang bermain dipinggir hutan ,pemandian(bahasa setempat disebut aik arongan,red),bahkan diladang .Selain ditempat-tempat tersebut ,tidak kerap pula ada kejadian terbongkar nya kuburan orang yang baru saja meninggal.Baru saja jenazah orang meninggal dimakamkan ,keesokan harinya kuburan tersebut terbongkar secara teratur ,seperti diseruduk semacam moncong binatang yang tersisa dari jenazah yang terbongkar itu ,biasanya ,hanyalah jari kuku dan kain kafan .
Kejadian-kejadian ini menimbulkan suasana tenang dikampung Kik Cuan.Siang malam penduduk kampung selalu berjaga-jaga .Penduduk laki –laki selain menjaga diladang pada siang hari berjaga-jaga dikampung pada malam hari .Sementara kaum perempuan,selain menyiapkan makan bagi keluarga ,tak boleh lengah mengawasi anak-anak mereka ketika bermain dipinggir hutan atau ditengah ladang.
Dalam kondisi demikian ,suatu hari ,keluarga Kik Cuan mendapat undagan kedurian pernikahan anak temannya yang tinggal diwilayah Simpang Tige,sekarang rencananya ,Kik Cuan akan pergi keundangan tersebut karena temannya itu dulu banyak membantunya saat pernikahan jerimai .Lagi pula, ia tak mau menyinggung perasaan keluarga yang sudah susah-susah mengundangnya .
Cuma rawanya kondisi kampung saat itu,selalu menjadi pemikirannya untuk memenuhi undagan temannya .Sebab ia sangat tahu perjalanan menuju Kampung Simpang Tige yang akan ditempuhnya penuh resiko .Apalagi ia harus membawa seluruh anggota keluarganya ,trmasuk jerimai yang masih pengantin baru.
Mengantisipasi hal-hal tidak di inginkan keluarga Ki’ Cuan akan berangkat berombangan ,bersama-sama orang kampung.Sementara karena masih ada urusan yang harus di selesaikan sebelum berangkat, Ki’ Cuan menyusul kemudian.
Rupanya,Jerimai yang harus nya berangkat bersama rombongan orang kampung ,terlambat.Hingga ia harus berjalan sendirian, terpisah agak jauh dari rombongan didepannya .Tetapi ditengah perjalanan ,tak ada yang tahu apa yang menimpah jerimai ,sang penganten baru .
Sementara itu, dirumah ,setelah menyelesaikan tugasnya Kik Cuan bergegas menujuh rombongan keluarganya yang telah lebih duluh berangkat. Ditengah perjalanan ,Kik Cuan terkejut .Ia menemukan selembar selendang berlumuran darah dan sisa potongan tangan didekatnya .Apa yang terjadi ?Setelah mengamat-amati selendang berlumuran darah dan sisa potongan tangan tadi,yakinlah Kik Cuan telah terjadi sesuatu pada Jerimai .
Sebab selendang yang ias temukan dikenali sebagai selendang milik Jerimai yang digunakan ketika berangkat ke undangan tersebut.. Lalu dikuku jari sisa potongan tangan pun ia yakini tangan Jerimai ,sebab dikukunya terlihat pacar (kutek tradisional yang biasa di gunakan untuk pengantin,red) .
Menghadapi kenyataan itu dengan perasaan marah Kik Cuan mempercepat langkanya menujuh tempat kedurian,yakinlah ia bahwa jerimai telah mejadi korban mahluk yang meenggegarkan kampungnya akhir-akhir ini .Sebab jerimai tak ada ditempat kedurian tersebut.Setelah menceritakan temuannya itu kepada istri dan menantunya ,Ketiga orang itu pun kembali kekampungnya .
Di antara rumah,istri dan menantu Ki’ Cuan menangis sejadi-jadi nya.Malam hari nya Ki’ Cuan bermimpi yang membinasakan anak nya adalah makhluk buas.,Se ekor limpai. ( Oleh penduduk Belitung makhluk ini di gambarkan seperti babi,namun berukuran sangat besar,dan di yakini ini adalah makhluk jadi-jadian,red.).Keesoakan harinya, Ki’ Cuan mendatangi lokasi kejadian yang menimpa anaknya dan meminta pertanggungjawaban siapa yang telah membinasakan Jerimai.Sekejap kemudian,keluarlah limpai.Kepada limpai, Ki’ Cuan mengatakan akan menuntut balas atas kematian anaknya.Di tantang demikian limpai setuju dan bersedia duel dengan kehendak Ki’ Cuan.
Tujuh hari berikutnya,di daerah sekitar Genting Apit,terjadilah duel hidup mati antara Ki’ Cuan melawan Limpai.Mencapai tengah hari Ki’ Cuan telah mengeluarkan segenap kemampuan nya.Tapi,Limpai belum juga dapat di kalahkan.Walau semua senjata seperti Tombak,Keris,dan Parang sudah di gunakan,tapi tetap saja,Limpai tak bisa di kalahkan.
Lalu,keduanya sepakat beristirahat.Sambil bersitirahat Ki’ Cuan makan sirih dan campuran nya dengan urak ( lesung kecil sepanjang 15 cm dan berdiameter sekitar 5 cm,dari kayu atau bamboo,berfungsi sebagai wadah pelumat capuran sirih.Untuk melumatkan campuran sirih di dalamnya di gunakan alu kecil dari besi bergagang kayu biasa disebut mata urak,red.).Sebagian dari sirih yang telah di lumatkan,dan sebelumnya telah di mantrai,di berikan nya kepada Limpai.
Setelah itu perkelahian pun di lanjutkan.Karena tidak ada senjata lagi yang bisa di gunakan, Ki’ Cuan menjadikan mate urak sebagai senjata.Pertempuran berjalan terus.Namun keduanya masih terus bisa bertahan.Selama itu Ki’ Cuan terus berusaha mengambil kesempatan untuk berada di bawah perut Limpai.Pada saat itulah Ki’ Cuan menusukan matanya urak nya ke perut Limpai.Sekejap kemudian makhluk yang telah menggegerkan kampung Ki’ Cuan ini pun roboh.
Sebelum Limpai menghembuskan nafas terakhir,Limpai bersupah : “ Mulai saat ini setiap keturunun Ki’ Cuan tetap akan jadi muso bebuyutan ku.
Karena sumpah itulah,hingga kini,masih banyak yang percaya,di tempat Ki’ Cuan bertempur melaawan Limpai – daerah sekitar Genting Apit,jika menyebutkan diri sebagai keturunan Ki’ Cuan,Limpai akan datang ke tempat tersebut.Sebab,itu sama saja artinya,mengundang limpai untuk berkelahi (Sumber Cerita : Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib)

Sejarah Dan Misteri Batu Buyung/Batu Buyong

Di antara bebarapa objek wisata yang ada di pulau Belitung,salah satu yang sering di kunjungi wisatawan local adalah batu buyung.
Obyek wisata ini berada di daerah paling ujung di selatan Pulau Belitung,terletak sekitar 110 km dari kota Tanjungpandan,batu Buyung bisa di capai menggunakan kendaraan roda dua maupun empat.
Kelebihan obyek wisata ini adalah sebuah batu seukuran lapangan bulu tangkis yang terlihat agak unik.Layaknya sebuah batu yang memang di letak kan di atas sebuah batu datar lain nya.
Selain sebagai tempat wisata,kawasan obyek wisata Batu Buyung ini juga di kenali masyarakat sebagai tepat yang memiliki nuansa magis cukup kuat.Hingga kerapkali orang-orang mendatangi Batu Buyung untuk bernazar,semisal meminta sesuatu seperti nomor buntut dan sejenisnya.
Banyaknya masyarakat yang menjadikan Batu Buyung sebagai tempat bernazar,tak terlepas dari cerita di balik keberadaan dan asal usul Batu Buyung itu sendiri.Yang konon hanya sebuah batu kecil seukuran kepala bayi ( buyng.red ) yang berasal dari Kerjaan Majapahit.
Di kisahkan,dalam satu misi perluasan wilayah,satu armada kecil dari kerajaan Majapahit melihat sebuah ” gosong ” yang aneh.Tampak seperti gosong,tapi pemandangan dari laut sangatlah indah.Terpesona dengan keindahan gosong tersebut,serempak semua awak perahu menghentikan pekerjaan.Mereka memilih menikmati keindahan tersebut daripada melakukan pekerjaan.
Namun demikian,kendati memiliki kesempatan,mereka tak berani langsung mendarat ke gosong tersebut.Takjub dengan keindahan gosong tersebu,para awak perahu kerajaan Majapahit seperti merasakan hanya mendatangi sebuah pulau tak ta berpenghuni saja..Tapi bedasarkan pengalaman di pulau-pulau lain,mereka merasa yakin bahwa gososng yang indah ini pasti ada penghuni nya.Dengan keyakinan tersebutlah kemudian mereka menyempatkan diri singgah sebentar untuk sekedar beristirahat sambil menikmati indahnya gosong tersebut.
Sesampai di tanah jawa,pimpinan armada kecil itupun segera melapor kepada raja.Menceritakan pulau temuan yang anggap ganjil dan penuh misteri ini.Mendapat laporan demikian raja merasa perlu untuk segera menanggapinya.Pertemuan singkat pun di gelar untuk memutuskan apakah pulau tersebut akan di beri tanda sebagai milik majapahit.Di akhir pertemuan raja menginstruksikan hulubalang membuat sebuah tanda berupa subuah batu yang di buat dari batu dapur ( Tanah liat yang di bulatkan,biasanya di gunakan untuk membuat dapur api di rumah-rumah di kampong,sebesar kepala buyung-bayi.red ).Mendapat instruksi demikian hulubalang pun segera menyiapkan sebuah batu dapur lengkap dengan tali rantai yang panjang sebagai pengikat pulau tersebut dari pulau jawa.
Setelah semua perlengkapan siap rombongan kedua pun berangkat menuju pulau misterius tadi.Berbeda dengan misi sebelumnya,kali ini anggota rombongan jauh lebih banyak.Singkat cerita setelah rombongan tadi sampai di pulau misterius tadi,mereka segera meletakan Batu Buyung di tempat nya sekrang ini.Dari Btu Buyung ini pula lalu di ikatkan rantai hingga sampai ke pulau jawa.Sedang sebagian kecil tetap tinggal untuk mengawasi sekaligus menjaga pulau tersebut agar tidak di ambil orang lain.Penjaga inilah yang konon masih menghuni daerah dimana batu tersebut di letak kan.Kepada beliaulah orang-orang minta sesuatu untuk kemudahan yang bersifat duniawi.
Saat ini Batu Buyung tadi sudah tidak seperti keadaannya pertama kali di bawa dari tanah jawa,yang hanya seukuran kepala bayi.Tapi sudah membesar hingga menjadi seukuran lapangan bulutangkis.Namun,yang aneh bin ajaib,letak Bati Buyung ini persis seperti sebuah batu yang memang di geletakan di atas sebuah batu datar lain nya.
Menurut pendapat setengah orang,jika batu ini di dorong baramai-ramai ia akan tergeser ke lautan.Tetapi karena sekarang sudah di anggap batu berpenghuni,maka orang tak berani lagimembuktikan nya.Pendapat lain juga mengatakan bahwa,penghuni Batu Buyung saat ini ada tiga orang.Yaitu Bujang Tanggok ( Melayu/Islam ),Taopekong Gambar Melayang ( Cina/Khong Hu Cu ), dan Penderas kilat Di Awan ( Kulit Putih/Kristen )
Pendapat lain juga menyebutkan bahwa,permintaan sesuatu kepada penunggu Batu Buyung ini akan bisa di kabulkan setelah peminta melakukan pertapaan yang sangat berat ujian nya.Mula-mula pertapa di lemparkan ke Gunung Baginda,lalu oleh penghuni Gunung Batu Beginda di kembalikan ke Batu Buyung.Lempar melempar itu terjadi sebanyak tujuh kali secara berulang-ulang.Nah,jika di pertapa berhasil melewati ujian pertama ini,maka si pertapa akan di lemparkan ke sebuah gosong bernama GOSONG PARAK ,untuk uji secara magis.Setelah seorang pertapa berhasil melewati ujian terakhir ini,barulah apa yang di inginkan dan di sampaikan pertapa sebelumnya akan di kabulkan.
Memang sejauh ini tak ada yang menceritakan sudah berapa banyak pertapa yang di kabulkan permintaan nya.Namun,sebagian masyarakat tetap yakin bahwa,batu yang semula hanya berukuran kepala bayi itu telah berubah menjadi sebesar lapangan buluhtangkis itu,tetap di jaga oleh pasukan yang di kirim oleh Raja Majapahit ketika menguasai Pulau Belitung,hingga jadi terkesan angker.


Hikayat Tuk Kundo

Sekitar kilometer 30 dari Tanjungpandan menuju Kelapa Kampit, terdapat terdapat sebuah kampung bernama Parit Gunong. Berjarak 300 meter dibelakang kampung yang terletak di kaki Gunung Tajam ini, terdapat sebuah kuburan Islam, dimana salah satunya adalah Makam Datu’ Kundo. Beliau adalah salah satu dari murid Syekh Said Husein Abdullah, penyebar Agama Islam di Belitung.
Diceritakan ketika Tu’ Kundo datang ke daerah ini, kehidupan penduduknya masih diliputi suasana animisme. Tidak ada suasana Islam sama sekali. Sehari-hari, selain dari hasil buruan pelanduk, rusa dan burung, penduduk masih memakan lutong, kera serta Gadog (babi hutan, red.).
Dalam suasana dan situasi seperi itulah Tu’ kundo dengan penuh semangat mcnyebarkan Agama Islam. Dalam riwayatnya tak diketahui asal-usulnya, apakah pendatang dari luar pulau atau penduduk setempat yang berguru pada Syekh Said Husein Abdullah. Namun, umum mengakui Tu‘ kundo sebagai penyebar Islam paling berhasil di antara tujuh murid Syekh Said Husein Abdullah.
Di kampung Parit Gunong ini, Tu’ Kundo menetap di pondok Mak Gadog, seorang janda yang memiliki gadis yang menginjak dewasa. Suatu hari datanglah lamaran untuk putri Mak Gadog. Karena tak ada keluarga yang ditunggu serta tak ada yang diajak bermusyawarah lagi, Mak Gadog pun menyetujui lamaran tersebut.
Setelah lamaran diterirna, dipersiapkanlah segala sesuatu yang berhubungan dengan acara kenduri yang akan dilaksanakan sesudah panen Mak Gadog tahun ini.jadi untuk persiapan, beras sudah tak ada persoalan lagi, tinggal lagi lauk-pauk kundangan. Maka Mak Gadogpun berusaha untuk mencari ikan d sungai dengan memasang tekalak. Perangkap ikan ini terbuat dan bambu yang dianyam berhentuk seperti terornpet dengan bagian depan agak kecil dan membesar pada bagian badan lalu mengecil lagi pada bagian belakang. Pemasangannya, bagian depan diletakkan menghadap arus air, hingga ikan yang yang masuk dan terkurung di bagian tengah namun tak bisa keluar lewat belakang karena ukurannya kecil.
Namun, ketika memasang tekalak, keberuntungan nampak masih belum berpihak pada Mak Gadog. Ditemani Tu’ Kundo, setiap malam mau mengambil ikan selalu saja tekalak-nya kosong melompong.
Pada suatu malam, tu’ Kundo datang seorang diri ke tempat Mak Gadog memasang tekalak. Tu’ Kundo curiga, kalau-kalau ikan dalam tekalak telah terlebih dulu diambil orang lain. kira-kira menjelang subuh tiba-tiba Tu’ Kundo melihat kelabat sebuah bayangan mendekati tekalak Mak gadog. Di tangan bayangan itu nampak benda berkilat memancarkan sinar warna keemasan. Melihat bayangaan itu, Tu’ Kundo segera bersembunyi dibalik sebuah pohon besar tak jauh dari tekalak Mak Gadog, sambil memperhatikan sosok dibalik bayangan tersebut.
Setelah diamati dengan seksama, Tu’ Kundo bisa melihat jelas bayangan tersebut. Yang ternyata seorang tua berbaju putih memegang sebuah tongkat berwarna keemasan. Yakin dengan apa yang diamatinya, segera Tu’ Kundo menyerang, karena mengira pastilah orang tua tersebut yang selama ini mencuri ikan-ikan dalam tekalak Mak Gadog. Rupanya kakek tua itu bukan sembarang orang. Kendati sempat melakukan perlawanan ia akhirnya bisa dikalahkan Tu’ Kundo. Namun belum sempat Tu’ Kundo membunuhnya, tiba-tiba kakek tua itu berkata, “Nak jangan kite lanjutkan perkelahian ini. Jangan ade di antare kite nok harus mati, sebab kan ngerugikan kite sendiri. Sekarang, gini saja’ Sebutkan ape saja’ nok kau endake, semue pasti kan kukabulkan.”
Tu’ Kundo heran dengan perkataan orang tua ini. Sebab terdengar seperti bukan orang sembarangan. Kanena itu diputuskanlah untuk tidak membunuhnya. Kepada orang tua itu Tu’ Kundo hanya minta nani mulut. “Kek, beri’ aku nani mulut,” ujar Tu’ Kundo.
Mendengar permintaan Tu’ Kundo, orang tua itu kembali bertanya, “untuk ape kau minta nani mulut, nak?”
Untuk ngembantu’ ngalakan urang-urang nok nyalae’ aturan dan ndak nurut kan aturan agama kamek,” jawab Tu’ Kundo.
Mendengar jawab Tu’ Kundo, orang tua itupun membuka mulut Tu’ Kundo dan meludahinya sebanyak lima kali. Setelah itu, orang tua itu pun menghilang seiring datangnya pagi.
Ketika hari sudah semakin terang, Tu’ Kundo segera mengambil ikan dari tekalak Mak gadog. hari itu karena datang lebih dulu, Tu’ Kundo berhasil membawa ikan banyak sekali. Dalam perjalanan pulang Tu’ Kundo mencoba apa yang telah didapatnya dari orang tua tadi. Diarahkan pandangannya pada burung yang sedang berkicau, sambil berkata, “Sine’ kau burong” ajaib, semua burung yang dipanggil Tu’ Kundo terbang ke arahnya dan hinggap di pundak, hingga membuatnya kewalahan. Rupanya, kata Tu’ Kundo dalam hati, betul apa yang dikatakan orang tentang kehebatan seseorang yang memiliki nani mulut. Kalau begitu, fikir Tu’ Kundo, lebih baik ku musnahkan saja kera dan lutong di pohon-pohon yang ada di hutan ini. Sebab, masih banyak penduduk yang telah memeluk agama Islam saat itu yang memakan kera dan lutong.
Karena itu setiap melalui pohon yang dihuni kera dan lutong di sepanjang perjalanannya pulang Tu’ Kundo selalu berteriak “Matilah mika’ semue !” Usai berkata demikian serempak kera dan lutong yang ada di pohon berjatuhan ke tanah. Mati karena tuah nani milut Tu’ Kundo.
Setibanya di rumah, Tu’ Kundo menyerahkan semua ikan basil tangkapannya kepada Mak Gadog. Namun, ia tidak menceritakan pertemuannya dengan orang tua di dekat tekalak Mak Gadog.
Sebenarnya dengan Mak Gadog ini, Tu’ Kundo merasa berhutang budi, karena telah menyediakannya tempat tinggal. Tapi menghadapi Mak Gadog ini sangat hati—hati dan tidak mau
buru-buru meng-Islamkan-nya. Akhirnya, dengan kesabaran dan caranya sedikit demi sedikit Tu’ Kundo bisa mengajak Mak Gadog ke jalan Islam. Bahkan, ketika kendurian anaknya, Tu’ Kundo bisa meminta Mak Gadog untuk tidak menyediakan makanan yang diharamkan, seperti gadog, kera dan lutong.
Jadilah akhirnya Tu’ Kundo sebagai juru bicara Mak Gadog setiap ada tamu yang menanyakan tetang makanan kepada Mak Gadog “Mak Gadog ndak ade nyediakan nok ini agi’. Mun gi’ tadi’ se mimang banyak panggang gadog, kera kan lutong,” kata Tu’ Kundo kepada setiap tamu Mak Gadog.
Hingga akhirnya satu di antara undangan Mak Gadog berkomentar, “Mak Gadog ne mimang la beruba andang-andangan ini. Biasenye belau ne ndak keabisan nok itu te’. Tapi kitu te nda’ bagi’ barang sekerubitan.”
Mendengar komentar tamunya, Mak Gadog pun menyahut, “Sebenare aku tu ndak ade agik ko kan nok kitu. La kukaperkan semuenye.”
Lalu Tu’ Kundo pun menyambung, ” Mun Mak la ngaperkannye, make gadog, kera, lutong tadi’ jadi kaper semuenye.”
Rupanya kejadian pada selamatan anak Mak Gadog secara perlahan telah membuka hati penduduk Parit Gunong untuk mengikuti ajaran Islam.
Sementara, oleh Tu’ Kundo, cara-cara menyebarkan islam seperti di rumah Mak Gadog dikembangkan sebagai model dalam penyebaran agama Islam di daerah-daerah lain di kemudian hari. Setiap turun ke keleka’, dusun, kampung, ume, gunung dan lembahnye sekitar tempat tinggalnya dan wilayah sekitar tak pernah ada pemaksaan oleh Tu’ Kundo kepada penduduk, tapi dengan memanfaatkan situasi yang sedang terjadi di masyarakat. Hingga dalam syiarnya tidak pernah terjadi konflik masyarakat yang di—Islam—kaunya. Malah, dengan caranya itu, Tu’ Kundo jadi sangat populer di masyarakat.
Singkat cerita, setelah Usianya bertambah tua, Tu’ Kundo menghabiskan sisa hidupnya dengan mcnjadi imam jamaah mesjid Mesjid Air Batu Buding. Di situlah beliau menjadi guru mengaji sekaligus tempat bertanya masyarakat tentang segala yang berkaitan dengan Islam. Malah, menurut sebuah sumber, ada sebuah kitab suci Al Quran yang hurufnya sebesar jari kelingking bayi. Kitab suci tersebut dikenal dengan Al Quran Tu’ Kundo.
Di akhir hayatnya, Tu’ Kundo oleh masyarakat dimakamkan di sebuah pekuburan di Kampung Parit Gunong. Tak ada yang istimewa dengan makam beliau. Bentuknya sama seperti makam yang lain. Tapi oleh kuncen makam Tu’ Kundo, dipercava bahwa beliaulah yang hingga saat ini menjadi semacam penjaga penduduk Parit Gunong, terutama hal-hal yang menyimpang dari ajaran Islam.


Asal Mula Keramat Gunung Tajam

Pada masa pemerintahan Kiai Agus Bustam, bergelar Depati Cakraningrat IV (1700-1740 M) di Kerajaan Balok, Belitung, seorang mubalig Islam bernama Sayid Hasan bin Abdullah atau Syekh Abubakar Abdullah datang ke Belitung melalui Sungai Buding, sekitar 45 kilometer (km) dari Tanjung Pandan. Muhaligh asal Aceh ini bermaksud datang ke Belitung untuk menyebarkan agama Islam dan bermukim di Desa Buding.
Dari Desa Buding ini, beliau menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Pulau Belitung. Dalam penyebaran dan melakukan syiar Islam, Ia dibantu Tu’ Kundo, seorang muridnya yang terkenal. Tu’ Kundo inilah yang sering menobatkan orang yang sering dianggap kafir untuk masuk islam. Tugas cukup berat bagi seorang mubaligh. Karena itu tidak mengherankan kalau keduanya selalu mendapatkan tantangan. Namun, dengan hati tabah kedua mubaligh ini terus menjalankan kegiatan syiarnya. Singkat cerita, tanpa terasa sudah banvak daerah yang penduduknya telah masuk Islam. Setiap daerah yang penduduk nya telah masuk Islam, didirikan sebuah mesjid untuk tempat ibadah. Mesjid pertama yang dibangun Syekh Abuhakar Abdullah berada di Kampung Badau, sekitar 22 km dari Tanjungpandan.
Kuatnya syiar yang dilakukan Syekh Abubakar Abdullah hingga banyak penduduk masuk agama Islam, tak pelak membuat Kiai Agus Bustam yang pada saat itu tengah memerintah di Kerajaan Balok merasa takut kehilangan kepercayaan dari rakyatnya. Hingga ia melakukan berbagai cara agar kepercayaan rakyat kepadanya tak berkurang. Bahkan, ia tak segan-segan untuk bertempur.
Suatu ketika, Kiai Agus Bustam mendatangi Syekh Abubakar Abdullah untuk membunuhnya. Syekh Abdullah tak gentar. Sebagai seorang mubaligh beliau tak takut meninggal. Upaya Kiai Bustam untuk membunuhnya ia hadapi dengan gagah berani, hingga terjadilah perang tanding antara keduanya. Namun, setelah bertempur cukup lama dan berbagai jurus sudah dikeluarkan Kiai Agus Bustam, Syekh Abdullah tak juga terbunuh. Hingga akhirnya, Syekh tersebut berujar kepada Kiai Agus Bustam, “Raje kalu’ mimang benar-benar nak muno aku, ndak usa gini carenye. Tapi cukup pakai jarum emas nok ade bang keminangan aku terus cucokkan ke ujong jempol kaki kanan aku.”
Rupanya niat Kiai Agus Bustam untuk membunuh Syekh Abdullah memang telah bulat. Setelah tahu kelemahan Syekh Abdullah, tanpa membuang waktu ia mengambil jarum emas di keminangan Syekh Abdullah dan menusukkannya ke jari yang disebutkan. Seketika itu juga syekh dari Aceh itu roboh. Wafat meninggalkan dunia yang fana berbalut amal kebaikan serta nama besar sebagai penyebar agama Islam pertama di Belitung.
Sebenarnya, kepada Tu’ Kundo, Syekh Abdullah pernah berpesan, “Kalu’ aku mati kelak, kuborkan aku di antare langit dan bumi“. Namun, karena saat meningal Tu’ Kundo sedang di luar Belitung, oleh pengikut yang lain jenazah Syekh Abdullah dimakamkan pada sebidang tanah di sekitar hulu Sungai Air Batu, Buding.
Dua—tiga bulan setelah kematian Syekh Abdulhah, Tu’ Kundo kembali ke Belitung. Diceritakanlah oleh para pengikutnya kepada Tu’ Kundo tentang apa yang terjadi pada Syekh Abubakar Abdullah. Mendengar cerita itu, Tu’ Kundo terdiam. Tak tahu apa yang harus diperbuat. Yang ia ingat hanya pesan Syekh Abdullah kepadanya tempo hari.
Ingat pesan itu, ia pun berpikir keras menafsirkannya. Setelah difikir-fikir mengertilah Tu’ Kundo, yang dimaksud dikubur antara langit dan bumi adalah di atas puncak tertinggi gunung yang ada di Belitung.
Nah tak jauh dan makam Syekh Abdullah terdapat Gunung Tajam, gunung tertinggi di Belitung dengan dua puncak, kerap disebut Gunung Tajam laki dan Gunung Tajam bini. Diantara dua puncak ini, yang tertinggi adalah Gunung Tajam bini. Karena itulah, kemudian Tu’ Kundo memutuskan untuk memindahkan jasad Syekh Abdullah dari hulu Sungai Air Batu Buding ke puncak Gunung Tajam bini, yang berjarak sekitar delelapan kilometer.
Singkat cerita bersama pengikutnya yang lain, Tu’ Kando pun membongkar makam Syekh Abdullah. Satu keajaiban terjadi selama pembongkaran makam itu dilakukan. Jasad Syekh Abdullah yang sudah dimakamkan selama kurang lebih tiga bulan tak sedikit pun ada perubahan. Kalau pun ada hanya sebuah koreng kecil pada ujung jempol kaki kanannya, bekas tusukan jarum mas. Juga tak ada bau busuk yang menebar. Malah yang terjadi sebaliknya. Bau wangi merebak kemana-mana. Sebelum dibawa ke puncak Gunung Tajam laki, jasad Syekh Abdullah dibungkus dengan kulit kayu kepang.
Namun, masalah baru kembali dihadapi Tu’ Kundo. mengingat jalan dari hulu sungai Air Batu Buding menuju puncak Gunung Tajam laki yang berjarak sekitar delapan kilometer, hanya jalan setapak, Tu’ Kundo dan pengikut Syekh Abdullah kesulitan untuk menemukan jalan menuju puncak dan menentukan tempat yang cocok untuk untuk pemakaman. Untuk itulah kemudian mereka menetapkan kucing kesayangan Syekh Abdullah sebagai penuntun menuju puncak.
Singkat cerita, dengan dibungkus kulit kayu kepang, Tu’ Kundo beserta pengikut lainnya dan masyarakat mengiringi kucing kesayangan Syekh Abdullah menuju puncak Gunung Tajam. Satu keajaiban kembali terjadi. Sepanjang perjalanan menuju puncak tak hentinya semerbak bau kembang setaman.
Keajaiban lain juga terjadi, sesampainya di satu tanah datar di puncak Gunung Tajam laki, kucing kesayangan Syekh Abdullah mati. Kematian kucing tersebut dianggap Tu’ Kundo sebagai syarat bahwa di tempat itulah jasad Syekh Abdullah harus di makamkan. Sesuai dengan amanah, di tempat itulah kemudian jasad Syekh Abdullah dimakamkan.
Saat menggali kuburan untuk Syekh Abdullah kembali keajaiban terjadi. Selama tujuh hari tujuh malam penggalian, silih berganti menebar bau wangi dan busuk. Hal itu membuat masyarkat yang ikut ke pemakaman tersebut pulang, hingga akhirnnya menyisakan tujuh murid Syekh Abdullah. Akhirnya, setelah penggalian kuburan selesai jasad Syekh dimakamkan, sementara di ujung kakinya dimakamkan kucing kesayangan beliau.
Karena dikuburkan di puncak Gunung Tajam, Sayid Hasan bin Abdullah atau Syekh Abubakar Abdullah kemudian hari dikenal sebagai Keramat Gunung Tajam atau Datuk Gunung Tajam. Kini, makam Keramat Gunung Tajam itu menjadi tempat ziarah, yang selalu ramai dikunjungi orang terutama umat Islam


Hikayat Padang Penyengat

Kisah ini bermula dari kedatangan Adipati Cakaningrat I ke Belitung,yang semulanya bermukim di daerah Balok (Balok Lama) pada akhir abad 16 awal abad 17,di riwayatkan sebagai keturunan langsung bupati Mataram yang pertama.Menurut riwayat seetempat,saat Cakaningrat pertama datang di belitung,telah ada sebuah wilayah “kerajaan” local,yaitu kerjaan Badau yang takluk pada majapahit.Kerjaan ini didirikan seseorang bangsawan berasal dari Gresik,yang kemudian di kenali sebagai “Datuk Mayang Gresik” dan menamakan diri “Kiai Ronggo Udo”.
Berbeda dengan Cakaningrat Datuk Mayang Gresik mendarat di sungai Berang,dan kemudian menempati daerah gunung badau,antara daerah Pelulusan dan Nyuruk sekarang ini,dimana terdapat makam raja badau.Raja terakhir dari generasi ini adalah Kiai Ronggo Udo.Sayangnya beliau tidak mempunyai keturunan laki-laki.Beliau hanya mempunyai anak gadis bernama Nyai Sitti (Dewi) Kesuma yang kemudian menjadi isitri raja balok pertama yaitu Kiai Rangga atau Adipati Cakaningrat I atau Kiai gede Jakub.
Pada suatu waktu terjadi perselisihan antara kerajaan balok dan kerajaan badau,tentang siapa membawahi siapa.Raja balok mengklaim bahwa raja badau harus berada di bawahnya.Namun Raja badau tidak menerima keadaan ini,karena merasa lebih dulu dating ke belitung,di buktikan dengan adanya umbul-umbul merah putih yang di bawah dari majapahit ketika datuk mayang gresik tiba di belitung.Bukti-bukti sejarah tersebut hingga kini masih tersimpan di Museum Badau.
Keberatan Raja badau itu,membuat raja balok tidak senang dan kurang puas terhadap raja badau.Hingga setiap kali ada pertamuan antara keduanya,selalu terjadi adu mulut walau belum menjurus kepada adu fisik.
Setelah kesalapahaman itu berlarut-larut suatu hari datanglah utusan dari raja balok ke kerajaan badau untuk menyampaikan ajakan adu kekuatan atau perang tanding di kerjaan balok.Oleh raja badau utusan ini utusan ini disuruh menyampaikan kepada raja balok,agar siap menerima kedatangan guna memenuhi tantangan tersebut.Namun sebelum pulang orang-orang raja badau terlebih dahulu menggunduli kepala utusan raja balok tersebut.
Setiba di balok,murkalah raja balok atas perlakuan kurang ajar terhadap anah buah nya itu.waktu itu membotaki seorang utusan adalah penghinaan besar bagi kubu yang mengurus.Hingga Taja balok makin bersemangat untuk segera perang tanding dengan raja badau.
Akhirnya.waktu perang tanding itupun tiba.raja balok sudah menyiapkan penyambutan besar-besaran bagi raja badau disuatu lapangan terbuka,tempat ia biasa melatih para pengawalnya berperang,yaitu padang penyengat.raja badau merasa sangat gembira ketika tiba di lapangan itu,karena merasa akan menang dalam pertandingan tersebut.Kegembiraan raja badau itu rupanya tercium oleh raja balok,yang ia sindirkan dengan kegembiraan terakhir sebagai orang yang akan takluk
Maka di mulailah perang tanding antara kedua pasukan kerajaan.Namun,kendati semua system perang dan pertandingan sudah di lakukan tak ada juga pihak yang menyatakan diri sebagi pemenang maupun merasa kalah.Pada pertandingan terakhir tibalah giliran raja balok dan raja badau untuk saling adu kemampuan.Karena korban yang jatuh sudah sangat banyak mereka sepakat untuk tidak melakukan duel fisik secaa terbuka yakini adu sepak takraw.
Sebagai tamu raja badau yang di beri kesempatan pertama dan berhasil menyepak raga hingga 10 meter.Ketika giliran raja balok tiba suasana menjadi sunyi senyap,hening.dan raja balok mampu menyepak raga hingga lebih ari 12 meter.
Melihat kenyataan bahwa dirinya kalah dari raja balok,raja badaupun bersumpah,”Mulai detik ini tujuh keturunan kita tidak boleh bersatu (kawin) kalau ini di langgar maka celaka lah semuanya.”
Sesuai peran tanding semua anggota pasukan menuju sebuah telaga untuk membersihkan senjata tajam masing-masing,saking banyaknya anggota pasukan yang mencuci senjata,seketika air telaga itu menjadi merah,hingga kemudian telaga itu di kenal dengan sebutan TELAGA DARA.
Akan sumpah raja badau,hingga keturunan ketujuh memang masih perlu di perdebatkan.Namun,di desa bantam ada seorang tua dari badau berkeluarga dengan orang balok dan sudah delapan anaknya meninggal dunia.Setiap kematiannya sama,satu kakak tidak pernah punya adik.jika adik lahir maka sang kakak akan meninggal dunia,dan begitu seterusnya.Apakah itu karena sumpah Raja Badau ? wallahualam Bissawab.







1 komentar: